
Semakin mendekati ruang rawat, Tarida dan Teresa semakin deg-degan siap tidak siap mereka harus siap. Padahal mereka ketakutan juga sih. Ketakutan kalau memang Gultom pendek usianya. Ketakutan harus merasa menyesal seumur hidup, tapi kebencian mereka tetap tak bisa sirna begitu saja.
“Nah ini kamarnya. Ayo kita masuk saja,” ajak Sondang.
“Apa kedua tante itu tahu papa di rawat di sini?” tanya Tarida sebelum dia masuk.
“Mama nggak tahu. Mama nggak punya nomor mereka dan tidak akan menghubungi mereka. Mungkin opung kasih tahu, tapi nggak tahu juga opung akan ngabarin mereka atau enggak. Karena opung juga tak suka pada mereka. Memangnya kenapa?” tanya Sondang lembut.
“Kalau mereka pernah ke sini, untuk selanjutnya aku tidak akan pernah ke sini lagi,” kata Tarida tegas.
“Ya hanya satu kali ini kami ke sini kalau memang kedua Tante itu datang ke sini,” jawab Icha.
Sondang masih merasakan kebencian di nada suara kedua putrinya Dia mengerti hal itu. Dia belum tahu apa motivasi kedua putrinya mau datang menengok Gultom. Tapi setidaknya itu sudah kemajuan berkat hasil kerja kerasnya Wika. Sondang bertekad akan menghubungi opung dan memberitahu agar kedua mantan istri Gultom jangan pernah diberitahu agar jiwa anak-anaknya tak tambah terluka.
Sondang membuka pintu perlahan, dia melihat ada seorang suster yang sedang menggantikan infus. Pasti cairan infusnya habis.
“Wah tumben Bu, sama anak-anak,” suster basa basi ketika melihat Sondang masuk.
“Ya kan karena hari libur, jadi anak-anak bisa ikut,” jawab Sondang.
“Kalian silakan duduk di situ. Mama mau taruh es krimnya ke kulkas,” kata Sondang.
Tarida dan Theresia masuk ke ruangan. Mereka melihat papa mereka terbaring di brankar, ada alat pernapasan di hidungnya, juga infus terpasang ditangan kirinya.
“Mari ibu saya permisi,” kata suster tersebut pada Sondang.
“Terima kasih Suster,” jawab Sondang ramah.
“Pa aku tahu Papa bisa dengar aku. ini Icha, aku berharap Papa cepat sadar. Aku berharap Papa cepat pulih,” kata Icha. Lalu dia cepat kembali ke tempat duduk. Dia tak mau lama-lama sehingga bisa membuat dia menangis. Dia tak mau menunjukkan kelemahannya.
Tarida masih bergeming. Dia tak mau menghampiri papanya. Sejak tadi dia hanya memandang dari jauh.
Sondang tetap tak mau berkomentar, soalnya setahu Sondang versi anak-anak hanya ingin tahu bagaimana ruang rawat papanya. Bukan ingin menengok papanya. Karena itu Sondang juga tidak menyuruh Tarida mendekati Gultom. Sondang hanya akan mengamati saja.
Tarida membuka cemilannya dia sudah menyalakan laptop. Sondang memang membolehkan menonton YouTube kids di laptop. Rida langsung mencari tontonan yang kemarin belum selesai dia tonton. Dia menonton sambil menikmati snacknya.
Tapi kalau ada yang memperhatikan, sesekali Tarida masih mencuri pandang terhadap sosok papanya.
“Kalian mau ini?” tanya Sondang memperlihatkan semangkuk ice cream di tangannya. Dia menaruh satu lembar roti tawar di mangkok lalu dia isi dengan es krim dan ditutup lagi dengan satu lembar roti tawar. Tentu tak akan berantakan makan ice cream seperti itu karena diletakkan di mangkok.
“Wah Mama cerdas. Enak tuh Ma,” kata Icha dengan pandangan tertarik.
“Iya kalian bikin saja sendiri,” jawab Sondang.
Icha pun segera mengikuti apa yang dibuat oleh Sondang tentu dengan jumlah es krim lebih banyak. Rotinya tetap hanya di bawah dan atas es krim seperti yang Sondang buat.
Tarida akhirnya pun ikut tapi sebelum dia mengarah ke kulkas dan meja tempat penyimpanan makanan untuk mengambil mangkok dan roti, dia mendekat dulu ke brankar tempat papanya terbaring.
Halo Pa ini eda. Semoga saja Papa masih bisa dengar apa yang aku bilang. Aku cuma pengen Papa tahu kalau aku tetap benci Papa apa pun yang terjadi. Aku benci Papa!” ucap Tarida.
“Tapi aku berharap Papa bisa sadar dan bisa pulih lagi,” setelah itu Tarida langsung berlalu. Dia mulai membuat es krim seperti mama dan adiknya.
Walau Tarida mengucapkannya sambil berbisik, tapi Sondang mendengar semua itu, dan dia tak percaya sebegitu benci Tarida terhadap sang papa. Tentu ada luka di hati Sondang. Sebagai seorang ibu dia sedih anaknya terluka hatinya oleh ulah Gultom.