GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TIDAK SARAPAN



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Bunda kenapa?” tanya Adit. Hari ini tumben istrinya bangun siang, sudah adzan subuh Dinda belum bangun. Biasanya Dinda bangun sebelum adzan subuh.



“Pusing Mas. Aku tidur dulu sebentar ya,” pinta Dinda.



“Salat dulu lalu tidur lagi ya,” bujuk  Adit.



“Nanti kamu enggak usah ngantar sekolah, biar dua simbok sama aku aja yang antar,” Adit tak mungkin hanya dengan satu mbok. Kalau dengan Dinda anak-anak bisa dengar perintah orang tuanya. Tapi kalau hanya dengan mbok tentu anak-anak tidak seperti bila dengan dia dan Dinda.



Dinda pun memaksakan diri untuk salat dan seperti saran Adit tadi dia segera tidur kembali setelah selesai menjalankan kewajibananya. Dia tidak mengurus ketiga anaknya seperti biasa.



“Adit langsung menyuruh tiga pembantunya untuk mengurus 3 anaknya. Adit yang membereskan bekal makan mereka. Biasanya semua dikerjakan Dinda.



“Tolong ya dua orang ikut saya, temani saya ke sekolah,” pinta Adit. Adit menyuruh tidak menyebut nama mbok mana yang akan ikut. Dia persilakan 3 orang itu mengatur waktu sendiri, siapa 2 orang yang akan berangkat menemaninya.



Ternyata Bu Siti dan Mbok Marni yang berangkat bersamanya.



“Memang Bu Dinda kenapa?” tanya Bu Asih.



“Bu Asih tolong temani aja, dia tadi pusing takutnya kenapa-kenapa. Kalau ada apa-apa nomor dari telepon rumah langsung pencet nomor 2 punya saya,” kata Adit.



“Iya Pak Adit saya ngerti,” jawab Bu Asih.



Selama dia ikut dengan Adit, Asih tahu Dinda tak pernah malas dan mengabaikan tugas sebagai seorang ibu. Baru kali ini Dinda tidak menyiapkan makan dan bekal anak-anak. Biasanya memang pagi yang mandikan anak-anak adalah Adit itu sejak anak-anak pertama mereka lahir.



“Bu Dinda butuh apa?” tanya Asih saat melihat Dinda keluar kamar. Tentu saja Asih tak berani masuk ke kamarnya Dinda bila tak dipanggil.



“Kenapa Ibu enggak ngebel aja panggil saya untuk ke kamar?” kata Asih melihat wajah Dinda yang pucat. Di kamarnya Eddy dan Dinda ada bel untuk memanggil pegawai di dapur.



“Enggak apa apa Mbok Asih. Saya hanya butuh teh panas tanpa gula boleh?” pinta Dinda sambil duduk di kursi meja makan.



“Pakai madu ya den, jangan tanpa gula,” bujuk Asih yang kadang panggil DEN, atau IBU bahkan MBAK pada majikannya itu.



“Enggak, saya enggak mau. Saya mau teh panas tanpa gula,” kata Dinda.



“Oke. Mau sarapan apa? Mbak Dinda kan belum sarapan.” nah kan, tadi panggil den, sekarang panggil mbak. Mbok Asih bertanya Dinda ingin sarapan apa.



“Tadi anak-anak sarapan apa?” tanya Dinda. Dia malah lebih memikirkan sarapan anak-anaknya.




“Den Fari tambah french fries juga nugget ayam.”



“Su5u mereka habis enggak?” tanya Dinda penuh rasa penyesalan tak memperhatikan sarapan putra-putranya pagi ini.



“Habis, den Iban yang masih ada sisa sedikit.”



“Papa sarapan apa?” tanya Dinda selanjutnya. Dia sangat khawatir bila papanya tak sarapan dengan baik.



“Sama mbak. Bapak sarpannya juga roti isi daging tanpa sambal.”



“Oh ya sudah,” jawab Dinda plong.



“Mbak Dinda enggak tanya Pak Adit sarapannya apa?” pancing mbok Asih.



“Memang mas Adit sarapan apa?” tanya Dinda.



“Dia malah enggak makan sama sekali Mbak,” jelas mbok Asih.



“Astaghfirullah kenapa enggak makan?” tanya Dinda panik. Dia jadi kalang kabut sendiri karena suaminya tidak makan.



“Tadi bapak juga nyuruh pak Adit makan, tapi pak Adit bilang enggak bisa makan karena kepikiran Mbak Dinda,” jawab mbok Asih.



“Ya ampun dosa banget aku, suamiku sampai enggak makan. Ya sudah nanti begitu anak-anak pulang sekolah aku tahan dia makan dulu supaya enggak sakit,” kata Adinda penuh penyesalan. Dia tak menyangka suaminya malah jadi enggak makan gara-gara mikirin Dinda yang sakit.



‘*Mbak Dinda, suami enggak makan kepikirannya sampai begitu*,’ mbok Asih kembali mengingat bagaimana Adit malah jadi pesuruh bila dengan Shalimah. Tak pernah Adit dihargai sebagai suami.



“Sekarang Mbak Dinda mau makan apa?” tanya mbok Asih. Dia bisa digorok Adit bila Dinda belum sarapan.



“Aku minta kentang goreng aja deh sama ayam enggak apa apa,  tapi pakai saus sambal yang banyak.”



“Saya siapin satu botol aja nanti mbak Dinda tuang sendiri mau seberapa banyak ya,” mbok Asih bersiap ke belakang untuk membuatkan pesanan Dinda.



“Iya gitu aja lebih baik, tapi sambal yang ekstra pedas atau manis ya atau sambal bangkok juga boleh,” pinta Dinda.



“Ya sudah saya ambil yang sambel bangkok dan ekstra pedas,” mbok Asih segera menyiapkan kentang goreng dan ayam goreng dipanaskan di microwave.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY yok.