GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TAK HARUS KANDUNG ATAU SAMBUNG UNTUK MENYAYANGI KAMU



Radit dan Ilham yang datang lebih dahulu langsung mengatur mencari penyewaan tenda terdekat untuk menampung para tamu yang hadir takziah. Ilham dari kantor. Dia tak bersama Puspa walau Puspa sudah tahu tentang meninggalnya Farouq.


Sementara orang tua Ajat dan orang tua Santi mengatur ruangan dalam yang harus mereka kosongkan untuk di gelar karpet. Mereka yang mengatur ke mana barang-barang itu disingkirkan sementara ke mana karena takut ada yang hilang atau jatuh pecah jadi mereka mengatur di bagian dalam.


Dinda tentu saja menemani Mischa di kamarnya. Anak itu sejak tadi hanya diam, diam dan diam. Dia sangat syok kehilangan adiknya.


“Kamu enggak boleh sedih seperti ini terus ya Sayang. Lebih-lebih di depan mami. Mami harus kita temani melewati masa sulit ini. Mami sayang Kakak. Mami sayang abang dan pastinya mami sayang adik. Tapi kasih sayang mami nggak akan pernah berkurang buat Kakak. Jadi Kakak nggak perlu takut,” kata Dinda memberikan afirmasi pada putri kecil Santi yang sedang sedih.


“Aku sama abang nggak pernah ketakutan bahwa mami akan mengurangi kasih sayang pada kami. Kami tahu mami itu orang yang sangat baik. Dia yang terbaik buat aku sama abang,” jawab Mischa tanpa ragu.


“Saat semua orang nggak mau lihatin aku sama abang. Bahkan oma dan opa aja nggak peduli sama aku, padahal kata orang-orang mereka adalah mama dan papanya, mamaku. Tapi mereka nggak pernah mau peduli aku. Hanya mami yang cinta sama aku. Malah lebih cinta nenek sama kakek dari pada oma sama opa. Padahal aku tahu nenek sama kakek itu bukan kandung aku karena mereka orang tua mami.”


“Cinta kasih itu tidak harus kandung, semua bisa mencintai kamu. Yang penting kamunya baik,” kata Dinda.


“Bunda sayang kamu kok, padahal Bunda bukan ibu kamu kan bukan ibu kandung kamu atau ibu sambung kamu. Jadi salah kalau orang bilang hanya cinta sama anak-anaknya saja.”


“Iya aku tahu mami orang baik. Mami dulu cinta aku sebelum jadi ibu sambung aku ‘kan? dan teman-temannya mami itu orang baik.”


“Tidak seperti dari teman-temannya papi. Setelah sama mami saja, papi bisa berteman dengan orang-orang baik,” kata Mischa.


“Ya kita memang harus mencari yang terbaik. Mungkin waktu sebelum bertemu mami, papi belum ketemu jalurnya,” balas Dinda.


“Sekarang Kakak tidur dulu sebentar ya. Biar Kakak fresh. Apa mau makan lagi?” tanya Dinda.


Dia barusan makan berdua dengan Mischa, sengaja menemani anak tersebut makan. Kalau makan sendiri pasti Mischa juga nggak akan mau.


“Kalau begitu Bunda peluk kamu. Kita tidur sama-sama yuk. Bunda juga ngantuk kok,” ajak Dinda. Dia sengaja membujuk gadis kecil itu tidur.


“Kamu geser ke sana, Ayo kita tidur berdua,” ajak Dinda.


“Tapi nanti Bunda tinggalin aku,” rajuk Mischa.


“Sekarang sih Bunda mau tidur sebentar. Kalau nanti Bunda bangun duluan ya Bunda keluar kamar. Tapi kalau selama Bunda tidur ya Bunda nggak akan tinggalin kamu. Bunda ngantuk beneran kok nggak bohong. Ayo kita tidur,” ajak Dinda.


Dinda memeluk Mischa tanpa perlu ganti baju, anak itu sedang sedih. Nggak perlu pakai peraturan baku mengharuskan dia ganti baju atau segala macamnya dulu. Sekarang yang penting bikin Mischa nyaman saja dulu.


Dinda benar terlelap lebih dulu dari Mischa. Mischa memang melihat Dinda juga lelah rupanya pikiran Dinda capek sehingga bisa terlelap. Ahirnya Mischa tidur siang dalam pelukan Dinda.


“Mischa ke mana?” tanya ibunya Santi pada besannya yaitu mamanya Ajat.


“Sepertinya tadi dia diasuh oleh Dinda. Jadi tenang saja.” jawab mamanya Ajat.


“Aku lihat dulu sebentar. Apa benar dia sama Dinda.”


Saat ibunya Santi melihat dari pintu yang terbuka sedikit, Dinda sedang membujuk Mischa untuk tidur dan mengatakan tidak akan meninggalkan Mischa saat gadis kecil itu tidur.


“Iya bener, Dinda sedang membujuk Mischa untuk tidur biar anak itu tidak capek,” kata ibunya Santi pada mamanya Ajat.


“Setidaknya ada yang menemani dia. Daripada dia sendirian nanti pikirannya lebih kacau. Ayo kita lanjutkan membereskan ini saja walaupun kita cuma kasih komando.”