
“Apa aku harus cari pekerjaan lain ya? Kalau seperti ini matilah awak!” kata Gultom sambil mengemudikan mobilnya.
Kalau dia mengajukan Sondang semua akan diberikan pada Sondang, baik gaji maupun bonusnya karena tadi seperti itu yang Dinda katakan dan data diri Sondang harus lengkap. Sondang pula yang harus maju ke kantor pada saat menandatangani berkas bersama dirinya yang menyatakan bahwa memang Sondang-lah istri resminya. Dia juga harus membawa surat nikah dan data diri Sondang lainnya.
“Aku nggak mungkin bawa bawa Niken ataupun Cilla. Kami hanya memang menikah gereja, tapi tentu tak ada keluarga yang tahu. Dan apa yang harus aku berikan pada Sondang bila Cilla atau Niken yang dapat keseluruhan uang itu? Sedang 2 anak-anakku dari Sondang butuh biaya sekolah yang besar.” Gultom makin bingung.
“Biasanya Sondang menerima semua gajiku untuk kedua anak kami. Kalau aku kerja tempat lain sama nggak ya gaji dan bonus serta fasilitas lainnya? Perusahaan ini yang paling besar memberikan income untuk semua kebutuhanku.”
Gultom makin bingung sedangkan lusa dia harus sudah melaporkan jati dirinya juga jati diri Sondang berikut surat nikah dan segala macamnya. Lalu nanti Sondang akan dipanggil menghadap ke bagian keuangan untuk memenuhi semua kelengkapan surat juga tanda tangan berkas.
“Kalau aku bawa Cilla atau Niken, kemarin yang aku kenalkan di family gathering adalah Sondang bersama inang pula. Tentu inang akan bingung kalau tiba-tiba Sondang dicoret dan diganti dengan Cilla atau Niken.”
“Dari Sondang pula keluargaku bisa mempertahankan sepetak tanah di kampung dulu. Kalau tidak, mungkin tanah itu sudah tergadai dan aku tak bisa melanjutkan kuliah. Jadi secara tidak langsung kuliah aku dulu ditopang oleh Sondang karena sepetak kebun itu tidak jadi digadai saat ayahku sakit. Sehingga terus menghasilkan kelapa walaupun sedikit untuk menunjang kehidupan kami dan juga untuk biaya kuliahku. Semua berkat Sondang perempuan yang memang aku cintai sejak dulu.”
“Cinta?” Gultom tersadar dengan kata-kata yang terakhir dia ucapkan.
“Kalau aku cinta Sondang, kenapa aku bermain dengan Cilla dan Niken?”
“Aku tidak mencintai semua perempuan itu selain Sondang. Aku hanya senang tantangan, bisa mendapatkan mereka setelah aku punya istri.”
‘Dulu sampai anak-anak TK pun aku tak punya niat mencari perempuan lain selain Sondang.”
“Tapi sejak bertemu dengan Cilla aku tertantang untuk menaklukkan dirinya sebagai seorang lelaki yang sudah punya istri! Ada kebanggaan tersendiri sudah beristri tapi ditaksir orang. Itu awal aku terjerat dengan Cilla sehingga sekarang anak kami sudah berumur setengah tahun. Cilla tahu aku punya istri Sondang. Dan dia mau menerima dirinya sebagai istri kedua. Aku tak menipunya mengaku sebagai bujangan. Itu sebabnya dia tak pernah menuntut aku selalu berada di sisinya tiap pulang kerja. Dia tak menuntutku untuk menginap karena dia sadar hanya istri kedua saja.”
“Lalu aku tertantang lagi dengan Niken perempuan yang aku temui di gereja saat aku ke kamar mandi. Padahal saat itu aku ke gereja bersama Sondang. Saat itu tak sengaja dia menabrakku dan kami berkenalan serta bertukar nomor telepon.”
“Niken juga tahu aku sudah punya Sondang. Beberapa kali kami bertemu di gereja. Dia tahu aku datang bersama Sondang padahal dia telah aku nikahi.”
“Bagaimana dengan Pratiwi? Aku tertantang dengan Pratiwi karena dia anak kemarin sore yang suka tersipu malu. Dia baru lulus SMA 2 bulan lalu dan mulai kerja di konter HP. Aku suka wajah tersipu malunya. Itu yang membuat aku tertantang untuk menaklukkan gadis muda itu.”
“Tapi kalau aku udah nggak punya duit lagi, gimana aku memberi nafkah para istriku? Kalau Pratiwi masih bisa lah. Mulai sekarang aku akan menjauh dari Tiwi. Tapi bagaimana dengan Cilla dan Niken?”
“Cilla sudah ada anak berumur 6 bulan dan Niken saat ini sedang hamil 5 bulan. Aku benar-benar tak punya jalan keluar saat ini,” keluh Gultom. Dia mematikan mesin mobilnya. Dia telah tiba di rumahnya. Dia harus bicara dengan Sondang masalah peraturan baru perusahaan.