GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
YIS?



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Hari ini Ayah mau pamer enggak?” tanya Dinda saat mereka sedang sarapan. Pagi ini Dinda membuat sarapan quaker oats yang di padu dengan susu dan potongan buah. Mereka berempat sarapan menu yang sama, beda di ukuran buah saja.



“Maksud Bunda bagaimana?” tanya Adit lembut. Dia memang selalu seperti ini bila pada istri dan anak-anaknya. Tapi sangat ketus bila terhadap orang yang tak dia suka.



“Kalau Ayah mau pamer, ayo kita belanja buat satu minggu ini. Buat masakan kakek tiap hari selain buat makanan anak-anak. Kalau hanya di tukang sayur enggak ada fillet ikan dan daging serta ayam giling. Bunda biasa belanja satu minggu satu kali,” kata Dinda sambil mengerling menggoda. Dinda tahu Adit pasti tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini. Sejak dulu Adit paling ingin dilihat memiliki anak. Itu sebabnya Shalimah bisa menjeratnya saat kehamilan Bram.



Tentu saja Adit tidak menolak diajak belanja dengan membawa dua jagoan kembar mereka.



“Ayo, siapa takut?” Tanya Adit menantang. Kesempatan yang sangat dia tunggu.



Dinda dan Adit menggantikan pakaian si kembar. Dinda tidak membiasakan mereka menggunakan baju yang sama, hanya kadang sepatu sama bentuk tapi beda warna begitu pun topi tetapi ada perbedaan, karena mereka bukan dua individu yang sama. kembar adalah dua individu yang berbeda itu prinsip yang Dinda miliki.



“Kita mau membawa stroller enggak Bun?” tanya Adit



“Aku sih biasanya di gandeng aja nanti kalau pas lagi belanja satu masuk di bak trolly satu duduk di tempat duduk yang memang ada di trolly,” kata Dinda.



“Kalau Ayah enggak mau gandeng atau gendong mereka, ya bawa aja stroller-nya,” saran Dinda



“Ya sudah kalau kita berdua kan lebih mudah, enggak usah bawa stroller lah, biar lebih enak mereka jalan,” balas Adit antusias.



“Eh, Ayah belum masukin list barang apa yang mau dibeli,” kata Dinda saat mereka baru duduk di mobil.



“List apa ya? Ayah kayanya enggak punya kebutuhan tu. Nanti lihat aja lah di sana,” Adit memang tak tahu akan belanja jadi tak memperkirakan apa yang dia butuhkan.



“Kebiasaan deh dari dulu. Kalau belanja itu pakai list, jadi semua yang kita butuhkan bisa dicari, soal nanti ada tambahan itu hal yang berbeda. Yang penting kebutuhan dalam list itu sudah terpenuhi semua.” Omel Dinda.



“Iya besok-besok akan bikin list. Tadi malam kan Bunda enggak bilang mau belanja, jadi ayah enggak bikin,” elak Adit. Padahal memang sejak dulu Adit malas bikin list dan Dinda hafal hal itu.



“Ya sudah, sekarang ingat-ingat aja semua kebutuhannya Ayah. Kebutuhan anak-anak, juga kebutuhan dapur sudah Bunda buat,” kata Dinda.



“Ya sudah, Ayah ingatnya apa ya? Shampo kayanya, tapi sabun mandi juga habis, deodoran hampir habis,” gumam Adit sambil mengingat apa kebutuhannya.



”Tuh kan banyak. Sudah bilang bikin list enggak percaya sih,” goda Dinda.



“Iya, nanti Ayah bikin list deh,” Adit menyerah kalah.



“Yis?” Tanya Ghibran.



“Ya list. Tuh anaknya aja tahu.” Dinda tersenyum mendengar pertanyaan Ghibran.



Adit terkekeh mendengar Ghibran bertanya soal list yang orang tuanya bicarakan.



“Anak Ayah memang pintar-pintar,” puji Adit.




“Begini kan anaknya Ayah. Ada car seat di belakang, pada maunya di pangku aja di depan sama Bunda,” gerutu Dinda.



