
“Sebenarnya Papi ke sini tuh, mau ngomong sama Mami. Maaf kalau ini terlambat,” kata Ajat, saat menunggu makanan yang mereka pesan datang.
“Kenapa Papi terlambat ungkapkan kalau memang itu penting? Harusnya langsung bilang dong Pi. Apa Papi nggak percaya sama Mami?” tanya Santi walau belum tahu topik apa yang akan dibicarakan oleh suaminya.
“Bukan nggak percaya kamu Honey. Papi itu hanya berpikir kesehatan kamu saat ini. Kamu sedang mengandung. Itu aja. Tapi tadi Papi sudah diskusi dengan para bapak dan mereka menyarankan lebih baik kamu tahu dari Papi lebih dulu. Maafin Papi ya kalau Papi harus menunda ini.” Ajat menjeda kalimatnya.
“Serius seperti yang tadi Papi bilang, Papi cuma berpikir kesehatan kandungan kamu. Kesehatan kejiwaan kamu selama hamil. Tak ada pikiran tidak percaya sama sekali. Bagaimana mungkin papi enggak percaya pada seorang ibu yang mau makan lebih mendahulukan ngasih tahu anak-anak sambungnya di rumah diberi makan karena dia akan pulang telat. Nggak mungkin Papi tidak percaya pada perempuan seperti itu,” kata Ajat.
“Ya sudah, Papi mau bilang apa?” tanya Santi lembut mengusap punggung telapak tangan suaminya di meja.
“Empat hari lalu bundanya Farouq datang ke kantor,” jawab Ajat lirih. Dia takut hal ini mengguncang emosi istrinya.
“Terus?” timpal Santi santai. Tak ada ketakutan dalam nada suara calon ibu itu.
“Dia mau ambil Farouq,” jawab Ajat sambil menatap mata Santi.
“Mami tahu kan, Farouq dulu itu PEMBAWA SIAL buat Papi. Itu prinsip Papi dulu. Karena gara-gara dia ada di perut ibunya, Papi ke paksa nikahin ibunya! Tapi begitu ada seorang perempuan yang mau adopsi dia dengan sepenuh hati, Papi baru sadar Farouq itu adalah berkah dan Papi sangat menyayangi dia sama seperti tapi menyayangi Mischa anak yang juga Papi anggap membawa sial buat Papi.” Ajat sedih mengingat bagaimana pandangannya pada kedua anaknya dulu.
“Dulu keduanya memang Papi anggap pembawa sial, Papi sadari itu keliru setelah ada Mami. Kalau sekarang Papi harus serahin Farouq atau Mischa tentu tak akan pernah bisa Papi lakukan. Mereka adalah segalanya. Mereka adalah permata kita. Bukan permata Papi tapi permata kita,” jelas Ajat.
“Papi pasti tidak akan memberikan mereka pada siapa pun termasuk ibu kandung mereka. Tapi kalau Mami memang nggak mau rawat dan nyuruh diberikan ya Papi mau bilang apa?” balas Ajat.
“Mami nggak nyuruh Papi menyerahkan anak-anak pada siapa pun. Tidak! Mami menyuruh para ibunya datang dan ambil anak-anak kalau anak-anak mau. Jangan dipaksa! Dengan catatan kalau anak-anak mau, silakan.” kata Santi,
“Kalau anak-anak mau ikut ibu kandung mereka, artinya anak-anak nggak nyaman sama Mami. Itu aja. Kita mau bilang apa kalau anak-anak nggak nyaman sama kita?” tanya Santi.
“Mami yakin, sangat sangat sangat yakin, anak-anak nggak akan pernah berpaling dari kita berdua. Terlebih dari Mami. Mereka tahu dari siapa mereka awal mengenal cinta kasih. Jadi tenang aja. Papi nggak perlu takut. Kenapa Papi ragu mengatakan? Kan dari dulu Mami sudah bilang silakan ambil kalau anak-anak mau. Dan kita punya kekuatan hukum. Tinggal kita bilang ke pengacara.” Santi tak gentar sama sekali.
“Kalau para ibu itu macam-macam dan bikin jiwa anak-anak terguncang kita ajukan somasi biar mereka ditahan, karena sudah meninggalkan anak di bawah 1 tahun atau di bawah 5 tahun untuk pergi. Sekarang mau ambil begitu aja. Nggak perlu takut dan Papi harusnya nggak perlu takut Mami keguncang, karena Mami sudah siap sejak awal. Mami sudah siap!”