
Dengan Santi, Ajat jadi kenal anaknya. Dia jadi kenal Mischa juga kenal Farouq. Selama ini kedua anak itu tak pernah kena touch dari dia. Bahkan dulu Ajat hanya menyapa mereka sesekali. Yang memperhatikan kedua anakitu hanya ibunya. Itu pun tak tiap hari karena mereka tak satu rumah. Kebetulan Ajat anak tunggal, jadi tak punya adik atau kakak yang akan menengok anak-anaknya. Ayahnya sibuk bekerja jadi hanya ibunya yang memperhatikan Mischa dan Farouq.
Sejak bersama Santi, dia mulai diajar Santi menyapa, kadang memeluk mereka, dan mencium mereka. Benar-benar perubahan yang sangat besar buat Ajat. Dengan Santi dia baru mengetahui bagaimana bahagianya menjadi seorang ayah.
“Papi kemarin bobo di mana?” tanya Farouq karena tak mmelihat Papinya pulang.
“Di hotel Sayang,” kata Ajat.
“Kakak PR-nya sudah Nak?” tanya Santi lembut.
“Sudah Mi. Hari ini aku nggak ada yang tanya ke Mami. Semua bisa aku kerjain sendiri. Aku sekarang sudah pinter. Anak Mami pasti pintar kan?” kata Mischa dengan bangganya.
“Kamu bukan anak Mami Sayang,” Mischa langsung cemberut mendengar Santi bicara seperti itu.
Ajat pun kaget mendengar istrinya tega bicara seperti itu.
“Kamu itu anak Mami dan Papi,” kata Santi dengan lembutnya. Mischa dan Farouq langsung lari memeluk Santi.
“Aku cinta sama Mami,” kata Mischa.
“Mami juga cintaaaaaaaaaaa banget sama Kakak dan Ade. Sehat terus ya anak Mami. Pintar terus, nggak boleh nakalin orang. Nggak boleh jahatin orang. Karena nanti Allah akan balas.”
“Kalau kita jahat sama orang pasti Allah akan balas, kalau kita baik sama siapa pun Allah juga akan balas, kita nggak perlu balas orang,” Santi menasihati kedua anaknya.
“Mischa anak baik sejak bayi, jadi bisa ketemu Mami waktu di supermarket, ya kan?” kata Santi.
“Iya, orang baik ketemu orang baik ya Mi?” kata Mischa polos. Mischa ingat pertemuan awalnya dengan sang Mami.
‘Apa aku juga orang baik sehingga bertemu kamu?’ tanya Ajat dalam hatinya. Dia merasa tak cukup baik. Dia banyak berzina saat dia sendirian walau tak pernah mendua tapi itu adalah kesalahan fatal seharusnya dia tak melakukan itu.
“Nggak ada Mi, Hari ini nggak ada PR. Tadi cuma olahraga sama cerita aja Bu gurunya,” jawab Farouq.
“Ya sudah sekarang dua-duanya anak Mami bobo. Kita sikat gigi dulu yuk. Habis itu Mami temenin Ade bobo duluan.”
“Tapi Mami ke tempat aku kan?” kata Mischa.
“Ya Mami janji sehabis temenin Ade, Mami ke kamar kamu,” jawab Santi.
Ajat terus memandang semuanya.
“Bagaimana kalau malam ini Ade sama Papi aja? Sekali-sekali kita laki-laki sama laki-laki,” kata Ajat.
“Biar Mami sama Kakak lebih lama,” Ajat mengusulkan seperti itu agar dia mulai bisa dekat dengan anak-anaknya. Satu hal yang sangat bodoh dia menyia-nyiakan masa kecil anak-anaknya. jauh dari kasih sayang dan cintanya sebagai seorang ayah.
“Nah hebat tuh kalau Ade mau bobok sama Papi entar dengerin cerita Papi ya? Biar Mami temenin Kakak,” kata Santi.
Santi bahagia karena Ajat mau mendekati putranya setidaknya itu sudah kemajuan kalau Ajat mau komunikasi dengan Farouq.
“Ya aku sama Papi dulu, nanti Mami cium aku kan?” tanya Farouq polos.
“Cium kapan aja boleh kok. Sekarang juga Mami mau cium kamu,” kata Santi dia langsung mencium Farouq dan Mischa.
“Ih Papi cium juga dong, masa cuma anak-anak aja? Papinya nggak dicium?” protes Ajat. Lelaki itu langsung mendekati mereka bertiga dan menciumi 3 kekasih hatinya itu. Tentu saja Santi sangat bahagia Ajat mau berubah dan mendekati anak-anaknya seperti itu.
Cukup lama Santi ada di ruangannya Mischa. Ajat tadi mengintip melihat bagaimana interaksi keduanya sedang bicara entah apa yang mereka bicarakan. Rupanya putrinya sudah ABG sehingga banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Santi dan itu memang harus diarahkan sedemikian rupa di rumah. Untungnya Mischa punya Santi, kalau masih dengan mamanya atau dengan bundanya tentu tidak akan dapat bimbingan seperti itu. Perempuan-perempuan itu pasti tidak bisa mendidik anak seperti yang Santi lakukan. Padahal Santi belum pernah punya baby.
Dari luar Ajat kembali tersenyum melihat bagaimana bidadari yang tak sengaja ditemukan Mischa di supermarket sudah merengkuh cinta kedua anaknya. Dia harus sangat bersyukur bisa menikahi perempuan hebat itu.