
‘Besok pagi kita diskusi group ya,’ begitu japri dari Dinda pada Velove, Puspa. Wika. Santi. Ratih dan Ajeng minus Sondang tentunya.
‘Jam berapa Bu?' begitu mereka masing-masing menjawab. Dinda memang belum membentuk grup karena di grup EMAK REMPONG ALKAVTA ada Sondang sebagai anggotanya sehingga besok mereka akan bentuk grup baru.
‘Jam 09.30 lah biar sudah pada santai dan saya sudah di kantor,’ tulis Dinda.
‘Besok saya bentuk grup baru dengan nama DARURAT untuk mengatasi masalah Sondang sehingga tidak ada Sondang di grup kita itu,’ tulis Dinda lagi, dia mengirim chat malam sehabis dia dari pulang dari rumah sakit.
‘Baik Bu, saya tunggu. Saya akan pasang alarm agar tidak lupa,’ kata Ratih.
‘Iya pokoknya semua harus berbagi pendapat,’ balas Dinda.
“Intinya adalah Gultom bu-nuh diri, mencoba bu-nuh diri maksud saya karena dia sudah tak ada harapan untuk rujuk dengan Sondang. Bukan karena Sondang yang keras, tetapi karena anak-anaknya sudah terluka. Anak-anaknya yang tidak mau lagi mempunyai Gultom sebagai seorang papa. Bahkan Tarida dan Icha mengganti nomor telepon mereka agar Gultom tak bisa menghubungi. Itu saja intinya,” kata Dinda dia tak mau menceritakan permasalahan detail karena tidak etis. Tentu kali ini bukan dengan chat mereka ngobrol langsung dengan videocall.
“Saya ingin minta pendapat kalian satu persatu. Bagaimana caranya kita membuka pikiran anak-anak agar bisa memaafkan papanya. Karena ini kesalahan yang memang tidak bisa dimaafkan oleh seorang istri, apalagi seorang anak. Tapi Sondang juga tak mau anak-anaknya menjadi anak yang durhaka dan tidak berbakti pada papanya. Terlebih saat ini Gultom sedang kritis. Dokter juga bingung sudah 50 jam lebih dia tetap tidak sadar. Kemungkinan faktornya adalah dia memang sudah tidak ingin sadar.”
“Mungkin kalau anaknya bicara di telinganya bahwa mereka ingin papanya sadar, pak Gultom akan sadar Bu,” kata Puspa.
“Ya mungkin anak-anaknya suruh bilang mengharap papanya sadar, bukan ngomong memaafkan Bu. Mungkin kalau untuk memaafkan anak-anaknya masih keberatan Bu,” kata Ajeng.
“Jangankan untuk datang dan bicara di telinganya Gultom. Ingin tahu tentang Gultom saja mereka tidak mau,” kata Dinda.
“Boleh! Saya sudah bilang sama Sondang, kita minta izin untuk bicara anak-anaknya,” kata Dinda.
“Saya korban dari ayah saya yang mendua Bu. Saya bisa bicara dengan mereka dari hati ke hati,” kata Wika.
“Wah boleh itu kalau kamu bisa membuat mereka sedikit luluh untuk membisikkan papa mereka agar sadar saja. Mungkin tidak perlu membisikkan mereka memaafkan sang papa,” kata Santi.
“Oke saya akan minta waktu pada Bu Sondang kapan saya bisa bertemu anak-anak,” jawab Wika.
“Kita atur saja agar mereka ada di suatu tempat dan kamu datang lalu ngobrol hart to hart, jangan kamu datangi mereka,” kata Velove.
“Ya kita harus atur drama dulu, skenarionya seperti apa. Agar bisa ngobrol santai bersama keduanya terutama Tarida karena yang terluka Tarida tapi reaksi Icha lebih keras. Cuma Tarida itu lebih sensitif.”
Akhirnya tim darurat mengatur waktu agar bisa bertemu dengan Tarida dan Theresia. Mereka benar-benar ingin menolong agar kedua putrinya Sondang bisa sedikit lunak.
“Oke untuk tahap awal itu dulu. Tahap berikutnya saya juga ingin mengajak mereka ke panti asuhan,” kata Dinda.
“Tempat di mana banyak anak-anak tak punya orang tua. Mungkin itu juga akan membuka mata hati mereka agar sedikit lunak walau tidak bisa instan. Tapi setidaknya ada celah sedikit untuk membuat mereka bisa datang ke rumah sakit,” kata Dinda.
Mereka pun juga mengatur waktu agar bisa ke panti asuhan sama-sama sehingga tidak seperti sedang ingin menggiring Tarida dan Theresia saja, tapi juga dengan yang lainnya. Yang ikut terlibat hanya anaknya Velove yang sudah besar dan anaknya Dinda. Yang lain anaknya masih kecil-kecil sehingga malah merepotkan kalau dibawa kunjungan ke panti asuhan.