GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
DIBERI CUTI KHUSUS



Besok paginya Tarida langsung memaki-maki papanya. Dia bilang dia takkan pernah mau lagi bertemu papanya dan papanya suruh menasehati perempuan bodoh itu, tak perlu lagi bicara apa pun pada  Tarida. Tarida juga langsung mengganti nomor ponselnya dan ponsel Icha. Dia tak mau lagi berhubungan apa pun dengan Gultom.”


“Gultom langsung menghubungi inang. Dia tanya mengapa Tarida bisa seperti itu, lalu inang cerita Niken menegur Tarida dan Tarida marah di mall.”


“Anak-anak saya terluka Bu. Mereka tak mau lagi mendengar papanya. Bahkan kemarin saat saya bilang papanya kritis, mereka tak ada rasa ingin melihat. Saya bingung kejepit Bu. Saya tentu tidak memaafkan Gultom tapi kalau anak-anak saya seperti itu, adalah kesalahan besar. Jiwa mereka yang suci harus menjadi kelam dan kotor dengan dendam pada ayah mereka dan juga perempuan-perempuan bodoh yang mau menjadi istri kedua.” ucap Sondang terluka karena anaknya harus menderita.


“Karena putus asa, sejak bercerai Gultom tak bisa saya maafkan dan saya loloskan permintaan rujuknya. Malah sekarang ditambah tekanan Tarida. Akhirnya kemarin pagi itu Gultom mencoba bu-nuh diri,” kata Sondang.


“Jadi sekarang dia kritis karena percobaan bu-nuh diri?” tanya Dinda.


“Ya Bu. Dia minum obat di kantornya setiba di kantor pagi itu. Dia berangkat dengan membawa luka anaknya tak mau lagi mempunyai papa seperti dirinya.”


“Speechless!” kata Dinda.


“Saya juga tak mengerti apa yang hendak saya kerjakan untuk membantu traumanya Tarida dan Theresia. Seperti Anda bilang tadi, sangat fatal jiwa mereka sudah menjadi kelam. Benci terhadap papanya dan perempuan-perempuan tak bermoral dan tak berotak di luaran sana. Apa pun alasannya perempuan yang mau menjadi istri kedua terlebih tahu dan sadar dia menjadi simpanan itu adalah perempuan tak bermoral. Apa pun alasannya,” jawab Dinda.


“Sekarang yang jadi masalah bagaimana agar anak-anak mau memaafkan papa mereka. Itu yang jadi tugas kita,” jelas Dinda.


“Oke nanti saya pikirkan bagaimana langkah yang harus saya ambil. Saya minta kalau saya ingin bertemu dengan anak-anak dan membawa mereka ke suatu tempat kamu mengizinkan untuk membuka mereka agar mereka sadar mereka masih beruntung punya papa, walaupun papa mereka salah.”


“Iya Bu. Saya ingin anak-anak terlepas dari trauma keburukan sikap papanya.”


“Habiskan dulu teh jahe mu itu agar kamu hangat,” perintah Dinda.


“Dan kalau bisa kamu jaga di rumah sakit setiap siang. Kamu berangkat kerja seperti biasa tapi tidak ke kantor. Kamu langsung ke rumah sakit dan nanti kamu pulang kerja langsung ke rumah. Saya kasih kamu cuti selama Gultom dirawat.”


“Biarkan pagi inang pulang, biar dia istirahat di rumah sampai sore jam pulang kerja. Inang nanti tidur malam nggak papa di sini. Jangan dia 24 jam di rumah sakit. Bikin dia stres dan badannya sakit,” kata Dinda selanjutnya.


“Sebenarnya kalau inang mau tidak perlu menunggu di rumah sakit. Kamu bisa cari perawat atau penjaga malam invaler. Tapi saya yakin inang tidak mau. Jadi sementara biarkan saja inang datang sore hari saat kamu mau pulang. Jadi kamu aplusan sama inang. Saya kasih kamu cuti agar jangan bikin inang jadi sakit. Saya marah kalau kamu tidak menjalankan ini. Saya akan bilang sama inang setiap pagi dia harus pulang dan tak perlu menunggu kamu datang. Inang harus pulang lebih dulu. Begitu pun sore kamu pulang jam pulang kerja dan inang datang saat jam segitu tanpa perlu saling bertemu, tak apa.” kata Dinda memberi solusi agar inang tidak sakit.