
“Sudah ada kabar Paman?” tanya Ajat pagi ini pada Rustam. Dia ingin tahu apakah ada keluarga yang tahu di mana Wiwik atau ibunya tinggal atau ada yang punya nomor telepon Wiwik atau ibunya yang baru.
“Belum belum ada yang punya nomor telepon baru. Mungkin nomornya baru mereka ganti saat akan melaksanakan penculikan. Karena keluarga tidak ada yang tahu juga. Tidak ada yang menampung mereka terlebih sudah saya beritahu apabila mereka tahu keberadaan tetapi tidak memberi info pada polisi akan dikenakan pasal bekerja sama melindungi penjahat,” ucap Rustam.
“Bagaimana kondisi Santi saat ini?”
“Ini sudah habis infus botol kedua, masih lemah. Tapi alhamdulillah tadi bosnya dari kantor datang mau dia makan bubur sumsum setelah diberi nasihat panjang lebar oleh bosnya.”
“Alhamdulillah kalau dia sudah mau makan dan minum sedikit. Karena Rustam tahu sejak semalam Ajat bilang Santi tidak mau makan atau pun minum apa lagi bicara.
Saat Wika dan Ilham ke sana sore setelah pulang kerja kondisi Santi makin menurun. Dia sudah sangat lemas dan no respon.
“Menurut aku lebih baik dibawa ke rumah sakit deh Kang. Bisa bahaya buat bayinya,” kata Puspa pada Ajat melihat Santi yang sudah sangat lemah dan tidak respon sama sekali.
“Benar, aku setuju. Lebih baik dibawa ke rumah sakit,” kata Wika.
“Aku nggak mau terjadi apa-apa yang membahayakan janin juga Santi.”
“Baik aku akan bawa ke rumah sakit,” jawab Ajat. Memang tadi ibunya Santi juga bilang lebih baik dibawa ke rumah sakit karena Santi sama sekali sudah tak respon sejak Dinda pulang pagi menjelang siang tadi.
“Pa. Papa yang ke kantor polisi ya. Aku langsung bawa Santi ke rumah sakit,” kata Ajat pada papanya.
“Ya biar papamu sama Ayah yang ke kantor polisi. Sini copi laporanmu. Jadi polisi nggak bingung nyari data yang mana yang kita tanyain,” ucap ayahnya Santi.
Wika dan Puspa serta Ilham ikut mengantar Santi ke rumah sakit. Mereka sangat cemas melihat kondisi Santi.
“Ada kabar? tanya Rustam saat mendapat telepon dari Ajat.
“Belum kalau soal Farouq. Kabar terkini adalah Santi no respon sama sekali dan makin lemah. Dia no respon terhadap apa pun. Sekarang kami sedang perjalanan ke rumah sakit. Aku sangat takut,” kata Ajat. Dia mulai terisak.
Marini yang mendengar itu karena telepon di loudspeaker oleh suaminya ikutan menangis. Dia yang perempuan saja sedih mendengar Ajat seorang lelaki sampai sedih seperti itu mengetahui kondisi istrinya.
“Benar-benar hal ini sangat mengguncang jiwanya Santi rupanya,” kata Marini setelah telepon diputus.
Marini dan Rustam bersiap akan berangkat ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Santi. Mereka jadi tidak enak karena yang melakukan adalah sepupunya Rustam yaitu ibunya Wiwik.
Sepanjang perjalanan Marini kembali menghubungi kerabat suami untuk mengetahui khabar terbaru. Dia sangat kasihan terhadap perempuan sebaik Santi.
“Apa sudah hubungi rumah di Ciranjang dan di Majalengka?” tanya seorang kerabat.
“Ada nomor telepon yang tinggal di sana biar aku hubungi. Biar mereka juga tahu kalau melindungi Teh Menik dan Wiwik bisa berdampak di penjara.” jelas Marini.
“Aku akan kirim nomor mereka di pesan,” jawab yang tadi menyarankan agar menghubungi kerabat di Ciranjang ( Cianjur ) dan Majalengka.