GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
FOTO MAKAN MALAM



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Ghibran dan Ghifari tidak rewel di hari pertama sekolah baru mereka.  Ghibran dan Ghifari berkenalan dengan para miss-nya dan mulai berinteraksi dengan sesama teman sekelasnya. Usia mereka sudah lebih mudah mengenal lingkungan baru jadi tidak rewel.



Bu Asih memperhatikan bagaimana Dinda mengopeni anak-anak baik selama di mobil mau pun sejak turun dari mobil dan sampai di dalam kelas.



“Anak Bunda pintar. Bunda akan duduk di sini menunggu kalian belajar,” kata Dinda menunjuk kursi penunggu dipinggir kelas. Dinda tidak memangku putra-putranya seperti beberapa ibu yang lain padahal ini sudah tengah tahun pelajaran.



Anak-anak Dinda hari pertama sudah duduk sendiri tanpa dipangku orang tuanya.



Saat Miss atau guru mengenalkan tentang warna Ghibran dan Ghifari langsung menyebutkan semua warna yang ditunjukkan oleh Miss atau gurunya tersebut tidak ada kesalahan.



Untuk gerak motorik Ghibran dan Ghifari makan tanpa kesulitan. Mbok Asih memuji Dinda yang selalu membiarkan anak-anak makan sendiri di rumah sehingga saat di sekolah terlihat bagaimana kemandirian Ghibran dan Ghifari. Tidak seperti anak lain yang masih terus disuapi oleh baby sitter atau ibunya yang menunggu di ruangan tersebut padahal beberapa usianya lebih tua dari si kembar. Dan mengurus satu anak tentu tak sesulit anak kembar kan? Dinda malah lebih berhasil padahal tingkat kesulitannya lebih tinggi.



“Bu Dinda ini ada uang di saku celana kotornya Mas Adit,” lapor Bu Siti sambil memberikan bill tempat makan juga kembalian. Dinda melihat menu yang dimakan dan habis berapa.



‘*Ini tentu bukan menu satu orang karena ada banyak menu juga ada beberapa jenis minuman bukan satu minuman*.’



‘*Oh pantes tadi malam dia pulang malam dan pagi dia tidak bangun untuk mengurusi anak-anak mungkin masih terbayang-bayang dengan perempuan tersebut*.’



Dinda ingat tadi malam dia mendapat foto dari nomor yang tak dikenal, foto saat Adit makan berdua dengan seorang perempuan. Ada beberapa foto dan hanya Adit berdua dengan seorang perempuan.



“Oh iya Bu Siti, makasih. Nanti aku kembalikan ke Mas Adit. Sekarang aku mau langsung berangkat kantor,” kata Dinda.



Dinda menaruh uang kembalian dan bon pembayaran di meja kecil dekat tempat tidur Adit di kamar yang Adit gunakan.  Sengaja dia taruh di  meja agar nanti Adit langsung bisa melihat uang kembalian dan bill makan tersebut. Sebelumnya sengaja Dinda buat foto bill dan juga jumlah uang kembalian. Dinda takut uang hilang karena dia geletak sembarangan.



Di kantor Dinda langsung sibuk dia tak mau lagi perpanjang kata. Dinda juga tidak menyambangi Eddy saat makan siang, Dinda membawa makan siang sendiri dan tidak membawa makanan siang buat Eddy apalagi buat Adit.



Eddy sejak tadi tahu Dind sudah datang ke kantor, tapi tak juga datang ke ruangannya. Tentu saja itu membuat Eddy bingung. Ada apa lagi? Eddy tidak menunggu Dinda membawakan dia makan siang. Dia langsung pesan buat dirinya sendiri.




“Papa kira kamu enggak makan di sini,” jawab Eddy santai.



“Ya pasti makan di sinilah,” jawab Adit.



“Bukannya kamu lebih senang makan dengan perempuan di cafe seperti yang kamu lakukan semalam?” tanya Eddy santai. Dia mulai menyuap makan siangnya.



“Maksud Papa apa?” tanya Adit bingung.



“Papa punya foto kamu makan berdua dengan perempuan semalam. Itu sebabnya kamu pulang terlambat tanpa lapor Papa mau pun Dinda. Kamu membuang waktu bermainmu dengan anak-anak demi perempuan itu.”



“Papa enggak tahu siapa yang kirim, tapi Papa dapat tadi malam. Papa juga enggak tahu apakah orang tersebut mengirim pada nomornya Dinda atau tidak,” jelas Eddy.



“Aku enggak sengaja ketemu perempuan itu dan aku bukan sengaja enggak main dengan anak-anak demi perempuan itu,” bantah Adit.



“Apa Dinda salah kalau dia juga punya pikiran yang sama dengan Papa bahwa kamu sengaja balas dendam pergi dengan perempuan lain setelah Dinda izin pada Papa bertemu makan siang dengan temannya?”



“Dinda pergi siang, kamu pergi malam. Dinda pergi izin, kamu pergi diam-diam. Bahkan Papa enggak akan tahu kalau enggak ada yang kirim foto. Kamu akan ketiban masalah lagi dan sekarang akan tambah runyam setelah kemarahan Dinda kemarin siang.” Eddy tak bisa lagi membantu apa pun.



“Siapa Pa yang kirim? Dan foto apa? Coba aku lihat,” pinta Adit penasaran. Adit jelas mengerti dua perbedaan Dinda pergi dengan sang dokter dan dia makan malam dengan Angelica.



 Eddy memperlihatkan ponselnya di sana ada 4 foto Adit dengan berbagai pose bersama seorang perempuan dan Adit tahu itu adalah Angelica saat Dewi pergi ke toilet.



Adit pucat spasi mendapat fakta bahwa dia sudah mulai diincar orang dengan mengirimkan foto dia pergi kencan bersama perempuan lain. Adit sungguh takut kalau foto tersebut sampai ke tangan Dinda.



Adit tak tahu kalau foto itu memang sudah sampai ke tangan Dinda



Nah lho!


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR yok.