
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Benarkah?” tanya Eddy tak percaya mendengar semua keterangan Dinda juga melihat semua hasil yang Dinda dan Adit bawa. Air mata Eddy terlihat ada disudut matanya melihat hasil pemeriksaan Dinda.
“Benar lah Pa. Itu makanya aku tadi mikir aku kayanya enggak sanggup. Tapi kalau takdir ini yang harus aku terima mau diapain lagi?” jawab Dinda membenarkan semua yang ia katakan juga bukti pemeriksaan itu.
“Kita pasti sanggup. Semua ketentuan Allah. Kita terima dan disyukuri saja,” Eddy memberi dukungan untuk Dinda.
“Kami sangat bersyukur Pa, cuma aku pribadi yang merasa takut enggak sanggup menghadapi ini semua.”
“Pasti kamu sanggup!” Eddy terus mengobatkan semangat menantunya.
“Itu makanya tadi aku bilang dia butuh supportnya Papa,” kata Adit.
“Papa akan selalu support kamu atau kamu mau berhenti kerja saja?” tanya Eddy.
“No, no, no,” kata Dinda sambil menggeleng tegas.
“Aku enggak akan pernah mau berhenti kerja Pa. Bahkan Papa tahu kan double dengan usaha aku aja aku enggak pernah mau berhenti. Waktu hamil Ghaidan aku malah sampai ancam mas Adit kalau suruh berhenti bekerja aku balik ke Bekasi saja. Dulu aku juga minta sama Mas Adit pokoknya aku mau tidak boleh dibatasi untuk bekerja.”
“Tapi sekarang kondisinya beda Din, kamu sekarang ada Ghaidan yang masih berumur satu tahun.” Eddy berupaya mengingatkan kondisi keluarga Dinda.
“Ghaidan bukan masalah Pa, dia justru pemompa semangatku saat ini. Papa kenapa jadi malah dorong aku supaya berhenti sih? Papa enggak suka kalau aku kerja ya?”
“Mana mungkin Papa enggak suka kamu kerja? Enggak ada kamu maling banyak masuk,” jawab Eddy.
“Memangnya aku kayak satpam apa, sebagai pengusir maling. Jadi aku kayak kucing nakutin tikus ya Pa?” jawab Adinda sambil tertawa ngakak.
“Sudah sekarang kamu tidur nanti bahaya kalau terlalu lelah. Enggak bagus buat kondisi fisikmu,” nasihat Eddy.
“Ya Pa. Terima kasih,” Dinda mau membawa semua peralatan makan ke belakang.
“Sudah biar Mas aja yang ngurusin semua mangkok kotor itu. Kamu langsung masuk kamar. Kamu pasti kangen sama Ghaidan kan?”
“Iya Mas aku mau ciumi Ghaidan aja,” jawab Dinda sambil berlalu ke kamarnya.
Adit pun membawa semua mangkok kotor dan mematikan lampu tengah karena Eddy sudah masuk kamarnya lebih dulu sehabis Dinda masuk tadi.
“Kamu percaya enggak Na? tanya Eddy pada foto almarhumah Ina istrinya.
“Mas aja enggak percaya Adit bisa seperti itu. Untungnya dia tidak terikat dengan penipuan Shalimah dengan mengikatnya pakai anak itu. Aku ingat saat kamu mengangkat bayi merah milik sopir kita, padahal belum tentu itu milik sopir kita. Sama seperti Bram yang ternyata bukan anak Adit.”
“Waktu itu aku memang harus memastikan DNA-nya Bram karena biar bagaimana pun akan berpengaruh pada surat wasiatku.”
“Walau dia bukan anak sah dalam pernikahan resmi, tapi kalau dia cucuku tetap aja biar bagaimana pun aku wajib memberi dia sedikit saham. Tapi untunglah ternyata Bram sama sekali bukan anak Adit.”
“Mas enggak bisa ngebayangin bagaimana kalau Adit memang 100% mandul sehingga tak pernah ada 3G di kehidupan Mas kini.”
“Ghifari, Ghibran dan Ghaidan adalah permata hidup Mas sekarang Na, sebagai pengganti si kembanr yang bahagia bersamamu di sana. Momment Mas menemukan potensi Dinda adalah suatu mukjizat awal dari semua ini, setelah kamu enggak ada bersama Mas,” lanjut Eddy pada foto istrinya yang sangat besar terpajang di kamar tidurnya.
Eddy terus bicara sampai dia tertidur tanpa sadar. Memang kegiatan Eddy setiap malam adalah seperti itu, bicara dengan foto istrinya seperti saat itu mereka berbincang sebelum tidur.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY yok.