
“Masuk!” kata Icha ketika mendengar pintu kamarnya ada yang mengetuk. Opung sudah berangkat ke rumah sakit dan mama mereka belum pulang dari kantor. Sampai tadi mereka tahunya mama mereka pergi ke kantor. Mereka belum tahu sejak kemarin mamanya dapat cuti dari Dinda.
“Ada apa Eda?” kata Icha. Kadang dia memanggil EDA pada Tarida. Itu panggilan untuk Kakak perempuan dalam bahasa Batak. Tapi dia lebih sering memanggil Kakak karena teman-temannya suka menegur kalau dia memanggil Tarida dengan panggilan eda. Mereka mengira Icha memanggil Tarida dengan langsung ke namanya bukan sebutan eda atau Kakak perempuan.
“Kamu kepikiran nggak yang tadi tante Wika bilang?” tanya Tarida
“Iya Eda, aku jadi pikir kalau papa meninggal, kita bagaimana?”
“Entahlah. Tapi aku benci papa,” kata Tarida
“Tapi kan Tante Wika tadi bilang ada banyak alasan yang kita belum tahu Kak. Seperti papanya tante Wika, dia punya istri lain juga. Mamanya diemin saja. Nggak cerai kayak mama kita,” ucap Icha.
“Itu kan karena pertimbangan adik tante Wika masih kecil. Mama kan enggak. Mama merasa mampu kok kasih makan kita, jadi nggak perlu takut cerai dari papa.”
“Iya sih Kak, dan mama juga kan bolehin kita ketemu papa. Jadi kita nggak kehilangan sosok papa. Cuma kita saja yang benci karena papa bohongin kita,” balas Icha.
“Mungkin bohongnya itu yang kita nggak ngerti Kak. Apa yang dimaksud bohong oleh orang tua, tadi kan Tante Wika bilang begitu. Ada rahasia yang kita nggak ngerti kenapa papanya tante Wika menikah lagi sama orang di kantornya itu.”
“Jadi kita harus bagaimana?” tanya Tarida.
“Bagaimana kalau kita bilang ke mama besok kita nengokin papa. Besok kan hari Sabtu, sekolah libur. Kita tengokin saja. Kita bilang ke papa supaya cepat sembuh. Kalau Kakak belum bisa memaafkan ya sudah cuma bilang begitu saja. Bagaimana?” kata Icha yang lebih dominan dalam berpendapat dibandingkan kakaknya.
“Ya sudah, nanti kita bilang begitu sama mama. Kita bilang saja pengen tahu kabar papa nggak usah bilang kita mau maafin,” jawab Theresia.
Sondang langsung mempersiapkan sayuran yang hendak dia masak untuk makan malam hari ini. Dia ingin memasak arsik ikan mas khas Medan. Ikan mas dan semua bumbu sudah disiapkan oleh bibik, dia tinggal mengolahnya saja.
Sondang memperhatikan jumlah nasi apakah masih cukup untuk makan mereka berempat bersama bibik. Tadi opung sudah bawa untuk makan malam. Opung sekarang juga tidak beli makanan di luar tapi bawa dari rumah saja. Karena kalau dia beli kadang kurang cocok dengan seleranya. Lebih enak bawa makanan dari rumah. Bukan soal pengiritan tapi soal selera.
“Bu itu tadi ada bihun goreng dua porsi,” kata bibik.
“Lho kok banyak banget?”
“Iya, yang satu sudah sebagian dibawa opung sih. Tadi opung bawa pulang oleh-oleh itu sehabis pergi dengan anak-anak,” jelas bibik.
“Wah kalau begitu ikannya jangan dimasak sekarang lah. Nanti nggak kemakan.” Sondang jadi ragu masak ikan mas.
“Atau bihunnya saja disimpan buat sarapan besok pagi. Ikannya biar saya masak sekarang,” putus Sondang.
“Ya Bu. Bihun gorengnya buat besok pagi saja. Kalau ikan buat besok pagi kurang cocok,” jawab bibik.
Bihun yang dibelikan Wika tadi disimpan di kulkas karena kalau terlalu banyak lauk sayang nanti malah basi tidak ada yang makan.
Sondang menyiapkan semuanya untuk makan malam kedua putrinya walaupun dia seorang karyawati dia tetap ibu rumah tangga, dia tetap ibu anak-anaknya, sehingga dia tetap menyiapkan makan malam dan sarapan anak-anaknya.