
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini. ****\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Ibu Adinda Suryani.” Suara suster memanggil Dinda
Tak ada pasien yang berdiri, suster kembali memanggil. “Atas nama ibu Adinda Suryani.”
Sudah panggilan suster untuk yang kedua kalinya. Adit tak konsentrasi penuh pada panggilan itu dia sedang melamun. Sedang Dinda sedang membaca artikel di ponselnya dengan serius.
“Ibu Adinda Suryani,” kembali suster memanggil lebih keras.
Adit tersadar. “Yank itu dipanggil.”
“Iya kah?” Adinda langsung berdiri.
“Saya suster,” jawab Adinda. Adit pun mengikuti Dinda yang masuk ke ruang periksa.
“Ada keluhan apa Ibu?” kata dokter. Dia tentu sudah membaca riwayat kesehatan Dinda di data rekam medis yang ada dalam map pasien.
“Bangun tidur tadi rasanya nggak enak kepala saya Dok,” jawab Dinda.
“Terus apalagi yang dirasa?” tanya dokter sambil menulis di data Dinda soal keluhan yang dialaminya pagi tadi.
“Cuma itu aja sih Dok?” jawab Dinda lagi.
“Sudah minum obat apa saja dan apa perbedaannya?” tanya dokter kembali.
“Saya sedang menyusui putra kami yang berusia satu tahun jadi saya tak berani minum obat bebas Dokter,” jelas Dinda.
“Jadi sampai saat ini belum minum obat ya?” dokter kembali menuliskan apa yang dia dengar.
“Apa ini ada pengaruhnya dengan kecelakaan 5 tahun lalu Dokter?” tanya Adit. Walau takut dia tetap harus bertanya hal itu agar lebih jelas bukan hanya dugaannya semata.
“Kita periksa dulu ya Pak, Bu,” jawab dokternya dengan lembut. dokternya laki-laki cukup umur yang terlihat sangat sabar.
“Coba Bapak bantu ibunya naik ke kasur pemeriksaan ya. Nanti juga ada suster yang bantu dan Bapak mendampingi biar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan,” dokter membaca dengan teliti lagi rekam medis Dinda.
Dokter memegang denyut nadi Dinda sambil melihat jam tangannya.
“Seperti biasa dia menaruh stetoskop dibagian dad4. Tarik napas ya Bu,” kata dokter. Dinda pun mengikuti arahan sang dokter.
“Tahan sebentar.”
“Lepaskan!”
“Oke sementara itu dulu. Ini masih sore Ibu dan Bapak langsung ke tempat CT Scan saja. Kita lihat bagian kepala apakah ada gangguan dari bekas benturan 5 tahun lalu,” kata dokter ambil menulis.
“Dari hasil pemeriksaan, ada gangguan atau tidak akan saya rujuk anda ke tempat yang lebih pasti. Yang penting Bapak dan Ibu sekarang ke bagian yang saya rekomendasikan. Nanti hasilnya langsung bawa ke sini. Saya tunggu.”
“CT scan tidak butuh waktu lama kok. Tidak sampai 10 menit juga selesai paling yang lama itu antrinya. Nanti langsung berikan saja ke sini bahwa Ibu dan Bapak akan masuk kembali setelah nomor yang berikutnya,”kata dokter.
“Baik Dokter,” kata Adit. Dia membantu Dinda turun dari ranjang pemeriksaan dan dokter memberi surat untuk ke laboratorium CT scan
“Silahkan dengan perawat ya Ibu. Kalau pusing dengan kursi roda aja jangan berjalan karena lokasinya cukup jauh dari sini.” Mendengar itu Adit tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia lebih baik mendorong Dinda daripada istrinya kenapa-kenapa karena pusing dan harus jalan jauh.
Adit pun mendorong Dinda disertai suster langsung meminta pengerjaan cepat di bagian CT Scan.
Dinda harus menunggu 3 orang yang antri sebelumnya, memang ternyata pengerjaan CT Scan tidak lama. Computed tomography scan atau CT scan adalah prosedur pemeriksaan yang menggunakan komputer dan sinar X untuk melihat struktur dan jaringan dalam tubuh dari berbagai sudut.
Adit tentu saja tambah ketakutan karena Dinda harus CT Scan. Saat Dinda masuk ruang CT Scan Adit langsung menelpon papanya. memberitahu apa yang harus Dinda melakukan karena di dalam ruang CT Scan kan Adit tak boleh ikut masuk.
“Sudah tenang saja, semoga hasilnya bagus. Kamu jangan panik begitu,” Eddy berupaya menghibur putranya. Walau sebenarnya dia sendiri nervous.
“Iya Pa. Aku juga berharap hasilnya bagus,” jawab Adit. Siapa sih yang tidak ingin istrinya sehat?
“Baik Ibu, ayo kita kembali ke ruang dokter tadi, karena masih ditunggu. Semoga saja kita tidak dapat antrian banyak di dokter Mahfud,” kata suster yang mengantar Dinda ke ruang CT scan tadi.
Suster kembali mendaftarkan Dinda ke bagian penyakit dalam. Dia memberikan rekaman hasil dari bagian CT scan kepada suster yang bertugas di poli penyakit dalam.
Di poli penyakit dalam Dinda menunggu dua lagi untuk tiba gilirannya.
“Tunggu 2 orang lagi ya Bu. Habis itu baru giliran Ibu,” jelas suster di depan ruang poli penyakit dalam.
“Iya, terima kasih suster,” jawab Dinda.
“Ibu Adinda Suryani,” panggil suster.
“Ya Suster, saya,” Adinda langsung berdiri didampingi Adit.
“Silakan Bapak, Ibu langsung menuju ke ruang doktersaja.”
Dokter melihat hasil pemeriksaan Dinda dengan teliti.
“Bapak, Ibu kalau saya lihat hasilnya bagian kepala Ibu tidak ada gangguan. Saya tadi sudah menduga apa yang harus saya lakukan begitu meraba denyut nadi, tapi saya tidak mau menduga-duga. Itu sebabnya saya menyarankan CT Scan untuk memastikan. Ini hasilnya bagus semua tidak ada gangguan jadi untuk sementara Bapak dan Ibu tenang saja.”
“Saya rujuk saja ya ke bagian khusus yang bisa menangani Ibu dengan tepat,” dokter langsung memberikan surat rujukan dimasukkan ke dalam amplop dan diterima oleh Adit.
Adit langsung lemas menerima amplop tersebut.
Ada yang tahu Mbak Dindanya di rujuk ke mana? Kasih tahu eyank dong biar eyank bisa ngikutin Mbak Dinda.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judulREVENGE FOR MY EX HUSBAND****y****ok.