GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
PISANG REBUS FEAT RUJAK SERUT



“Wah asyik nih ada pisang rebus,” kata Velove yang baru datang. Puspa memang bawa pisang rebus. Kalau mereka ngumpul memang makanannya harus yang serba enak seperti itu. Bukan serba mewah, harus dibedakan antara enak dan mewah ya. Yang mewah belum tentu enak, karena enak itu berkaitan dengan cita rasa.


“Tapi jodoh enggak ya sama rujak serut bawaanku?”


“Jodoh-jodoh aja lah, mereka ketemu di perut juga enggak pada protes koq,” kata Puspa.


“Kamu sendirian?” tanya Velove.


“Enggak aku bawa si sulung. Kasihan ibu dan Ratmi kalau sampai aku tinggal dua-duanya. Dia sedang main dengan Mas Fari kayanya,” jawab Puspa.


“Mbak sama siapa? Sendiri?” tanya Puspa. Dinda sedang memberi ASI jadi belum keluar.


“Aku sendirian,” jawab Velove.


“Loh anak-anak?” tanya Puspa.


“Lagi ada eyangnya, jadi pada enggak mau ikut,” jawab Lovvy atau Velove. Eyang di sini maksudnya adalah ibunya Bagas. Papanya Bagas tidak datang karena masih bekerja di luar kota. Makanya istrinya ngungsi ke rumah Bagas.


Mereka akhirnya mulai diskusi soal barang yang akan mereka beli lagi sat Dinda sudah keluar. Semua anak di bawah pengawasasan Adit wlau dibantu bu Tari dan mbok Asih.


“Eh tunggu stop. Aku pengin tanya itu vasektomi bagaimana?” tanya Velove. Dia membuka peluang untuk membicarakan rumah tangganya lebih dulu padahal itu yang ditunggu oleh Dinda.


“Maksudmu bagaimana apanya?” tanya Dinda memancing.


“Iya soal penyalah gunaannya. ‘Kan kalau laki-laki sudah divasektomi, dia bebas kan nyelup sana nyelup sini. Tidak takut bakal bisa menghamili seseorang,” jawab Lovvy.


“Iya betul, seorang lelaki yang sudah vasektomi tidak bisa lagi membuahi seorang perempuan mana pun, karena saluran spermanya sudah diikat. Sehingga ****** tidak akan mungkin keluar pada saat ejakulasi yang keluar hanya air mani saja,” jelas Dinda.


“Apa enggak ada bedanya?” tanya Puspa dengan polos.


“Enggak ada bedanya. Kalau soal air mani cuma tidak ada benih saja. Dulu kan awal-awal Mas Adit juga seperti itu. Tidak ada benih. Jadi kalau beda di cairan itu tidak ada.” tanpa ragu Dinda menjelaskan pada kedua yu-niornya itu.


“Terus masalah penyalah gunaannya bagaimana?” desak Lovvy.


“Penyalah gunaannya itu tergantung orangnya. Memangnya orang yang tidak vasektomi enggak berani selingkuh?”


“Berani aja kan? Mereka bisa pakai kon-dom, bisa yang perempuannya pakai kontrasepsi. Sekarang pelakor atau pela-cur kan pasti juga enggak mau hamil. Mereka pasti pakai kontrasepsi kecuali pelakor yang memang menjebak untuk mendapatkan laki-laki. Mereka pasti akan membuat dirinya hamil agar bisa jadi istri simpanan!”


“Biasanya yang seperti itu itu yang cari payung, agar enak berlindung. Dia enggak mau susah-susah payah. Jadi dia ngambil orang yang sudah punya istri.”


“Orang sudah punya istri umumnya kan penghasilannya sudah mapan. Padahal itu adalah berkat doa istrinya,” kata Dinda memancing-mancing.


“Kalau dia memang mau benar, harusnya dia cari bujangan mapan jangan cari suami orang.”


“Aku paling benci kalau sudah ngomong pelakor atau pela-cur, karena aku jadi janda adalah korban mereka,” kata Puspa geram. Bagaimana tidak geram kalau di dalam rumah tangganya adem ayem, tak pernah ribut dan dia juga tak pernah menyangka suaminya yang sholeh suka jajan.


