
Semua anak ada di mobil bersama Dinda tak boleh ada satu anak pun yang ikut ke mobil Adit karena mobil Adit mobil sport yang nanti digunakan untuk pulang bersama Dinda. Anak-anak menggunakan family car yang muat untuk 6 orang anak bersama Dinda dan driver.
“Kayaknya ada yang nggak cerita masalahnya ke Bunda nih,” pancing Dinda di dalam mobil. Biasa dalam perjalanan pun mereka masih sharing.
“Aku nggak pernah punya masalah,” jawab Ghaz tenang.
“Semua masalah pasti aku ceritain ke Bunda karena Bunda is the best,” kata Ghifari si anak sulung.
“Bunda itu kekasih aku,” kata Ghibran.
“Nggak ada yang bisa gantiin Bunda buat aku.” kata Ghaidan.
“Jadi aku pasti cerita apa pun ke Bunda, tapi aku juga cerita kok sama ayah. Aku nggak mau berat sebelah. Semua pasti aku ceritain. Aku nggak pernah aku cerita cuma ke ayah aja atau ke Bunda aja,” jelas Ghazanfar.
“Memang sebaiknya seperti itu,” kata Dinda.
“Kalian harus cerita semua hal ke ayah dan ke Bunda. Jadi kami mengerti. Karena cerita kamu ke Bunda pasti berbeda sama cerita kamu ke ayah. Mungkin buat kalian yang laki-laki lebih enak cerita ke ayah, sehingga itu wajar-wajar aja. Buat Bunda nggak apa-apa. Yang penting kamu juga cerita ke Bunda. Jadi Bunda punya bayangan kalau ayah sharing ke Bunda.”
“Ayah dan Bunda pasti akan diskusi, kami harus melakukan apa terhadap masalah yang kamu hadapi. Ayah sama Bunda nggak akan pernah maju sendiri-sendiri. Ayah tanpa Bunda itu bukan apa-apa, apalagi Bunda tanpa ayah tak bisa kuat menopang kalian. Kami itu satu tim sejak kalian ada di perut Bunda. Kami selalu se iya dan sekata. Semua yang masuk ke mulut Bunda buat makan kalian di perut, itu sepengetahuan ayah. Seizin ayah. Tak pernah Bunda bohong pada ayah karena nanti dampaknya ke kalian.”
“Bunda ingat waktu Bunda pergi sama Abang dan Mamas ke Australia ketika ulang tahun kalian yang kedua. Ayah waktu itu sama kakek sibuk, sehingga mereka bilang nggak bisa berangkat,” Dinda tentu mengarang cerita soal sibuknya Adit dan Eddy, karena saat itu dia sudah bercerai dengan suaminya.
“Tapi rupanya ayah sama kakek bikin surprise. Mereka datang ke sana saat ulang tahun kalian berdua. Benar-benar itu yang buat Bunda sama ayah semakin kuat. Bunda juga dapat kado videocam dari ayah. Itu yang menemani perjalanan hidup kalian. Walau ada jenis baru yang selalu ayah beli. Karena ayah tak ingin perkembangan kalian itu terlewatkan. Semua disimpan dengan baik-baik oleh ayah. Nanti suatu saat apabila kalian dewasa kalian akan melihat perkembangan kalian sejak bayi. Semuanya ayah simpan buat kalian.” Dinda melihat ke enam anaknya.
“Kalian itu harta yang paling berharga buat Bunda sama ayah. Bukan hanya buat ayah, bukan hanya buat Bunda!”
“Aku tahu dari tadi Bunda bicara seperti itu mau nyudutin aku kan?” kata Ghaylan.
“Kok nyudutin kamu? Emangnya kenapa?” tanya Dinda. Rupanya pancingannya berhasil.
“Karena tadi pagi aku cuma bilang sama ayah bahwa aku minta ayah nganterin aku ke sekolah. Tapi aku nggak bilang sama Bunda,” jelas Ghaylan.
“Oh itu itu bukan problem buat Bunda, kalau kamu mau minta anterin ayah ya bilang aja. Nggak apa-apa,” jawab Dinda. Dia hanya ingin semua terbuka. Tak ingin menyalahkan.
“Memang kenapa sih kamu kok minta anterin ayah? Memang kurang kerjaan apa ayah kita? Ayah itu kan harus ke kantor pagi karena bosnya nganterin kita dulu ke sekolah. Di kantor kan Bunda bosnya. Ayah sudah ngerjain tugas Bunda loh. Kenapa kamu nggak sadar diri seperti itu?” kata Gathbiyya yang sejak tadi diam dengan menggebu-gebu. Di dalam keluarga Biyya yang paling arogan. Walau di luar terlihat paling diam dan lembut.
Ghaylan memandang tajam wajah kakak kembar tertuanya itu. Dia sadar dia sangat salah meminta ayahnya datang. Karena ayahnya itu memang menggantikan tugas ibunya di kantor lebih dulu. Bukan pekerja pengangguran atau orang yang bisa seenaknya saja membolos kerja demi kepentingan dirinya sebagai anak.