
Theresia dan Tarida mempersiapkan bekal mereka pagi-pagi. Mereka sebenarnya malas. Tapi daripada mengalami penyesalan panjang seperti kakak tante Wika, mereka pun bersiap.
“Ini bihunnya enak loh Ma, kemarin kami makan juga enak. Aku cobain spaghetti milik opung,” ucap Icha.
“Memang kalian makan di mana sama opung?” tanya Sondang.
“Oh kami lupa. Kemarin kami ketemu tante Wika Ma, terus dia mengajak kami makan es krim. Ya udah deh kami makan es krim sama tante Wika. Ini yang belikan juga Tante Wika,” kata Tarida.
“Wah pantesan kok tumben opung bawa pulang bihun ini. Biasanya kan opung makan di tempat makan yang kita datangi. Di resto itu nggak ada bihun,” jawab Sondang seakan tak tahu pertemuan anak-anak dengan Wika.
“Iya di tempat makan yang biasa dengan opung tak ada menu bihun, atau kita biasa makan di fast food. Kemarin tante Wika ngajak makan di gelatto itu Ma. Yang tempat aneka es krim tapi penuh pilihan makanannya juga,” jelas Icha.
“Pasti kalian senang ya makan es krim puas-puas?”
“Iya Ma. Tante Wika malah bawain kami dua kotak es krim. Nanti satu kotak mau kami bawa ke rumah sakit, buat kami makan di sana,” kata Tarida.
“Wah enak tuh makan es krim di rumah sakit. Kebetulan masih ada beberapa roti tawar. Kita bisa pakai itu,” ucap Sondang.
“Nanti buat opung kita belikan roti tawar baru saja, jadi lebih fresh. Yang lama kita makan pakai es krim.”
“Iya nanti pas mau berangkat jangan lupa ya ingetin soal es krim,” ucap Icha. Kalau sudah dikeluarkan sejak sekarang tentu akan cair.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Tarida dan Theresia lebih banyak diam. Mereka berpikir bagaimana perasaan mereka dan bagaimana keharusan mereka. Jujur mereka masih benci, mereka masih marah terhadap Gultom, tapi kalau dengar cerita Wika yang tidak menasehati atau menggurui mereka. Wika hanya bercerita tentang pengalaman pribadinya saja. Tapi itu membuat mereka harus datang menemui Gultom. Antara perasaan dan keharusan.
Sondang tetap diam, dia tidak mau mengajuk hati putri-putrinya.
“Ayo turunkan semuanya, jangan sampai kalian harus bolak-balik ke sini. Mama bawa es krimnya biar kalian bawa ransel kalian masing-masing,” kata Sondang. Tadi Tarida juga membawa banyak bihun untuk cemilan mereka. Mereka suka bihunnya. Daripada di rumah tidak ada yang makan lagi, maka semua sisa bihun dibawa oleh Tarida. Tentu dia juga membawa saus bihunnya jadi nanti tetap makannya pakai saus sambel sesuai seleranya.
“Kalau makan siang biasanya Mama di mana?” tanya Icha mengamati lingkungan rumah sakit yang asing buatnya.
“Biasa suka keluar di cafe situ. Atau pesan saja pakai ojek online nanti mama tinggal ke depan bertemu dengan tukang ojeknya.” jelas Sondang.
“Karena kadang males juga. Makanan di sini kan seragam. Lagi banyak yang ngantri kalau jam makan siang. Jadi lebih enak pakai ojek online.”
“Oh kalau ada cafe, ya nggak perlu ketakutan lapar ya Ma. Walau kita jadi harus keluar,” ujar Tarida menimpali percakapan adik dan mamanya.
“Di sini banyak kok tempat makannya selain di cafe dalam. Ada cafe di luar rumah sakit, banyak di depan, maupun di samping. Tapi yang orang suka datangin ya pasti yang di dalam. Karena kan penunggu kalau bukan di kelas VIP nggak boleh keluar masuk sembarangan. Jadi karena itulah cafe di dalam yang lebih banyak laku untuk penunggu pasien.”
“Lumayan juga ya Ma rumah sakitnya, beda sama tempat kita konsultasi,” ucap Tarida.
“Tempat konsultasi kan klinik khusus. Bukan rumah sakit besar seperti ini. Waktu itu yang bawa papa ke sini itu orang dari kantor papamu. Jadi memang lebih dekat ke sini. Mama kan nggak pindahin mereka sudah urus sendiri. Ya udah, ngapain Mama urus?” kata Sondang lagi.