GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
ADA SESUATU DI ICE CREAM



Ajat tiba lebih dahulu dari Santi karena jarak kantornya memang lebih dekat daripada kantor Santi ke sekolah anak-anak mereka.  Dan lagi memang Santi minta pada sopirnya untuk dibawa pelan-pelan dan menghindari lubang atau polisi tidur agar perutnya tidak terbanting.


“Ada apa Mi?” tanya Ajat begitu melihat istrinya turun dari mobil perusahaan bukan naik taksi.


Santi tadi sudah bilang kepada sopir perusahaan untuk langsung balik saja. Dia kemungkinan tidak kembali ke kantor atau kalau dia kembali ke kantor nanti diantar oleh suaminya.


“Kita mau ke ruang ketua yayasan Pi,” kata Santi menerima kecupan dari suaminya. Kebiasaan Ajaat bila bertemu Santi dia langsung mengecup istrinya.


“Kenapa?” jawab Ajat. Dia sudah curiga karena terlihat Santi mulai pucat dan gugup.


“Farouq hilang. Mami tadi sudah minta sama ketua yayasan untuk kita lihat CCTV sekolahan. Karena sopir nggak lihat dia sejak jam pulang sekolah. Padahal sopir nunggu stand by di sini. Papi ingat, Papi nggak boleh marahin sopir karena hal ini bukan kesalahannya. Biasanya juga kalau Farouq pulang, Abang langsung lari taruh tas di mobil. Lalu dia akan main sebentar sambil nunggu Misha pulang,” kata Santi. Dia takut Ajat marah pada sopir dan langsung main pencat saja seperti biasa.


Ajat kaget Santi masih bisa tenang. Yang dia takutkan Santi depresi sehingga kandungannya berbahaya. Dia pandangi istrinya denga saksama.


“Mami nggak boleh banyak pikiran lho Mi. Kasihan Dedek,” kata Ajat mengusap perut Santi yang mulai sedikit menonjol.


“Makanya Mami nggak mau menyelesaikan masalah ini sendiri. Bisa saja sih tadi Mami minta dijemput sopir, tapi kalau nggak ada Papi, Mami takut kenapa-napa. Kalau mendengar berita yang tidak kita inginkan Mami takut Adek kenapa-kenapa. Nanti Mami malah dimarahin sama Papi,” ucap Santi.


“Mami yakin Abang nggak apa-apa,” kata Santi. Seperti kita ketahui Abang adalah panggilan Ajat dan Santi untuk Farouq sekarang ini setelah jelas Santi akan mempunyai bayi.


“Silakan Bapak, Ibu. Kami sudah siapkan rekaman yang dibutuhkan. Nanti akan bisa terlihat apa benar Farouq itu yang Ibu cari.”


Yayasan tentu tidak mau buang waktu berbasa-basi yang tak tentu. Kedua orang tua pasti sedang mengejar waktu dan gelisah ingin tahu keberadaan anak mereka.


“Ini saat Farouq keluar dari kelas ya Bapak, Ibu. Terlihat dengan jelas jelas dia keluar seperti biasa. Semua penjemput di sini kan harus memakai kartu pas kalau untuk masuk ke dalam pagar, jadi sampai di keluar pagar Farouq tidak ada yang jemput depan pagar.”


“Ini CCTV dari luar pagar. Terlihat Farouq sudah ditunggu oleh seorang ibu-ibu. Terlihat di sini bukan ibu muda, tapi seperti neneknya. Mungkin neneknya Farouq karena Farouq seperti tak asing,” ucap ketua yayasan.


Ajat geram memandang siapa yang terlihat di sana. Yang ada di situ adalah neneknya Farouq ibunya Pratiwi Susanti atau Wiwik, bunda kandung Farouq.


“Mereka berbincang sebentar ya Bu, Pak. Ini terlihat kan lalu kita lihat lagi saja, Farouq berjalan ke sebuah mobil yang memang pintunya sudah terbuka, dan Farouq menerima es krim ya Bapak, Ibu.” ketua yayasan yang sudah lihat lebih dulu sejak tadi sudah menelaah apa yang dia lihat.


“Ini kita lihat lalu Farouq di bopong masuk ke mobil tersebut. Saya menduga mungkin dalam es krim itu ada sesuatu yang membuat dia langsung tertidur atau pingsan. Karena ini terlihat dia di bopong masuk mobil dengan tangan yang jatuh. Terlihat tangannya sudah lemas. Kalau Farouq masih bangun atau tidak pingsan atau tidak tidur tangannya tidak akan terkulai seperti ini,” kata ketua yayasan yang memberi ulasan lengkap hasil telaahannya dengan jelas.


Santi dan Ajat hanya saling berpandangan. Santi belum tahu siapa perempuan yang sudah mengajak Farouq. Ajat yang tahu, karena Santi belum tahu keluarga ibundanya Farouq.