GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
RINDU SOSOK ITU



“Kalian pulang yuk. Mau tidur di rumah Bunda apa di rumah Mami Santi?” kata Dinda pada Tarida dan Theresia.


“Kami di sini saja Bunda,” jawab Icha cepat.


“Nggak boleh Sayang. Nanti kalian sakit juga. Anak sehat itu tidak boleh menginap di rumah sakit. Sebaiknya kalian pulang saja. Terserah mau ikut Bunda atau Mami Santi, atau sama Bunda Puspa juga boleh,” kata Puspa.


“Nah tuh di rumah Bunda Puspa juga boleh,” kata Dinda.


“Iya kalian boleh menginap di mana pun,” jawab Sondang dia tak mungkin meninggalkan opung sendirian saat genting begini. Dia pun kasihan bila opung harus sendirian di ICU juga takutnya opung tak bisa mengatasi bila ada masalah kritis.


“Kalian kan ada baju kan tadi belum dipakai itu bisa dipakai besok,” kata Sondang.


“Enggak apa-apa besok kan nggak sekolah karena hari Minggu.”


“Ayo besok pagi dianterin kok ke sini. Kalau menginap di rumah Mami Santi besok dianterin sama Papi saja. Kalau nginap di rumah Bunda besok pagi-pagi dianterin sopir ke sini atau sama Bunda,” kata Dinda.


“Ya sudah aku di rumah Mami Santi saja. Aku mau lihat adik Biru,” kata Icha.


Akhirnya Tarida dan Theresia ikut Santi, tentu saja Santi senang.


Sebelum sampai rumah, Santi membeli makanan online agar mereka nanti pulang langsung makan malam bersama dengan Mischa.


“Nanti kalian juga bisa pakai baju tidurnya Mischa saja ya jadi kalian tidak tidur dengan baju kotor,” ucap Santi.


“Iya Mi,”  jawab Icha. Emak-emak rempong sudah sepakat semua anak dari anggota emak rempong memanggil mereka dengan sebutan yang sama dengan anak kandung. Itu sebabnya semua anak diwajibkan memanggil bunda pada Dinda atau pun mami pada Santi.


Mischa senang kedatangan dua teman, walau mereka tidak satu sekolah.


“Kalian mau tidur di mana? Di kamar Mischa atau di kamar tamu?” tanya Santi.


“Di kamar aku saja,” ajak Mischa, dia langsung mengajak kedua teman barunya itu untuk masuk kamar dia.


“Terserah kalian kalau nggak mau sama Mischa, mau tidur di kamar tamu boleh,” kata Santi melihat keraguan Tarida dan Theresia.


“Aku mau di kamar Biru,” kata Icha.


“Biru tidurnya sama Mami. Kamu mau sama Mami?” ajak Santi.


“Nggak, nggak,” kata Icha sambil menggeleng. Dia kira Biru sudah punya kamar sendiri.


“Ayo kita lihat Biru dulu. Kalau kamu mau tidur di kamar Biru juga boleh sih. Ayo kita lihat,” ajak Santi. Santi mengajak Icha dan Rida ke kamarnya Biru. Di sana hanya ada satu tempat tidur besar yang ada pagarnya.


“Kamu mau tidur sini sama Mami? Mami juga tidur sini kok.” kata Santi.


“Kalau malam Biru akan dibawa ke kamar Mami tapi kalau siang di kamarnya sendiri,” jelas Santi.


Tempat tidur Biru juga khusus yaitu ada pagarnya. Tapi size ranjangnya tetap king size. Ajat maupun Santi bisa tidur di tempat tidurnya Biru.


“Jadi adik nggak jatuh ya”? kata Icha melihat ada pagar yang terpasang saat mereka masuk.


“Iya jadi kalau dia bangun lalu nangis belum ada yang dengar dia tidak jatuh,” kata Santi.


“Harusnya kak Rida pakai tempat tidur seperti ini,” ulas Icha.


“Kenapa?” tanya Misha.


“Aku sampai sekarang masih sering jatuh dari tempat tidur,” jawab Tarida.


“Sakit dong?” Mischa bertanya karena bisa memperkirakan akan sakit bila terjatuh dari tempat tidur.


“Kalau mau tidur papa akan taruh kasur lantai, di bawah tempat tidurku jadi kalau aku jatuh langsung ke kasur itu,” ucap Tarida.


“Oh gitu,” kata Mischa.


Menceritakan soal papanya Tarida jadi ingat papanya sangat perhatian pada dirinya. Dia rindu sosok itu.