Adit kembali tertawa terbahak-bahak dan si kembar mengetahui ayahnya tertawa, mereka pun ikut tertawa terbahak-bahak. Melihat mereka bertiga tertawa, membuat Dinda jadi ikut tertawa.



\*‘Aku ingin melihat tawa kalian sepanjang hari,’ \*batin Adit.



‘*Andai kami bisa bersama lagi*.’



“Wah Dedek Iban sama Mas Fahri belanja sama ayahnya ya,” sapa seorang ibu. Ternyata dia adalah orang tua temannya Fari dan Iban di sekolah.



“Eh Bu Kuncoro, mana Siera?”  Dinda menyapa ramah perempuan muda cantik yang menyapanya.



“Siera enggak ikut ke sini,  dia sedang main odong-odong dengan papanya di luar. Kalau sudah lihat odong-odong dia tidak mau ikut masuk belanja. Tapi malah jadi enak. enggak ribet. Kalau sama dia jadi lama aku milih belanjaannya,” kata Bu Kuncoro.



“Ini tumben kembar ada papanya,” kata Bu Kuntoro lagi.



“Tiap hari ada sih cuma memang jarang ke sekolah, enggak seperti Pak Kuncoro yang bisa tiap saat.  Ayahnya kembar pagi kalau mengantar repot. Harus dua mobil Bu. Dan si kembar enggak mau di mobil saya, padahal di mobil ayahnya tidak ada car seat. Kalau Ayahnya mengantar nanti ayahnya si kembar pulang naik ojek dulu. Baru pergi ke kantor naik mobil nya,” jelas Dinda mengapa Adit jarang antar anak-anak.



“Wah, jadi Ayahnya berkorban ya naik ojek dari sekolah buat ngambil mobilnya?” tanya bu Kuncoro.



“Mau enggak. Demi anak-anak,” jawab Adit sambil tersenyum.



“Iya memang kalau orang seperti kita, hidup hanya tinggal buat anak-anak aja. Semua orientasi kita pasti untuk anak-anak,” jawab Bu Kuncoro.



“Ayo ah, aku langsung aja nanti kelamaan Siera keburu menangis,” kata Bu Kuncoro.



Siera lebih tua dari si kembar, dia berusia 3 tahun.



“Iya Bu silakan,” kata Dinda lalu dia melanjutkan mengambil barang-barang yang sudah ada di daftar belanjaannya. Sesekali kalau melewati bagian yang ingin dicari, Adit juga langsung mengambil belanjaan untuk dirinya.



“Ayah keluar aja enggak usah antre, Bunda yang antre di kasir,” kata Dinda saat mereka selesai belanja.



“Bunda aja yang bawa anak-anak, Ayah biar yang antre di kasir,” tolak Adit sambil mendorong Dinda untuk membawa anak-anak. Dia yang akan membayar semuanya bukan Dinda.



Dinda mengajak kedua putranya untuk duduk di depan kasir. “Kita tunggu ayah ya,” kata Dinda pada dua putranya dan tanpa rewel kedua jagoannya menurut memperhatikan ayah mereka yang sedang antre untuk membayar belanjaan.



Adit membayar semuanya dengan rasa senang, bukan soal jumlah besar kecilnya uang yang harus dia keluarkan, tapi pengakuan dari Dinda bahwa dia boleh membiayai belanjaan hari itu. Itu hal yang sangat penting buat Adit.



Saat Adit sedang memasukkan belanjaan ke dalam bagasi mobil dari jauh Meliana melihat Dinda dan kedua anaknya.



‘*Mereka sangat bahagia, tapi aku tetap akan mencari celah untuk mendapatkan Adit, hanya aku harus cari jalan halus sehingga tidak ketahuan seperti kemarin*,’ pikir Meliana. Rupanya dia belum kapok mencoba menggaet Adit.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang beda thema dari novel yang biasa eyank tulis. Kita masuk thema HOROR dan ini berdasar kisah nyata yang di kembangkan.


Cuzz ke novel dengan judul CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK yok