GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BERTEMU DI KANTOR NOTARIS



“Lho kamu ngapain?” kata Adit pada Ajat yang dia temui di lobby kantor notaris. Mereka bertemu di notaris yang sama.


“Kami beli rumah buat pindah karena Santi tidak mau tinggal di rumah lama agar tidak banyak kenangan Farouq yang menggandulinya. Abang sendiri ngapain?” tanya Ajat yang juga terkejut bertemu dengan Adit.


“Dinda jajan tanah yang di depan rumah, dia mau buat untuk kebunnya anak-anak. Di situ mau dibikin green house serta kebun binatang mini semua akan dibuat liar di sana,” jelas Adit.


“Wah nggak sabaran ingin masuk ke sana,” kata Ajat.


“Santi ke mana?”


“Dia ke toilet sama Mischa. memang Mischa kita libatkan dalam hal apa pun sehingga dia tahu bahwa kita mencintai dia. Rumah baru atas nama Mischa, cuma pengampunya Santi. Jadi Mischa tetap datang dia akan memberikan sidik jarinya karena belum dewasa jadi tanda tangannya masih dianggap tanda tangan anak-anak itu tidak baku.”


“Oh baguslah.”


“Santi tidak mau atas nama dia. Nanti dikira dia ingin harta gono gini aku. Padahal harta aku itu semua punya dia kok,” kata Ajat.


“Bu Dinda nya ke mana Bang?” tanyaAjat karena dia juga hanya melihat Adit sendirian.


“Dinda juga lagi toilet. Pasti sudah ketemu dengan Santi.”


“Iyalah, malah mereka sudah ngobrol di sana tuh,” kata Ajat melihat istrinya dan Mischa sedang ngobrol bersama Dinda.


“Ya sudah  ayo kita samperin mereka,” jawab Adit.


Tentu saja Santi langsung tahu rencana yang ingin Dinda buat dengan tanah yang akan dibelinya. Barusan Dinda langsung cerita apa alasannya dia ada di kantor notaris yang sama dengan Santi ternyata mereka sama-sama beli properti walau Dinda hanya berupa tanah kosong.


“Tapi Ibu jangan ceritakan ke siapa pun dulu ya Bu. Saya biar isi barang dan perlengkapan kami dulu” pinta Santi.


“Apa selama ini saya comel seperti itu?” tanya Dinda.


“Oh begitu. Okelah kamu berani kasih uang tutup mulut berapa?” goda Dinda.


“Ya ampun. Sekelas Ibu mana saya bisa kasih fee tutup mulut?” tanya Santi.


“Ha ha ha sekelas saya bagaimana? Saya jauh di bawah Ajat loh,” balas Dinda.


“Ih mana bisa? saya sepersepuluhnya dibawah Bu Dinda kok,” jawab Ajat. Mereka pun tertawa.


“Cantik kamu bagaimana sekolahnya?” tanya Dinda.


“Baik Bun. Tapi semester aku akan pindah sekolah sekolah,” jawab Mischa senang.


“Kenapa dipindah sekolahnya? tanya Dinda pada Santi saat Mischa izin beli air mineral.


“Biar dia juga punya pandangan baru dan dekat rumah kami yang baru itu yang pertama. Yang kedua biar dia nggak selalu ingat Farouq. Selama ini dia selalu ditungguin adiknya kalau pulang sekolah.” jelas Santi.


“Dan yang paling penting biar dia nggak ketemu omanya setiap hari. Omanya itu selalu jemput kakak sepupunya, anaknya kakaknya Monica. Tapi nggak pernah negur dia,” sambar Ajat. Dia sangat benci pada mantan mertuanya itu.


“Astaghfirullah, oma kandung?”


“Iyalah oma kandungnya. Mereka nggak anggap Mischa, jadi Santi sedih dia minta Mischa dipindahkan.”


“Iyalah, lebih baik kalian bangun rumah tangga kalian sendiri saja. Beri yang terbaik untuk Mischa dan adik-adiknya kelak. Buang jauh-jauh keluarga Monica dan Wiwik. Bukan kita mau putus silaturahminya Monica dan Mischa tapi buat mereka saja Mischa nggak ada. Lalu ngapain juga kita ngemis ke mereka?”


“Bener banget.” jawab Ajat.