
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Hari ini Dinda memutuskan untuk pindah kembali ke rumahnya Eddy. Sejak dua hari lalu Dinda dibantu Adit sehabis pulang kerja mulai packing barang-barang anak-anak juga bajunya Dinda. Semua alat tidak ada yang dibawa kecuali pakaian Dinda dan anak-anak saja karena ruko itu tetap akan dipakai oleh Dinda kalau sesekali dia datang atau oleh pegawainya yang lain.
Untuk tempat tinggal di ruko kamar yang ditempati oleh Adinda itu yang dikunci. Ada beberapa barang yang dimasukkan di ke sana.
Kamar yang satunya dibiarkan akan digunakan oleh siapa pun yang nanti diatur oleh Bu Tari. Dua kasur besar yang digelar di lantai ruang tengah tempat anak-anak biasa tidur siang juga tak dibenahi oleh Dinda. Itu bisa digunakan oleh pegawai grosir.
Yang dibawa pulang adalah alat-alat anak-anak seperti pagar mainan saja. Stroller dan high chair dijual lagi sebagai baran second. Dinda hanya butuh pick up kecil, tidak butuh truk untuk membawa itu semua.
Pagi tadi Eddy sudah datang bersama Mbok Marni dan Mbok Asih serta pak Pujo dan pak Suyono. Mereka dibawa oleh Eddy untuk membantu packing. Padahal semua sudah beres. Tinggal membawa turun saja.
“Pa, anak-anak bawa pulang duluan enggak apa-apa Pa. Ini barang sudah turun semua tinggal barang-barang aku aja sedikit. Aku tinggal berurusan dengan manajemen. Biar aku nanti pulang dengan Mas Adit. Papa pakai mobil aku aja yang ada car seatnya. Tapi tetap bersama Mbok Marni dan Mbok Asih,” kata Dinda.
Tentu saja Eddy senang boleh membawa 2 cucunya lebih dulu ke rumahnya.
Pak Suyono bawa mobil pulang mobil Eddy dan Pak Pujo yang bawa mobilnya Dinda. Eddy memilih pak Pujo karena tidak merokok. Bila membawa cucunya walau sopir tidak merokok tentu ada aroma rokok melekat di baju.
Tadi Pak Suyono dan Pak Pujo yang membawa turun barang-barang bersama beberapa pegawai grosirnya Dinda.
Sekarang tinggal mereka berdua ada di atas yaitu Dinda dan Adit. Dinda sengaja ingin bicara dulu sebelum mereka tiba di rumah Eddy.
“Mas tahu itu yang ingin kamu lakukan, makanya kamu menyuruh mereka berangkat lebih dulu. Enggak mungkin kamu menyuruh mereka kalau enggak ada niat bicara,” kata Adit. Lelaki itu sudah curiga sejak awal Dinda minta Eddy membawa anak-anak pulang lebih dulu. Bahkan Eddy pun bingung sampai bertukar pandang dengan Adit. Dan Adit hanya mengangkat pundak seakan menjawab pandang tanya dari Eddy.
“Ini tentang hubungan kita Mas,” jawab Dinda serius.
“Enggak mungkin kita tinggal di rumah papa tapi status kita gantung seperti ini. Enggak mungkin kita satu kamar kita bukan muhrim,” kata Dinda. Dia memang harus membicarakan semua ini sebelum mereka tiba di rumah Eddy. Semua harus dibicarakan sebelum mereka bersitegang di rumah Eddy nanti.
“Ya enggak apa apa. Mas ngerti. Mas bisa kok tidur di kamar anak-anak. Enggak masalah,” jawab Adit. Dia tidak mau berharap banyak
“Tapi kalau kamu mau, kita bisa nikah ulang. Aku janji tidak akan pernah lagi merahasiakan sesuatu pun dari kamu agar kamu tidak curiga. Kemarin semua itu terjadi karena kamu tidak sabar dan aku berpikir takut kamu terluka bila aku cerita. Jadi kemarin itu misscomunikasi yang membuat kamu cepat memutuskan mengajukan cerai.”
“Andai kamu membolehkan Mas bicara dulu sebelum kamu gugat cerai, Mas akan jelaskan kalau Mas tak ada pernah maksud dengan Merrydian.”
“Saat itu Mas hanya takut kamu terluka. Mas ingat kamu masih baby blues, kamu cepat terpancing emosi, kamu tertekan itu yang membuat Mas menahan bercerita. Bukan karena Mas senang dengan kelakuan itu, bukan! Sama sekali bukan!” Adit berkali-kali menekankan kata BUKAN. Karena dia sama sekali tak ingin Dinda tetap salah paham.
“Iya itu kesalahanku, aku terlalu emosi. Mungkin benar saat itu aku masih baby blues karena aku baru sadar dari, sehingga walau pun sudah beberapa bulan melahirkan tetap perasaan itu masih ada. Aku juga minta maaf karena kecerobohanku sehingga langsung mengajukan cerai.
“Beberapa kali aku berpikir mungkin bisa memberimu satu kali kesempatan, tapi aku takut gagal.” kata Dinda
Adit terdiam mendengar ketakutan yang Dinda alami. Dia harus berpikir keras untuk meyakinkan Dinda agar mau kembali rujuk dengannya.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY yok