
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
“Mamas kenapa sayang?” malamnya Ghifari panas, tentu Dinda bingung karena anak ini tidak terlalu lelah atau dia juga tidak habis imunisasi atau tumbuh gigi. Biasanya Ghifari atau Ghibran demam itu bila mereka akan tumbuh gigi atau habis imunisasi. Selain itu mereka tak pernah sakit demam walau sedang pilek.
Ghifari juga tidur gelisah.
“Yahah, yayah, yayah,” begitu terus-menerus dia memanggil ayahnya.
Dinda tak kuasa menahan tangis. Ternyata apa yang Gifari lihat tadi di sekolah terbawa mimpi oleh anak tersebut.
Sambil terisak Dinda membuat rekaman lalu dia kirim menggunakan nomor sementara ke nomornya Eddy.
‘*Kasihan anak-anak jadi korban kelakuan ayah mereka*,’ begitu tulisan yang dibaca Eddy, Ghifari demam mencari ayahnya.
Eddy tentu saja menangis. Eddy tahu maksud tulisan Dinda karena kelakuan ayahnya, maksudnya karena Adit masih ‘main perempuan diluaran’ maka Dinda minta berpisah dan yang jadi korban adalah anak-anak mereka.
Eddy sudah berada di kamarnya ketika video dari Dinda itu masuk, nomor baru lagi karena setiap nomor yang digunakan oleh Dinda langsung tidak aktif dan tak akan pernah lagi dibuka oleh Dinda. Sehingga walau Eddy mengirim pesan untuk Dinda ke nomor itu tak akan pernah dibaca karena semua nomor langsung dipotong oleh Dinda. Setiap mengirim pesan Dinda selalu menggunakan nomor yang baru lagi.
Eddy memforward pesan itu untuk Adit. Sama seperti Eddy, Adit pun tak kuasa menahan air matanya melihat bagaimana Ghifari mencarinya sampai demam. Adit tahu itu demam karena ada plester intan penurun demam di dahinya Ghifari. Dan Dinda mengirim hanya satu video malam-malam begini pasti karena ingin mengabarkan hal penting.
“Maafkan ayah ya Nak karena kalian jadi terpaksa jauh dengan ayah. Ayah akan doakan kalian selalu sehat. Ayah bacakan doa dari sini ya,” kata Adit sambil terisak. Lalu dia mengambil Alquran dan mulai membacanya setelah berwudhu. Dia bacakan khusus buat anak-anaknya. Adit memang mengirimkannya buat kesehatan putra-putranya.
\*\*\*
Di Bekasi, Ghifari mulai tenang mungkin karena demamnya sudah berkurang akibat plester penurun panas atau bisa jadi karena doa yang ayahnya kirimkan. Dia mulai tidur dengan tenang. Tadi tidurnya gelisah. Setelah Ghifari mulai tenang, Dinda pun berbaring di sebelah kedua putranya dan mulai ikut tidur.
\*\*\*
Besoknya Adit kembali ke yayasan yang dipimpin Meliana tapi dia tidak turun karena takut harus berhadapan dengan Meliana lagi padahal tak ada keperluan apa pun. Adit sengaja melihat dari dalam mobilnya saja.
Tapi sampai jam 08.15 tak ada tak terlihat si kembar, maka Adit pun langsung kembali ke kantornya. Besok dia akan kembali lagi ke yayasan itu sampai hari Sabtu.
Nanti hari Senin, Adit akan pindah ke yayasan lainnya. Ini adalah yayasan keempat yang dia kunjungi bukannya yayasan besar tapi ini yayasan yang berbasic agama, alam dan seni musik. Jadi kemungkinan yang dipilih oleh Dinda adalah karena basic agama itu yang Adit pikirkan.
Adit yakin kalau untuk yayasan pendidikan dasar, pasti Dinda akan mencari yang berbasic agama. Terlebih di videonya juga terlihat sekolah yang Dinda pilih itu bukan sekolah yang internasional. Jadi untuk ke depannya Adit akan mencari yayasan berbasic agama terlebih dahulu, baru cari yayasan lainnya.
Tentu saja hari ini Ait tidak akan melihat si kembar karena memang jadwal si kembar libur, bukan karena semalam di Ghifari sakit, tapi karena libur.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK yok