
“Bener enggak mau lihat jenis kelaminnya?” tanya dokter pagi ini. Dinda dan Adit memang kontrol pagi hari, tak seperti biasa mereka datang sore. Kalau sore anak-anak sekarang rewel bila ditinggal Adit dan Dinda. Kalau pagi mereka tahunya ayah dan bundanya bekerja jadi tak merengek ikut.
“Tidak Dok, biar saja kali ini jadi surprise bagi kami,” jawab Dinda cepat.
“Kalaupun ini semuanya baby boy, kami akan menerima dengan senang hati Dok. Kami tak mau berharap banyak akan dapat perempuan,” kata Adit.
“Walau sejujurnya tentu kami berharap ada baby girl di antara anak-anak kami. Tetapi kalau memang ketentuan dari Allah kami hanya punya anak lelaki kami akan terima dengan lapang hati,” Dinda meneruskan kata-kata suaminya.
“Baiklah saya sudah melihat semuanya, tinggal Ibu menjaga kesehatan karena saya yakin tak sampai 2 bulan lagi mereka minta keluar karena tak cukup lagi ruang gerak mereka di dalam,” jelas Dokter sambil tersenyum. Dia lebih dulu kembali ke meja periksa meninggalkan Dinda dan Adit yang dibantu suster untuk turun dari ranjang periksa.
“Saya juga sudah mengurangi semua kegiatan saya. Saya ke kantor hanya satu minggu sekali,” kata Dinda ketika sudah duduk kembali.
“Benar Dok, istri saya sudah mengurangi semua kegiatan. Ke kantor hanya seminggu sekali dan mengantar anak juga sudah dikurangi karena dia tak bisa duduk lama di dalam kelas,” Adit menguatkan keterangan istrinya.
Memang sekarang yang menunggu di kelas hanya Adit dan 2 Mbok yang ikut sekolah. Satu mbok orang di rumah menemani Dinda.
Lalu mereka juga membahas program KB yang akan langsung diikuti pasangan itu sehabis melahirkan nanti.
Hari ini jadwal Dinda meeting dengan Five Little Star. Jadwal rutin pertemuan bulanan mereka. Ada 8 orang disana, selain ke 5 orang binaan, ada Adit juga Shindu selain Dinda tentunya. Hari ini mereka berkumpul di ruang Dinda yang kedap suara. Hanya ruangan Dinda dan Eddy yang kedap suara di kantor ini.
“Sepertinya ada bau-bau asmara ya sekarang?” goda Dinda sat pembahasan belum dimulai.
“Kok ibu tahu tanya Ilham yang menjabat sebagai kepala finance atau keuangan yang dulu dijabat Rizaldy.
“Walau kalian enggak cerita sama Ibu, tapi Ibu tahulah mata kalian itu enggak bisa bohong,” ujar Dinda sambil memperhatikan Ajeng dan Fahrul.
“Di kantor ini kalian tahu tak ada peraturan yang melarang untuk punya pacar atau pasangan resmi yang sama-sama bekerja dalam kantor ini. Seperti saya dan Pak Radite, tak ada larangan untuk kalian berpacaran atau menikah nantinya dengan sesama pegawai sini.”
“Larangannya hanya satu yaitu saling bersinergi untuk berbuat kejahatan. Mungkin saya harus ulas sedikit ini buat pelajaran kalian agar kalian bisa mengerti dengan jelas peraturan perusahaan.”
“Saat suami saya punya kesalahan, saya tidak ikut dalam kesalahan tersebut. Pak Eddy pun sebagai ayahnya menjatuhkan hukuman berat buat pak Adit. Dia tak peduli siapa pun bersalah akan diberi sangsi.”
“Jadi kalian pikirkan bila nanti pasangan kalian berbuat kesalahan pasangan kalian pasti langsung akan dapat sanksi. Entah di mutasi atau pun dipecat. Kalau dua-duanya dipecat kalian mikir enggak keluarga kalian makan apa? Anak-anak kalian siapa yang jaga?”
“Kalau kesalahan itu tidak menyangkut pasangannya, pasangannya tak akan mungkin diberi sanksi dari kantor. Paling hanya dapat sanksi sosial malu terhadap karyawan lain karena pasangan kita bersalah. Itu aja sih.”
“Saat Pak Radit bersalah, saya enggak kena sanksi kesalahan Pak Radite. Jadi kalau Pak Shindu salah ya pasangannya enggak kena bila tak terlibat. Anda tak terlibat tapi dia tahu dan tidak lapor pada kantor, secara hukum dia salah karena melindungi perbuatan salah,” kata Dinda lagi.
“Kalau begitu artinya salah dua-duanya, ya goodbye.”
“Buktinya Pak Usman, kepala gudang dia tidak terkena masalah saat Merrydian keponakannya bermasalah. Jadi sekali lagi saya tekankan kita di sini membuat sanksi hanya kepada pelaku. Keluarganya tidak ikut terseret.”
“Mungkin kalian tahu di luaran bagaimana saya malah mengangkat Puspa agar dia tidak terpuruk setelah Rizaldy hancur, karena saya merasa Puspa tidak salah. Dia hanya terkena imbas dari kelakuan Rizaldy dan saya melihat dua anak yang harus dia kasih makan.”
Semua juga tahu masalah Puspa yang dibantu oleh Dinda, diberikan pancing bukan ikan sehingga Puspa tidak mengemis kemana pun untuk memenuhi kebutuhan kedua anaknya. Bahkan sekarang Puspa sudah berdiri dengan tegak dengan kedua kakinya yang kokoh.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~