“Tapi yang aku tahu pasti kita tuh janda berkelas. Kita enggak mau sembarangan terima orang. Waktu aku jadi janda ada dua orang yang kejar aku sampai jungkir balik. Yang satu seorang pengusaha dan satu dokter. Keduanya benar-benar serius yang dokter seorang duda istrinya juga selingkuh dan punya satu anak perempuan lebih tua 2 tahun dari anak-anak aku.”


“Yang bujangan kemarin kami ketemu di Solo dia sudah nikah sama janda beranak satu. saat itu istrinya juga sedang hamil.”


“Dari situ jelas kan, kalau aku enggak ingin ngerebut suami orang. Karena aku tahu sakitnya hati seorang istri yang diselingkuhi.”


“Aku berharap kamu enggak akan pernah jadi janda Lov,” kata Dinda.


“Kemungkinan aku akan merasakan itu sebentar lagi.” jawab Lovvy.


Puspa tentu saja kaget tapi Dinda juga pura-pura kaget


“Ngawur kamu. Bagas setia gitu kok,” kata Dinda.


“Iya Pak Bagas tuh diem dan setia kayak Pak Radit,” ucap Puspa, setuju dengan pendapat kepala suku.


“Kalian enggak tahu aja aku sudah mengajukan gugatan cerai,” jawab Lovvy.


“Apa?” teriak Dinda dan Puspa hampir bersamaan.


“Serius aku sudah ngajuin gugatan cerai,” jawab Lovvy datar.


“Masalahnya ada apa Mbak?” tanya Puspa tak percaya.


“Awalnya aku juga enggak tahu, sering masuk nomor yang disembunyikan dia bilang dia adalah pacarnya Bagas. Mulanya aku pikir orang iseng. Jadi tak pernah aku balas atau aku respon apa pun.”


“Terakhir dia tinggalin pesan : kalau kamu enggak mau percaya sama aku, besok kamu lihat aku tinggalin tissue bekas lipstik ku di bawah karpet kursi depan. Kamu harus buka karpetnya karena enggak akan terlihat langsung. Begitu pesan yang bikin aku penasaran.”


“Besoknya aku sengaja ke sekolah si sulung ikut mobilnya Bagas dan bukti itu benar aku temukan. Apa aku harus diam aja? Itu jelas-jelas kan setiap hari Bagas bawa perempuan itu. Aku harus diam?” jelas Velove. Dia tidak menangis karena hatinya sudah teramat sakit. Sudah tak ada lagi air mata yang tersisa karena sudah dihabiskan sebelumnya.


“Mungkin kamu dijebak,” kata Dinda.


“Mungkin dia hanya ingin agar kamu berpisah dengan suamimu dan dia mendapat peluang untuk menjadi istrinya Bagas.”


“Kamu ingat perjuangan kamu waktu buat bersatu dengan Bagas. Kamu sampai pindah keyakinan kamu, karena kamu yakin akan cinta Bagas. Sekarang perjuangan kamu itu mau kamu buang aja? Kamu enggak perhitungkan semua itu?”


“Kamu pernah dikucilkan oleh keluarga besarmu saat awal pernikahan. Mereka baru mulai mendekatimu ketika si sulung lahir. Apa perjuanganmu itu harus kamu tendang gara-gara kamu diberi info yang belum tentu benar?”


“Aku enggak bela Bagas. Kita sama-sama perempuan. Aku tahu sakitnya dikhianati. Inget enggak kasusnya Angelica? Ada orang yang sengaja bikin foto biar aku curiga ke mas Adit. Kamu sama seperti waktu aku melihat Mas Adit dipepet oleh perempuan-perempuan itu. Tapi pasti ada penjelasan di belakang itu.”


“Kasus lain yang bikin aku memutuskan bercerai adalah tiap hari aku lihat di CCTV bagaimana Merrydian nempel suamiku, tanpa suamiku menolak karena dia pikir enggak enak. Aku curiga bahwa suamiku memang keenakan di perlakukan seperti itu.”jelas Dinda.


“Aku punya bukti lain kok selain itu,” bantah Velove.