
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Adit dan Eddy merasakan ketegangan di meja makan tak ada sapaan ramah apalagi candaan
Eddy sesekali bertanya pada kedua cucunya dan mereka menjawab begitu pun Adit masih bertanya pada kedua putranya tapi tak ada pembicaraan dengan Dinda.
“Hari ini kamu ada rapat Din?” tanya Eddy sekedar basa basi. Padahal mereka sejak dulu sepakat tak membahas masalah pekerjaan kantor di rumah.
“Enggak ada Pa dan aku juga belum tahu apa aku masuk kantor apa enggak,” jawab Dinda.
“Loh bukannya anak-anak libur?” tanya Eddy lagi. Artinya Dinda tak perlu mengantar anak-anak ke sekolah lalu tak berangkat bekerja.
“Ya benar anak-anak libur, dan aku mau jalan-jalan dengan mereka seharian,” jawab Dinda. Adit dan Eddy tentu was-was. Mereka takut Dinda langsung membawa pindah kedua anak-anak hari ini juga.
Sama seperti waktu dulu mereka pergi tanpa membawa baju cadangan hanya diapers untuk ganti di jalan saja. Waktu mereka pergi tak bawa baju Dinda maupun baju anak-anak.
Adit bertekad akan berupaya mengikuti ke mana Dinda pergi, dia tak mau kehilangan Dinda dan anak-anak lagi.
“Mau Mas antar?” tanya Adit pada Dinda.
“Maaf enggak perlu, saya dan anak-anak bukan urusan Anda,” kata Dinda dengan ketus. Eddy kaget mendengar kata-kata SAYA dan ANDA yang Dinda gunakan. Bukan aku dan mas lagi. Dinda benar-benar sudah menarik garis demarkasi. Dinda sudah tak mau lagi tergabung dalam keluarga mereka.
Adit diam mendengar jawaban Dinda seperti itu.
“Ayo kalian sudah selesai, baca alhamdulillah dulu,” pinta Dinda sambil menyingkirkan dua piring anak-anak makan ke meja makan, sehingga di high chair tidak ada mangkok lagi.
Dinda menurunkan Ghibran dan Adit segera berdiri untuk menurunkan Ghifari. Dinda membiarkan kedua putranya berjalan ke ruang main mereka.
Dinda membawa mangkok putra-putranya ke belakang dan mencucinya langsung karena sabun cuci piringnya beda dengan sabun cuci piring buat orang dewasa. Setelah selesai Dinda ke depan menemani putra-putranya yang sedang dijaga oleh Mbok Marni.
“Sudah mbok, tinggal saja sama saya,” pinta Dinda pada mbok Marni. Dinda menunggu Adit dan Eddy pergi dulu baru dia akan pergi bersama kedua anaknya. Hari ini dia akan membawa Bu Marni untuk menemani dia di mobil.
“Papa berangkat ya Din,” pamit Eddy.
“Ya Pa,” jawab Dinda pendek dan datar.
“Ayah juga berangkat ya, kalian mau ikut Ayah kerja?” tanya Adit pada kedua putranya. Keduanya menggeleng lalu memberi salim pada ayah mereka.
Adit menciumi kedua putranya, pipi kening serta puncak kepala lalu keduanya pun memberi salim pada Adit.
“Semalam aku ingin bicara, kamunya sudah tutup pintu. Nanti malam kita harus bicara ya,” bisik Adit. Dinda tak menjawab. Tak mengiyakan atau menolak. Dia benar-benar tidak mau peduli pada Adit lagi. Sama seperti Adit yang tak mau peduli dengan pesan yang dia kirim.
“Mbok. Temani saya pergi ya karena buat jaga anak-anak di mobil,” Setengah jam setelah Adit berangkat Dinda langsung minta pada Mbok Marni menemaninya.
“Baik non Dinda,” jawab Bu Marni. Dia pun mulai bersiap. Dinda juga menggantikan baju anak-anaknya dan memakaikan sepatu/
“Mau ke mana dia?” kata Adit sambil mengikuti Dinda dari jauh. Adit seperti biasa menggunakan taksi karena kalau menggunakan mobilnya pasti akan terlihat oleh Dinda.
‘*Kantor Imigrasi? Mau apa*?’ pikir Adit melihat Dinda membawa kedua putranya. Dari jauh Adit membuat foto tentang Dinda dan langsung dia kirimkan pada Eddy.
\*‘Mereka mau pergi ke mana Pa, kok pakai bikin paspor,’ \*tanya Adit sambil mengirim foto yang dia buat.
\*‘Sepertinya Dinda ingin pindah negara, dia tidak ingin tinggal di Indonesia lagi karena kalau di Indonesia pasti kalian sering ketemu. Itu yang Papa pikir sih,’ \*kata Eddy menjawab foto yang Adit kirim.
Adit tak habis pikir begitu marahnya Dinda pada dirinya sehingga memutuskan akan pergi menjauh.
Tapi memang siapa sih yangtidak marah melihat orang yang katanya mau serius malah kencan lagi dengan perempuan lain.
Adit tak bisa konsen bekerja siang ini. Seharian dia uring-uringan memikirkan Dinda dan anak-anak yang akan pergi meninggalkannya jauh dari Indonesia.
”Tapi jangan-jangan mereka cuma butuh liburan aja kali, bukan mau stay di luar negeri,” Adit menghibur dirinya sendiri.
“Tapi kalau mereka beneran stay di sana gimana?” Kata Adit lagi.
Adit semakin terpecah konsentrasinya. Terpecah antara pekerjaan dan keluarga.
Sampai saat ini belum ketahuan siapa yang mengirim foto pada Eddy. Adit sudah minta nomor itu dilacak terdaftar atas nama siapa tapi belum ketahuan juga.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU yok.