GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SANTI BENCI SANTI



“Sejak itu anak tersebut tak pernah menangis atau teriak. Tapi tetap meneteskan air mata saja. Anak itu tidak mau makan apa pun sama sekali. Kalau dia sedang diam atau tidur sesekali saya suapi air gula agar dia tidak terlalu lemas. Kadang dia masih mau menelan satu atau dua sendok, selalu saya berikan air gula terus saya takut dia sampai kenapa-napa.”


“Kadang kalau tidur anak itu akan memanggil-manggil mami mami dan mami hanya itu yang saya tahu. Saya bahkan tahu nama anak itu dari Bu Santi atau Bu Wiwik yang bilang anak itu namanya Farouq tetapi anak itu tak pernah mau bicara apa pun.”


“Hari ketiga anak itu buang air berbusa dan bau. Bu Santi marah. Saya sarankan anak itu dikembalikan saja ke orang tuanya. Tapi bu Santi tak mau. Malamnya saya dengar bu Santi ribut dengan adiknya.”


“Buat apa dipelihara anak sekarat itu. Kabari aja si Ajat dan minta tebusan. Kan bisa buat hidup kita. Begitu kata adik bu Santi.”


“Bu Santi bilang dia enggak niat cari tebusan. Niat aku cuma nyakitin istrinya yang sok kecakepan. Mana namanya samain sama aku. Kalau ni anak yang katanya dia sayang ilang, kan dia bakal sedih. Paling dia perempuan mandul yang pengen anak orang. Begitu kata bu Santi pada adiknya Pak.”


“Emang kenapa kamu benci dia? Tanya adiknya. Dan bu Santi bilang : aku kesel aja ama Ajat. Ama perempuan jelek gitu, cinta setengah mati. Dulu aku jungkir balik ngejar cinta dia aja dia enggak mau. Itu yang saya dengar Pak.”


“Kan kemarin niat mau ambil tu anak buat morotin Ajat. Kenapa sekarang niatnya malah cuma bikin sakit hati bininya doang? Tanya adiknya.”


“Akhirnya di hari keempat Bu Santi bilang lebih baik anak tersebut dibuang aja karena lihat kondisi anak itu makin lemah. Dia sudah susah jalan karena lemas. Itulah akhirnya besoknya anak tersebut ditaruh di mall dengan tulisan alamat rumah. Saya nggak tahu di mana alamat rumah itu. Yang nulis alamat adalah Bu Santi,” kata perempuan tersebut.


“Kalau sekarang saya disalahkan karena pengakuan saya ini, saya rela kok daripada saya tersiksa batin mengingat mata anak tersebut benar-benar mata yang sangat menikam saya. Saya kasihan melihat anak itu,” demikian pengakuan sang pembantu.


“Ibu tahu di mana alamat Bu Santi sekarang?” tanya polisi.


“Tahu Pak hanya di belakang rumah lama. Rumah lama itu memang mereka kosongkan dan mereka mengontrak di belakang rumah lama agar tidak ketahuan. Rumah lama sudah dijual karena nggak ada biaya buat makan lagi. Sekarang mereka ngontrak di belakangnya. Beda satu blok,” kata pembantu tersebut.


“Oke Ibu. Pengakuan Ibu kami terima dan untuk keamanannya Ibu sama Bapak lebih baik menghindar dari keluarga Bu Santi dulu. Melihat bagaimana kelakuan mereka seperti itu. Bisa bahaya buat keselamatan Bapak dan Ibu,” kata polisi.


“Atau kalau Ibu minta perlindungan kami, kami akan menjadikan Bapak dan Ibu sebagai saksi terlindung. Tapi rasanya nggak perlu juga. Terserah Bapak dan Ibu saja. Biar bagaimana pun kami akan melindungi Ibu sebagai saksi.”