
Sondang mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dia beradaptasi di rumah yaitu harus menyiapkan anak-anaknya lebih dulu, mengantar mereka sekolah, baru berangkat kerja. Sudah sejak minggu lalu Sondang mendaftarkan kedua anaknya dengan mobil jemputan sekolah. Jadi nanti pulangnya mereka akan diantar oleh mobil jemputan sekolah, karena Sondang tidak ingin mertuanya yang menjemput kedua putrinya dengan motor. Walau mertuanya bilang biar dia saja yang jemput mereka. Tentu saja Sondang tak enak orang tua dibiarkan menjemput putri-putrinya.
Sondang juga mulai mendaftarkan gugatan cerainya di pengadilan agama. Dia tidak didampingi pengacara. Dia akan mengurus sendiri. Memang jadi lebih murah walaupun dia harus tetap bolak-balik ke pengadilan agama. Yang penting dia mengurangi budget guna membayar pengacara.
Karena tidak tahu alamat Gultom yang sekarang maka Sondang mengirim pemberitahuan via email. Sondang juga mengirim pesan di WA bahwa ada kiriman email pengajuan gugatan cerai dari dia.
Dari ketiga istrinya Gultom memang baru menerima panggilan cerai yang diajukan Niken karena Niken mengajukan lewat pengacara sehingga dia paling cepat. Dan ini baru dia baca pemberitahuan melalui WA dari Sondang. Rupanya Cilla belum mengajukan gugatan.
Gultom tak peduli. Dia saat ini sedang wawancara untuk bekerja di kantor baru. Gultom sudah tak ingin lagi memberi kepuasan batin pada dirinya yaitu menaklukkan perempuan. Sekarang targetnya adalah menaklukkan hati Sondang. Perempuan yang sudah dia sakiti dengan bermain dengan 3 perempuan lain termasuk Pratiwi tentunya.
‘Tolong berpikir ulang lah Ma, kita punya dua anak. Papa nggak ingin mereka kehilangan kasih sayang Papa. Memang selama ini Papa salah. Tapi mohon maafkan. Demi anak-anak kita,’ itu jawaban Gultom saat menerima pesan dari Sondang.
‘Belum lagi anak yang dikandung Niken! Belum lahir aja dia sudah nggak kenal papanya kalau sampai Niken gugat cerai. Ke mana pikiranmu saat itu? Sorry apa pun yang terjadi kamu sudah tak ada hak buat bilang kamu sayang anak-anak. Karena kamu sudah menoreh luka di hati mereka.’ tulis Sondang
‘Orang bilang tidak boleh memberitahu keburukan papanya terhadap anak-anak. Tapi aku tidak! Aku akan memberitahu mengapa kita bercerai karena kamu punya 3 perempuan lain. Aku tidak ingin anak-anak aku menerima karma perbuatanmu. Aku akan latih mereka bela diri. Bila suaminya macam-macam mereka pasti akan gebrak. Tidak seperti aku yang lemah. Tidak tahu bahwa sudah 3 tahun di sisihkan oleh suami yang aku pikir cinta sama aku.’
‘Maaf jalan aku masih panjang. Banyak lelaki yang antri. Saat masih menjadi istri kamu pun banyak kok yang jatuh cinta. Cuma aku nggak pernah berpikir bahwa aku akan berpaling. Ternyata aku sudah dipunggungi oleh kamu. Jadi sehabis kita terima keputusan cerai aku bebas menentukan arah.’
Gultom kaget membaca pesan dari Sondang. Dia tahu kalau bagaimana pun Sondang memang masih teramat cantik untuk ukuran perempuan matang dengan dua anak.
Terlebih, Gultom tahu Sondang sudah jadi seorang pegawai. Tentu penampilannya tidak seperti biasa dia hanya mengantar ke sekolah. Sekarang pakaiannya sudah menjadi modis sesuai dengan kebutuhan dia bekerja.