GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MUTIARA YANG EDDY TEMUKAN



“Bagaimana kondisi mu pagi ini Din?” tanya Eddy saat dia melihat ketiga baby di kamar mereka. Baby baru akan di bawa ke bawah untuk di jemur. Dinda sedang membuka semua baju mereka.


“Alhamdulillah sehat Pa, semalam malah aku enggak bangun sama sekali lho Pa. Semua diurus Mas Adit,” jelas Dinda.


“Kamu memang tidur di mana?”


“Aku tidur di kamar aku. Aku pikir Mas Adit juga tidur di sebelahku. Ternyata mas Adit tidur di sini,” kata Dinda mengadu pada Eddy.


“Ya sudah enggak apa-apa kalau Adit yang urus. Kirain enggak ada yang urus anak-anak.


“Enggak mungkin lah Pa, aku enggak mengurus anak-anak. Pasti aku bangun kalau mereka menangis. Ini mereka enggak menangis sama sekali. Rupanya Mas Adit menjaga agar mereka tidak menangis. Sebelum menangis sudah diberi ASIP.”


“Kamu sudah sarapan?” tanya Eddy sambil menerima Gathbiyya.


“Sudah Pa, aku sudah sarapan duluan. Papa sarapan ya jangan sampai enggak dan minum vitaminnya.”


“Iya Papa minum vitamin dan selalu makan semua yang disiapkan simbok koq.” mereka berdua turun untuk menjemur babies di halaman belakang. Dinda menggendong Ghazanfar dan Ghaylan tanpa kesulitan. Dia sudah biasa menggendong dua bayi sekaligus.


Mbok Asih selalu kagum pada Dinda. Dia yang menyiapkan area berjemur di halaman belakang.


“Mbak Dinda enggak bilang suruh membantu bawa dede. Kalau tahu sudah siap tentu saya dan Siti akan naik,” jelas mbok Asih.


Adit memang belum membantu mengurus babies, karena dia mengurus tiga kakak babies. Adit membawa anak-anak turun sarapan lebih dulu sebelum melihat adiknya.


“Kalian harus makan yang banyak loh, dan harus minum susunya baru boleh lihat adik-adik,” pesan Adit saat melihat Dinda dan Eddy lewat tadi. Para kakak tentu saja ingin melihat adik-adik bayi yang tanpa pakaian, siap berjemur.


“Ingat walaupun hari ini kalian enggak sekolah, tetap enggak boleh sepanjang hari di kamar adik-adik. Biar bundanya istirahat.”


“Iya Yah,” jawab Iban. Lelaki kecil itu mengerti kalau bundanya harus banyak istirahat. Buktinya sarapan aja bunda enggak turun makan menyiapkan sarapan mereka.


“Apa bunda sudah sarapan?” tanya Fari.


“Itu apa Bu?” tanya Eddy melihat kuah gula.


“Ini Mbak Dinda minta dibikinkan serabi dan saya sudah siapkan untuk dibawa ke kantor. Mbak Dinda bilang Pak Eddy juga harus bawa ini buat cemilan pagi,” jalas mbok Marni yang bertanggung jawab penuh terhadap menu makan Eddy sejak pagi hingga makan malam.


“Mbak Dinda juga bawakan Pak Eddy salad, selain nasi dan lauk itu yang sudah digaris bawahi oleh Mbak Dinda untuk dibawa hari ini,” kata Bu Marni lagi.


“Ya ampun anak itu baru pulang aja sudah langsung pengatur urusan dapur,” kata Eddy di meja makan.


“Walaupun mbak Dinda di rumah sakit, tiap hari urusan dapur diatur mbak Dinda kok Pak,” Kata Bu Siti yang juga di sana karena takut ketiga jagoan yang sedang makan butuh bantuannya. Mbok Asih sedang bersama Dinda di belakang.


“Jadi setiap pagi dia titip pesan?” tanya Pak Eddy.


“Enggak Pak. Bukan pagi, sejak malam dia sudah titip pesan. Jadi pagi kami tidak kelabakan mempersiapkan buat Bapak sesuai perintah mbak Dinda.”


“Masyaallah,” kata Eddy.


Tanpa bisa ditahan dia meneteskan air mata. Bagaimana bisa dia mendapatkan permata seperti itu. Bahkan istrinya dulu tak perhatian sedetail itu. Mungkin karena saat ada Ina, Eddy belum tua, jadi tidak butuh perhatian seperti sekarang.


Eddy bersyukur Dinda masuk kerja di kantornya dan dia terima sebagai orang kepercayaannya. Sejak awal Dinda masuk kantor memang Eddy sudah jatuh cinta!


Bukan jatuh cinta seperti seorang lelaki pada seorang gadis, tetapi sebagai seorang bapak terhadap anaknya.Eddy tak punya perasaan lebih dari itu. Eddy benar-benar menganggap Dinda adalah anak kandungnya.


Sebelum Dinda jadian dengan Adit. Eddy dan Ina yang jatuh cinta lebih dulu.  Saat itu Ina mulai sakit-sakitan dan perhatian Dinda sangat tulus pada Ina. Padahal Dinda belum kenal dengan Adit. Artinya perhatian Dinda pada Ina bukaan cari perhatian sebagai calon menantu atau pacar Adit.


Dinda dan Adit saat itu belum pernah ketemu satu kali pun. Baik saat Dinda ke rumah ngurusin Ina, maupun di kantor. Adit saat itu masih jadi orang yang bebas. Keluar masuk rumah semaunya, tak pernah mau ke kantor. Adit masuk kerja di kantor setelah Ina berpesan sebelum dia meninggal.