GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TERLALU PAGI ATAU KESIANGAN?



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



 “Pintu pagar sudah dikunci?’ tanya Adit pada Bu Siti yang tadi dia suruh menyampaikan pesan pada satpam depan.



“Sudah Mas, saya sudah bilang Pak satpam kasih tahu dulu siapa tamu yang datang sehingga kita nyiapin anak-anak di dalam. Satpam saya bilang tak boleh mempersilakan tamu masuk sebelum ada izin dari dalam,” jawab bu Siti.



“Iya benar. Jadi kalau dia datang anak-anak masukan dulu ke ruang bermain baru buka pintu untuk tamu,” jelas Adit.



“Iya, sudah saya kasih tahu satpam, bukan izinkan tamu masuk dulu, tapi kasih tahu ke kita dulu,” Kata Bu Siti. Seisi rumah memang sudah mengatur strategi agar anak-anak tidak terlalu lama bermain di ruang tertutup nanti mereka bosan lalu menangis. Takutnya bila anak-anak tak di isolasi mereka akan ke ruang tamu mencari ayah, bunda atau kakeknya.



Dinda dan Eddy sudah berkomitmen bahwa Lilis hanya boleh di ruang tamu atau paling tidak ruang tengah tidak boleh ke dalam terlebih sampai ruang makan dan segala macamnya walau sekarang semua sudah pakai CCTV. Tapi tetap saja mereka harus waspada.



Baru saja selesai sarapan Pak satpam lapor ke bagian dapur mengabarkan ada tamu bernama Ibu Lilis



“Alhamdulillah anak-anak sudah selesai sarapan. Ayo mbok Asih dan Bu Siti silakan bawa anak-anak biar nanti Bu Marni yang terima tamu bersama saya,” kata Dinda.



“Ayo anak-anak sama ayah dulu yuk,” ajak Adit. Anak-anak harus dia yang bawa dulu. Diajak bermain dulu sampai beberapa saat baru nanti ditinggal bersama dua pengasuh itu. Tidak bisa langsung dibawa Bu Siti dan mbok Asih. Mereka pasti ribut minta bersama orang tuanya terlebih hari ini hari libur. Ghifari dan Ghibran tak mau jauh dari ayah dan kakeknya.



“Ayo Papa dan aku yang terima tamu ke depan duluan, Mbak Marni jangan lupa bikinkan minum the biasa aja buat tamu dan buah kami tehh hijau dengan madu ya,” Dinda meminta Eddy dan mbok Marni untuk mulai bergerak.



“Sebentar Pa, aku hubungi seseorang dulu,” Dinda menghubungi seseorang by phone sebelum dia keluar bersama Eddy.



“Wah aku kesiangan ya?” ujar Lilis.



“Terlalu pagi malahTante,” kata Dinda.



“Maksud aku kesiangan bawa makanan buat sarapan,” jawab Lilis kemayu.



“Wah kami sudah selesai sarapan. Memangnya jam 08.00 tepat waktu untuk sarapan? Kan sudah terlewat. Tante tahu kan kami biasa sarapan jam 06.00 pagi. Kecuali Tante tak tahu jam sarapan kami,” jawab Dinda.



“Iya, Tante lupa mau kesini, baru ingat tadi pagi jam 05.00 jadi baru selesai masak jam 06.30. siap-siap lalu berangkat, jadi jam segini baru sampai sini,” jawab Lilis.



“Wah hebatnya, Tante mempersiapkan masak dulu buat bawa kesini,” kata Dinda.



“Silakan duduk Tante,” Dinda mempersilakan tamunya duduk di ruang tamu rumah itu.



“Tante mau taruh ini ke belakang dulu,” jawab Lilis menunjukkan barang yang dia bawa.




“Silakan duduk, kamu itu tamu jadi memang harusnya cuma di ruang tamu,” kata Eddy menguatkan kata-kata Dinda.



