
Sebagian pelayat atau orang yang bertakziah kembali ke rumahnya Santi. Tapi ada beberapa yang langsung kembali ke rumah masing-masing. Pegawai dari kantor Dinda, terutama cabang dari Santi tentu semuanya pulang ke rumah Santi dulu. Di rumah Santi ibunya sudah menyiapkan makan siang. Tidak mewah. Makanan yang cepat dan mudah dibuat saja. Yaitu nasi, sop ayam, ayam goreng, sambal dan tempe goreng. Menu sederhana yang cepat dimasak dan cepat disajikan. Ada tambahan beberapa bawaan orang-orang. Ada tumis tempe, ada mie goreng dan sebagainya semua di persiapkan dan dikeluarkan oleh ibunya Santi agar tidak mubazir semuanya kemakan oleh orang yang datang.
“Bu Ponirah sebelum saya pulang, saya ingatkan dulu ya. Ibu nggak usah ke mana-mana Ibu nggak usah cari kerja di mana pun. kalau Bu Santi nanti tidak terima Ibu kerja di sini. Ibu kerja sama saya,” kata Dinda. “Tapi saya yakin Bu Santi pasti menerima Ibu di sini. Jadi Ibu nggak usah cari kerja lagi,” kata Dinda.
“Suami Ibu biasanya kerja apa?” tanya Dinda lagi.
“Suami saya itu dulunya tukang bangunan. Dia itu pulang seminggu sekali jadi saat saya kerja di Bu Wiwik biasa dia datang hanya hari Minggu sore sampai Senin. Nanti dia kembali lagi hari Senin sampai Sabtu. Karena kadang gajiannya Sabtu malam. Dia kan gajiannya seminggu sekali. Tapi sekarang sudah susah karena tenaganya sudah lemah. Mandornya sering menegur. Karena pekerjaannya tidak sebagus waktu muda dulu. Namanya kuli ya begitulah,” kata Bu Irah.
“Oh begitu. Ya oke. Kalau begitu nanti dia Mischa jadi tukang kebun ya? Tukang kebun itu tidak selalu di rumahnya Pak Ajat. Dia akan berkeliling tiga di rumah eh dua hari mungkin di rumahnya Bu Santi. dua hari nanti di rumah saya, dua hari mungkin di rumahnya ibunya Santi dan seterusnya berkeliling. Jadi tidak menetap di satu rumah. kalau full juga akhirnya nanti nggak ada kerjaan. Jadi dua hari berkeliling terus. Tiap sore pulang ke rumah Bu Santi. Bagaimana? Mau? Paling dia menyiangi rumput, memotong ranting, yang namanya berkebun lah, memberi pupuk dan segala macamnya.”
“Iya Bu saya senang kok dibantu seperti itu. Kami juga bingung mau ke mana. Kemarin kami numpang di tempatnya adik selama keluar dari rumahnya Bu Wiwik. Kami nggak ngerti juga harus ke mana lagi karena memang kami tak punya rumah kontrakan sama sekali.”
“Iya Bu. Saya nurut aja,” jawab Bu Ponirah, dia tak menyangka hatinya yang tergerak menolong Farouq membuat hidupnya sedikit nyaman karena kalau pun dia tidak ditendang Wiwik. Setelah Wiwik di penjara tentu dia harus cari pekerjaan. Karena sekarang yang di rumah kontrakannya Wiwik hanya bapaknya saja. Ibunya dan anaknya sudah dipenjara. Siapa yang akan menggaji dia bila dia tetap bertahan di sana?
“Saya ke belakang dulu Bu. Bantu-bantu di dapur,” kata Bu Ponirah sambil turun dari mobil.
“Ya,” jawab Dinda.
“Dan ingat ya, kalau nanti di tempat Bu Santi kamu yang jagain Mischa penuh. Saya nggak mau Mischa sampai keteteran tidak ada yang ngawasin dia secara full.” kata Dinda.
“Iya Bu. Saya akan awasi den Mischa,” jawab Bu Ponirah lagi.