GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TAK HARUS PUNYA ANAK LELAKI



“Anak ibu sudah lama menikah dengan Sondang?” tanya Dinda saat dia duduk dengan ibunya Gultom.


“Dia dan Sondang sudah 14 tahun menikah. 2 tahun Sondang kosong belum punya anak. Lalu tahun ketiga dia punya anak perempuan yang sekarang sudah kelas 6 SD,” jelas ibu Gultom dengan sangat bangga.


“2 tahun kemudian lahir lagi perempuan sekarang kelas 4 SD,” kata ibunya Gultom lagi.


“Mohon maaf kalau saya tidak salah di adat Batak ada nama marga yang harus diturunkan. Anaknya Sondang dua-duanya perempuan. Sebagai ibu apa Inang mengharuskan Pak Gultom punya anak lelaki?” tanya Dinda hati-hati.


“Di dalam adat ya kami wajib punya anak laki-laki,” kata inang atau juga biasa dipanggil opung mengikuti panggilan dari cucu-cucunya.


“Tapi sebagai perempuan dan sebagai istri saya sadar yang menentukan keturunan itu bukan kita, bukan manusia. Tapi itu ditentukan oleh Tuhan. Mau punya istri 10 kalau Tuhan bilang anak kamu perempuan semua. Kita mau bilang apa? Jadi di keluarga saya dan keluarga suami saya tidak ada kewajiban untuk punya anak lelaki.”


”Dulu tetua kami ada yang mengharuskan punya anak lelaki, dia sampai punya istri lebih dari 5.  Tetap saja tak ada satu pun anak lelaki yang dia miliki. Akhirnya yang ada dia mendapat nasib buruk. Dalam suatu perjalanan semua anaknya meninggal. Orang-orang bilang itu karena semua anak tak diinginkan oleh ayahnya!”


“Jadi di dalam keluarga saya tak pernah ada keharusan punya anak lelaki walau kami berharap punya. Beda ya BERHARAP dengan HARUS PUNYA,” kata opung.


“Saya kira Ibu memang menyuruh pak Gultom untuk punya anak lelaki sehingga mungkin dia cari perempuan lain untuk punya anak lelaki,” pancing Dinda.


“Dia bukan dari keluarga yang kurang, dia lebih tinggi derajatnya dari keluarga kami. Tapi dia sangat menghormati keluarga kami. Itu yang membuat dia sangat disayang oleh semua anggota keluarga,” kata opung sambil memperhatikan Sondang dari kejauhan. Sondang sedang ikut kegiatan meramaikan family gathering yaitu lari bakiak dengan pasangan.


Dinda mendapat poin bahwa dari pihak keluarga tak ada keharusan punya anak lelaki buat Gultom karena kebetulan dua anaknya sama-sama perempuan. Dan Sondang sangat diterima oleh keluarga besar Gultom.


“Baik ibu saya ke tempat yang lain ya, saya harus menyapa semua anggota kalau suatu saat saya minta ibu datang karena sesuatu sebab Ibu bisa hadir ya?” kata Dinda.


“Saya akan hadir bila memang saya sehat, hanya Tuhan yang tahu bagaimana kondisi kita kedepannya,” kata opung yang sangat religius itu.


Dinda pun berlalu dari depan perempuan tua yang sangat menyayangi menantunya tersebut.


Dinda berkeliling menyapa anggota keluarga lain yang tidak ikut kegiatan biasanya para sesepuh seperti ibunya Pak Gultom.


Kalau dengan ibunya Puspa tentu Dinda sudah sangat akrab bahkan ibunya Puspa sejak tadi juga ikut kegiatan. Karena tiap kesempatan family gathering dia pasti ikut sebab Ilham adalah kepala cabang. Jadi di setiap kegiatan family gathering pasti keluarga Puspa ada.