“Loh kan aku bagian dari keluarga ini, aku adiknya mbak Ina. Jadi wajar dong aku masuk-masuk ke dalam,” jawab Lilis masih belum mau duduk.



“Bahkan adik atau kandungnya Ina saja itu bukan bagian keluarga inti. Jadi dibolehkan masuk atau tidak itu tergantung tuan rumah dan kebetulan aku sebagai tuan rumah tidak memperkenankan kamu masuk ke belakang. Jadi kamu sudah cukup duduk di ruang tamu saja. Makananmu nanti akan dibawa masuk oleh Mbok Marni ke belakang akan dipindah kalau memang itu harus dikembalikan tempatnya.” tekan Eddy tegas.



Saat itu Mbok Marni masuk membawa teh hijau dengan madu untuk Dinda, Eddy dan Adit dan teh biasa dengan gula untuk Lilis.



“Kamu bawa data yang aku minta?” tanya Eddy. Sebenarnya dia malas berhubungan dengan Lilis. Tapi demi ketenangan rumah tangga anaknya dia rela berkorban menahan ras benci dan malas bertemu Lilis.



”Sabarlah Mas. Baru juga ketemu sudah langsung to the point,” jawab Lilis yang sekarang sudah duduk karena tadi Eddy meminta mbok Marni memindah makanan ke tempat sendiri dan mengembalikan wadah kosong pada Lilis.



“Oh enggak butuh the point  ya Tante? Aku kira mau to the point kalau gitu aku tanya deh. Kayaknya hampir 2 tahun lalu Tante pernah aku lihat ada di sekitaran sini ada apa ya Tante?” tanya Dinda sambil mentap tajam Lilis.



“Maksudmu apa hampir 2 tahun lalu?” tanya Lilis, saat itu Adit sudah ada di situ.



“Sebelum aku ke Australia saat aku lihat-lihat rumah, itu loh Mas rumah yang kamu bilang buat compare dengan proyek di kantor, aku kan ke supermarketnya untuk beli minum. Mas ingat kan rumah yang Mas bilang ke client yang lihat aku dibilang aku mau beli rumah baru?” tanya Dinda pada Adit.



“Oh yang sore-sore itu kamu lihat rumah.” kata Adit. Tentu saja Adit tahu maksudnya Dinda dimana lokasinya dan kapan itu terjadi.



“Iya Mas, saat itu dengan jelas aku lihat kok Tante Lilis ini ada di ruko situ dan sedang mandang rumah kita. Aneh kan Mas dia enggak mampir tapi dia nunjuk-nunjuk rumah ini lho. Aku lihat kok waktu itu, karena tadi ngomong Tante enggak mau to the point ya aku muter-muter masalah itu dulu aja,” jelas Dinda. Adit dan Eddy kaget selama ini Dinda tak memberitahu hal tersebut pada mereka.



 Lilis kaget ternyata sejak dulu dia sudah ketahuan pernah ingin datang ke rumah ini.



“Oh itu, Tante juga lagi lihat perumahan itu. Teman Tante minta diantar nemani cari rumah. Habis pulang Tante langsung minum di cafe tersebut sama teman-teman. Tante bilang punya kakak di perumahan ini makanya Tante tunjuk-tunjuk,” Lilis memberi alibi.



“Kalau punya kakak di sini, kenapa enggak mampir ya Tante? Katanya keluarga, kok enggak mampir. Kan aneh ya Tante,” kata Dinda. Adit dan Edi yang baru tahu saat itu Lilis berada di perumahan mereka juga bingung.



“Rupanya sudah lama juga muter-muternya, baru sekarang sampai ke titik ini,” kata Adit.



“Titik apa?” tanya Lilis tak mengerti.



“Titik untuk menyuruh orang datang ke sini cari anaknya setelah 29 tahun berlalu,” Kata Adit. Lilis langsung pucat pasi.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK yok.