GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
KEMBALI DIREVISI DINDA



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



“Ini ada perubahan?” tanya Dinda sambil melihat bagan yang disiapkan oleh Bagas dan draft permintaan dari Meliana.



“Iya Bu, bagian ini minta berubah seperti ini layoutnya,” lapor Bagas dan menerangkan dengan rinci pada Dinda. Meliana melihat bagaimana Dinda diskusi dengan Bagas soal teknik.



‘*Dia sangat hebat, sampai bisa lebih detail dari arsitek, memang sangat berbeda jauh dari Adit*,’ batin Meliana memuji kemampuan Adinda.



“Saya rasa enggak bisa seperti itu Gas. Ini kamu posisikan di sini nanti akan bahaya. Kalau secara umum memang bisa seperti desain kamu. Tapi aku sebagai orang tua sudah tahu kalau kamu bikin seperti yang ada di desain, nanti bahaya buat penjaga. Karena dia tidak bisa cepat lari apabila anaknya terjatuh atau butuh bantuan,” jelas dia Dinda melihat design Bagas tersebut.



“Jadi sebaiknya bagaimana Bu?” Bagas minta saran pada Dinda seperti biasa di setiap proyek yang dia tangani.



“Seperti yang tadi saya bilang lokasi kan ini yang saya lingkari ke  tempat ini,” kata Dinda sambil melingkari bagian yang dia maksud dengan pensil lalu dia memberi tanda √ pada lokasi yang baru.



“Yang lainnya kamu sesuaikan,” Dinda memberi petunjuk pada Bagas dengan teliti dan detail tanpa terkesan menggurui.



Petunjuk dari Dinda itu sudah bukan hal aneh karena memang walau dia bukan insinyur tapi semua desain kantor itu selalu dari persetujuan Dinda.



Bagas tentu senang kembali mendapat arahan dari Dinda setelah hampir 2 tahun Dinda tak aktiv di perusahaan. 5 bulan di rumah sakit lalu sekarang usia anak-anaknya 1,5 tahun. Sangat lama Dinda tak aktiv di kantor tapi pikirannya masih saja se tajam sembilu. Masih bernas memberi ide. Luar biasa.



“Dan ini materinya terlalu berat, enggak bagus buat lokal sebesar ini Gas. Masa kayak gini aja harus saya koreksi sih,” kata Dinda.



“Itulah Bu, kemarin enggak dikoreksi dari awal sama Ibu jadi saya pikir nggak ada permasalahan,” kata Bagas merendah.



“Ya kalau Papa sama Mas Adit emang enggak seperti aku kalau soal materi kamu tahu dong aku paling cerewet. Tolong kamu ubah ya materinya cari yang lebih bagus tapi bahannya lebih pas,” pinta Dinda.




“Baik Bu besok akan saya kasih datanya ke Ibu,” jawab Bagas.



“Anak-anak sudah selesai belajar saya sama Mas Adit mau pulang sopirmu bisa bawa mobil Mas Adit nggak?” tanya Dinda.



“Bisa sih Bu bukan sopir sih, tadi saya minta adik sepupu suruh nganterin karena saya masih ngantuk,” kata Bagas.



“Ya sudah. Tolong bawa mobil Mas Adit sampai kantor ya,” pinta Dinda.



Tanpa menunggu persetujuan Adit Dinda memutuskan mobil Adit di bawa pulang ke kantor saja, karena dia yakin Adit sependapat dengan dirinya, tak mungkin anak-anak pulang tanpa Adit. Anak-anak bisa histeris dan malah lebih bahaya buat kejiwaan anak-anak. Dinda tak mau hal itu terjadi.



“Baik Bu berikan saja kuncinya ke keponakan saya. Orangnya ada di mobil saya kok. Paling dia yang sekarang tidur,” kata Bagas.



“Ya sudah saya duluan ya kasihan anak-anak capek dan lapar,” pamit Dinda.



“Baik Bu hati-hati,” jawab Bagas.



 ”Mari Ibu saya pamit dulu, anak-anak sudah selesai belajar mereka terlalu lelah kalau harus menunggu ayahnya selesai di sini,” kata Dinda pamit kepada Meliana.



“Iya terima kasih Bu,” jawab Meliana sopan.


\*\*\*


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  yok