
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Ayo balik ke kamar,” ajak Adit.
Hari ini anak-anak memang mulai dilatih untuk tidur di kamar mereka. Mereka sudah umur 2 tahun waktunya pisah kamar tidak digabung lagi dengan orang tua. Tapi tentu kamera CCTV sudah ready dan pintu penghubung tak akan ditutup.
Memang itu yang Dinda dan Adit terapkan. Mereka dulu sudah bilang kalau 2 tahun anak-anak akan di pisah, dan sekarang anak-anak 2 tahun.
Malam ini mereka mulai di pisah dari dengan menggunakan bed sendiri-sendiri. Bed mereka berbentuk mobil-mobilan dan tidak tinggi sehingga nanti kalau mereka bangun mereka bisa langsung turun dari ranjang dan menghampiri kamar kedua orang tuanya tanpa kesulitan.
Selain itu di bawah ranjang juga diberikan kasur lipat yang tebal agar kalau mereka jatuh tidak sakit.
“Bismillah ya Mas, ini malam pertama mereka tidur sendiri di kamar itu.”
“Ya kan kita bisa pantau, ****tiap saat****. Itu kamera CCTV kamar anak-anak khusus ke meja kita kan bisa kelihatan,” Adit mencoba menenangkan Dinda yang masih merasa tak tega anak-anak pisah kamar.
“Mas jangan lupa lho setiap saat harus langsung pakai baju.”
“Dan tiap saat harus pastikan pintu terkunci dulu.”
“TIAP SAAT apa Yank?”
“Tahu ah, sukanya godain aja,” Dinda tersipu malu.
“Ya kasih tahu aja, jelasin maksud maksudnya apa?” tanya Adit.
“Mas kan sudah tahu sendiri,” kata Dinda malu-malu.
“Ya kan lebih enak kalau dijelaskan dengan kata-kata yang gamblang tidak dengan kata-kata tiap saat,” goda Adit.
“Ya kalau orang pintar pasti ngertilah apa yang aku maksud,” balas Dinda.
“Kalau gitu gimana kalau kita sekarang tiap saat? Kita kunci dulu pintu penghubung baru nanti dibuka kalau sesudah tiap saat?” kata Adit sambil mulai menyerang Dinda.
“Iiiih Mas, kunci dulu kamarnya aku takut mereka bangun,” jawab Dinda lagi.
Adit pun terpaksa turun dari ranjang dan mengunci pintu penghubung.
“Walau kecapean ingat tetap harus buka pintu, jangan sampai mereka cari-cari dan keluar kamar dari pintu luar.
“Mas sudah kunci sih pintu kamar mereka yang keluar, jadi mereka enggak bisa keluar kalau enggak ke sini. Mas takutnya mereka keluar lalu langsung turun di tangga itu bahaya,” kata Adit.
Lalu tanpa jeda mereka melakukan tiap saat yang tadi Dinda bilang.
Adit dan Dinda sedang salat subuh berjamaah ketika dari belakang tubuh Adit ada yang menaikinya, siapa lagi kalau bukan si aktif Iban. untungnya mereka sudah selesai di salam terakhir. Sedang Fari langsung menaruh kepalanya di pahanya Dinda. Meneruskan berbaring bermalasan.
“Wah anak Ayah sama anak Bunda sudah pada pintar bobok sendiri ya. Ayo sekarang kita pipis dulu baru peluk lagi sama Ayah sama Bunda,” Adit langsung membuka sarung dan pecinya. Dia berikan pada Dinda. Adit membawa kedua putranya untuk segera ke kamar mandi. Dia buka diapers malamnya dan diganti dengan celana biasa.
“Sudah rapi. Ayo kita ke Bunda,” ajak Adit.
“Ayo kita bangunin kakek,” ajak Adit.
“Biarin Bunda bikin sarapan,” Adit membawa kedua putranya ke kamar kakek Eddy.
“Wah cucu Kakek sudah bangun?”
“Ya Kek, mulai tadi malam mereka sudah tidur di tempat tidur mereka masing-masing.”
“Enggak rewel Dit?”
“Enggak, mungkin karena kecapean. Tapi saat mereka bangun kan enggak ada kami, mereka bisa turun sendiri, lalu ke kamar kami.”
“Aku pas lagi salat Iban langsung naik ke punggungku.”
“Astaga, untung kalian sudah selesai salatnya.”
“Alhamdulillah sudah. Fari juga langsung tidur di pangkuan Dinda,” Kata Adit.
“Alhamdulillah, kalau mereka sudah bisa di kamar mereka tanpa rewel,” kata Eddy.
“Iya Pa, mungkin biar nggak ganggu kalau adiknya lahir.
“Amin,” kata Eddy. Eddy pun berharap Adit segera punya tambahan momongan.
Sampai saat ini Eddy belum cerita bahwa dia bertemu dengan Shalimah, dia tidak mau mengganggu stabilitas rumah tangga anaknya. Eddy sangat takut karena Adinda suka labil.
“Papa hari ini kerja?” tanya Adit.
“Tanggung Dit, besok aja lah sekalian hari Senin,” jawab Eddy.
“Alhamdulillah,” kata Adit.
“Kenapa?” tanya Eddy.
“Dinda minta kita bawa mereka salat Jumat Pa, satu di gandeng papa pakai CSW, satu di aku. Jadi masing-masing pegang satu biar mereka belajar salat berjamaah secara fakta di masjid.”
“Bagus. Alhamdulillah. Iya Papa setuju. Apa setiap Jumat kita bolos aja biar bisa bawa mereka ke masjid,” kata Eddy.
“Yeeeee, itu mah maunya Papa. Aku juga enggak nolak. Mereka langsung terbahak-bahak dan tentu saja sih kembar ikut terbahak-bahak itu mendengar kakek dan ayahnya tertawa walau mereka tak tahu apa yang orang tua itu bicarakan.
Eddy membawa keduanya ke kebun belakang, seperti biasa Eddy selalu berolahraga dengan kaki telanjang di batu-batu alam.
Ghibran dan Ghifari mengikuti kakeknya berlari di batuan tanpa alas kaki juga.
“Wah hebat cucu Kakek,” Eddy memuji kedua cucunya.
Adit mengambilkan bola untuk mereka tendang. Bola yang baru dia beli ketika anak-anak sudah berangkat ke Australia lebih dulu dari dia. Adit sudah janji akan membelikan bola buat keduanya.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok.