
“Kok ke sini Pi?” tanya Santi begitu melihat mereka masuk ke klinik dokter praktik kandungan yang memang tak jauh letaknya dari kantor polisi. Tadi Ajat melihat sepintas waktu mereka akan menuju ke kantor polisi melewati klinik ini.
“Kita memang sedang ketakutan masalah penculikan Farouq, tapi kita juga harus antisipasi Dedek di dalam perut Mami. Mami harus tenang. Mami juga harus kuat, karena itu kita lapor dulu ke dokter agar Mami dikasih obat supaya kuat dan tenang. Bukan Papi nggak cinta sama abang. Tapi ada yang lebih urgent dari masalah ini. Jangan sampai kita menyesal,” kata Ajat. Santi sangat bersyukur suaminya sudah sangat berubah. Suaminya sangat memperhatikan dirinya juga calon bayi mereka.
“Kalau saya beri obat penenang yang berdampak tidur, Ibu nanti akan tidur dan tidurnya akan gelisah karena pikiran Ibu masih ke putra Ibu yang sedang diculik. Jadi saya kasih saran saja agar Ibu tenang. Benar seperti Bapak bilang, kalau Ibu tidak tenang bisa berdampak pada bayi di rahim Ibu. Ini saya kasih suplemen penguat,” kata dokter yang mereka datangi.
“Ini obat untuk relaksasi bila malam. Karena kalau malam Ibu tetap harus tidur dan dengan obat ini nanti istirahatnya lebih berkualitas sehingga Ibu akan tetap segar walau kurang tidur sekali pun.”
“Baik Dokter,” jawab Santi. Mereka tak bisa berbuat apa pun lagi. Tinggal menunggu tindakan polisi juga menunggu kemungkinan apakah ada permintaan tebusan buat Farouq.
Grup five little star langsung heboh begitu Santi mengabarkan minta doanya agar Farouq selamat. Begitu pun dengan Adit, karena Adit langsung dikirimi pesan oleh Ajat.
“Astagfirullah, Santi lagi hamil loh Yah,” kata Dinda mendengar Adit memberi kabar tentang pesan dari Ajat kalau putra mereka diculik.
“Baik. Nanti aku kasih dukungan ke Santi secara langsung. Tapi tidak sekarang. Pasti dia sedang kalang kabut dan banyak terima telepon dari keluarganya,” kata Dinda. Dia juga tahu diri pasti Santi sedang stres berat karena buat Santi Mischa dan Farouq itu bukan hanya anak sambung.
“Kalian benar sudah lapor polisi?” tanya mamanya Ajat yang telah tiba di sana lebih dahulu. Suaminya belum pulang kantor jadi belum sampai. Begitu pun orang tua Santi mereka sedang on the way tak menunda waktu lagi.
“Iya Ma, ini bukti laporan polisi kami,” kata Ajat. Santi masih diam. Ajat membimbing istrinya untuk duduk. Mischa langsung lari ke pelukan Santi.
“Enin bilang kan, Kakak jangan ganggu Mami. Mami sedang sedih nanti kasihan Dedeknya,” kata mamanya Ajat berbisik pada Mischa. Santi tidak bisa menangis sama sekali. Dia memang sudah super stress dan itu sangat bahaya buat dirinya.
Santi flashback saat pertama dia lihat Farouq di rumah ini anak yang kurus dan tanpa cahaya Di sinar matanya. Pandangannya kosong dan gelap. Tak kenal siapa pun. Santi ingat percakapan pertama mereka juga hari-hari awal perkenalannya dengan bocah kurus yang sekarang telah menjadi chubby dan selalu ceria.
Santi melihat lintasan film di benaknya, bagaimana tawa dan senyum putra kecilnya itu. Santi ingat bagaimana wajah tak percaya Farouq ketika Santi pertama kali mendekapnya serta mencium bocah itu.