GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
JANGAN EMOSIONAL



“Lho Papa sama Mama kok tumben datang malam-malam?” tanya Santi. Ternyata yang tadi mengetuk pintu adalah kedua orang tua Ajat. Tadi mereka sudah dapat pesan dari besannya jangan membahas apa pun soal kedatangan Farouq.


“Papa sama Mama barusan kondangan, kami langsung ke sini karena ngelewatin rumah sakit ini. Tadi kami ganti di toilet depan sebelum masuk ke sini karena tadi kami masih pakai kebaya dan jas,” kata papanya Ajat.


“Oh begitu, kirain kenapa,” ujar Santi.


“Ini kami bawakan kesukaanmu,” papanya Ajat membawa martabak telur untuk menantunya. Mereka pun ngemil bersama.


“Ibu kami cek dulu ya sebentar sebelum tidur,” kata seorang dokter yang baru datang bersama dua orang perawat.


“Biasanya habis magrib dapat suntikan ya Bu?” kata dokter tersebut.


“Iya Dok, biasanya habis magrib di suntik. Tadi juga sudah dapat,” kata Santi.


“Kita cek tensinya ya,” Dokter meminta perawat mengecek tensi Santi.


Pada saat sedang di tensi itu pintu kembali terbuka. Santi kaget melihat Ajat masuk bersama dengan Farouq dalam gendongannya dia tak percaya.


“Adik!” teriak Santi.


“Ibu pelan ya. Ibu nggak boleh emosi. Ibu sedang hamil. Ingat ya. Saya tahu Ibu bahagia putranya sudah ketemu, tapi ingat yang di dalam rahim harus di jaga. Jadi Ibu nggak boleh terlalu bahagia atau terlalu sedih,” kata dokter tersebut.


Ajat mendekati Santi dan membawa Farouq yang juga sudah mulai tertidur. Dia membaringkan Farouq di sisi Santi yang langsung memeluk dan menciumnya.


Santi menangis tersedu melihat bagaimana kondisi  Farouq yang sangat kurus serta terlihat seperti kurang makan.


“Ibu pelan, ingat Ibu nggak boleh terlalu emosional,” kata dokter lagi. Rupanya tadi Ajat memang menunggu dokter tersebut masuk. Dia langsung melaporkan pada dokter soal kedatangan Farouq. Jadi tidak hanya suster yang akan mengantarkan Farouq saja.


“Ibu ini putranya harus diinfus. Tadi mau saya infus sama Bapak nggak boleh. Takutnya sang putra teriak-teriak. Bapak bilang kalau dalam gendongan Ibu dia pasti akan tenang. Jadi sekarang Ibu peluk dia kami infus ya dan Ibu jangan gendong,” kata suster.


“Baik Suster. Saya tahu, saya akan peluk anak saya,” kata Santi sambil terus menangis.


“Adek, ini Mami Nak. Ini Mami,” kata Santi. Rupanya obat yang diberikan dokter sudah bekerja pada Farouq. Sehingga dia tidak bangun.


“Permisi ya Bu. Kita cek lagi besok ya. Dan ingat, Ibu tidak boleh terlalu emosional,” kata dokter lagi.


“Iya Dok, saya mengerti,” jawab Santi.


“Jadi Papa sama Mama sudah tahu ya kalau adik sudah pulang,” Santi curiga pada kedua mertua serta orang tuan kandungnya.


“Ibu sama Ayah juga sudah tahu kan?” kata Santi lagi.


“Ketemu di mana Pi? tanya Santi.


“Ada yang minta tebusan?”


“Satu-satu ya Mi, Papi akan jawab,” kata Ajat.


“Adik itu dianterin oleh orang namanya pak Halimi. Dia nemuin adik itu duduk lemas di bersandar di ban mobilnya yang sedang parkir. Pak Halimi sudah lapor satpam soal dia nemukan Ade. Saat ditanya Ade sama sekali enggak bicara apa pun Mi. Ade hanya diam.”


“Di tangan Ade ada kertas bertuliskan alamat rumah kita. Nggak ada nama atau apa pun. Kertasnya itu sudah di masukkan plastik oleh pak Halimi agar sidik jarinya tidak bertambah dengan sidik jari orang lain, selain sidik jari adik, sidik jari Pak Halimi dan sidik jari penulisnya.”


“Pak Halimi juga sudah meninggalkan fotocopy identitas kepada satpam tempat dia menemukan adik tadi. Dia juga sudah kasih fotokopi KTP sama nomor teleponnya di rumah.”


“Bibi telepon ke Papi itulah yang tadi magrib-magrib Mi. Papi bicara langsung dengan pak Halimi. Kalau Papi waktu itu langsung bilang Mami pasti Mami histeris ingin jemput adik. Jadi kita memang sengaja tahan info ini dari Mami agar bayi dan Mami aman.”


“Akhirnya yang bawa Ade adalah ayah sama ibu karena mereka duluan datang. Papa sama mama belakangan. Mereka sampai sini Papi dan Ade sudah di ruang dokter tunggu dia selesai praktik. Karena kalau tidak ada dokter di sini saat Mami lihat Ade, kami takut ada hal fatal yang terjadi.”


Ajat menyudahi ceritanya. Dia lihat Santi masih tak henti menciumi putra mereka.


“Dan sepertinya adik nggak makan selama 5 hari ini. Mungkin makan hanya sesuap-sesuap,” kata ibunya Santi.


“Adik memang tidak mau makan dengan siapa pun yang dia enggak kenal,” kata Santi.


“Tadi sebelum tidur Papi sudah kasih dia makan roti marie 5 lembar. Baru itu yang bisa masuk. Susunya juga hanya habis sedikit,” kata Ajat.