GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SELAMAT TINGGAL FAROUQ



“Siapa tadi yang menyisir rambutmu? Cantik sekali dengan pita seperti itu,” kata Dinda.


“Nenek yang sisirin aku. Juga ngambilin baju ini,” kata Mischa.


“Kirain Enin,” kata Dinda tanpa maksud apa pun. Sekadar berbincang saja.


“Enggak aku dari pagi sama nenek. Nggak sama enin,” jawab Mischa.


Memang Mischa lebih dekat dengan neneknya yaitu orang tua Santi walau baru kenal sejak Santi menjadi maminya. Padahal eninnya juga perhatian tapi memang kurang dekat dengan anak-anak. Mamanya Ajat hanya mengawasi dari jauh. Dia perhatian tapi paling hanya perintah sana perintah sini tidak seperti ibunya Santi. Ibunya Santi langsung terjun sendiri kalau orang Jawa bilang ngrumati.   Ibunya Santi yang make-in baju nyisirin, dia nyuapin, terlebih pada Farouq. Dia mau mengerjakan semua sendiri demi cucunya. Kalau enin-nya Mischa nggak. Dia hanya memerintah pembantu. walau begitu ya lumayanlah. Ada atensi daripada tidak sama sekali seperti oma dan opanya Mischa yang sering datang ke sekolah tapi tak peduli ada cucu lain di situ. Padahal itu adalah cucu kandungnya. Beda dengan ibunya Santi yang tak ada darah sama sekali dengan Mischa.


“Ayo kita ke depan,” ajak Dinda. Mischa terus menggandeng Dinda. Dia takut kehilangan bundanya. Dia tahu dia tak boleh terlalu rewel pada maminya.


“Wika kamu pegang sebentar Mischa deh aku mau lihat Santi dulu.”


“Santi ada dekat Farouq kok Bu.” jawab Wika.


“Sama siapa aja dia?”


“Sama istri pak Rustam dan ibunya kayaknya. Itu pak Ajat baru saja keluar menemui pak Adit.”


“Oh ya sudah, kalau dia sudah ada beberapa teman. Yang penting jangan dibiarkan dia sendirian. Takutnya dia sedih sendiri.”


“Kamu kalau Bunda ngurusin sesuatu, kamu sama tante Wika ya?”


“Iya Bun.” jawab Mischa.


“Ajeng lagi urusin bunga rampainya Bu. Yang untuk di atas kurung batang ( keranda ).”


“Oh ya sudah. Yang penting Ajeng bilangin juga jangan terlalu lama ninggalin Baim. Memang Ajeng anaknya sudah bisa ditinggal?”


“Sudah kok Bu. Nggak apa-apa Baim ada yang jagain.”


“Ya sudah jangan sampai Ajeng keteteran. Dia juga nggak boleh lupa bahwa Baim baru sembuh.”


“Iya Bu,” jawab Wika.


‘Ya ampun itu anak semua pegawainya diperhatikan satu persatu,’ kata istrinya Halimi yang mendengar percakapan itu.


‘Bagaimana dia tidak dicintai oleh pegawainya kalau kelakuannya memang seperti itu. bahkan Mischa yang sudah besar aja dia pangku.’


Makin siang tamu makin banyak karena mau berangkat ke pemakaman. Dinda hanya menemani Mischa karena yang menemani Santi adalah ibu dan ibu mertuanya jadi memang Dinda mundur agar tidak membuat overlapping. Dia menjaga Mischa yang tidak ada yang pegang. Sesekali dia menitipkan Mischa pada Wika. Tapi adakalanya Mischa mengekor ke mana Dinda berjalan.


Hari ini Adit tidak pakai mobil sport nya dia pakai mobil Eddy. Eddy nanti diantar sopir pakai mobil sport. Jadi Eddy yang berdua dengan sopir Adit pakai mobil Eddy agar Mischa dan beberapa orang ikut dengannya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju pemakaman. Ada bu Ponirah dan suaminya selain Mischa di dalam mobil yang dikendarai Adit.


Dinda membantu Mischa menabur bunga di makamnya Farouq. Sejak tadi memang Dinda sengaja menunggu sampai agak kosong. Dinda membiarkan Mischa menatap nisan adiknya. Dia tahu Mischa sangat kehilangan karena selama ini mereka hanya berdua tanpa kasih sayang siapa pun sebelum ada Santi.


Tadi saat jenazah dimasukkan ke liang lahat memang Santi memeluk Mischa sebentar. Sehabis itu Santi diam sendirian. Dia benar-benar termenung dan melupakan Mischa. Sehingga kembali Dinda mengambil Mischa. Dia tak ingin Mischa merasa disingkirkan Santi saat seperti ini.


Santi juga tidak sadar dia mengacuhkan Mischa karena dia sedang kehilangan jadi hanya orang-orang yang harusnya tahu sama-sama membantu bagaimana agar keduanya tidak terluka. Sejak tadi Santi dipeluk Ajat. Mereka berdua tak sadar ada Mischa yang merasa tersingkir.