GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
KELUARGA BESAR ALKAVTA PRIMA MAJU



“Bukannya waktu itu Santi sudah bilang kalau anak-anak mau diambil. Ya ambil saja. Tapi kalian langsung lapor polisi dan pengadilan? Karena kan dia yang tinggalin rumah saat bayi berumur 10 bulan. Kenapa sekarang dia mau ambil. Sampai bayi itu umur 6 tahun saja nggak kenal seorang perempuan sebagai ibu. Sekarang sudah 1 tahun lebih dia punya ibu mau begitu saja diambil. Nggak usah takut,” kata Shindu. Dia dengar dari istrinya bagaimana Santi cerita.


“Wah rupanya Santi sudah cerita ya?” kata Ajat.


“Santi cerita lah ke Ajeng. Dia bilang pernah diskusi katanya Akang takut anak-anak diambil ibunya,” jelas Shindu.


“Tenang saja. Lebih baik kamu bilang sama Santi. Dia sudah siap kok. Daripada dia tiba-tiba berhadapan tanpa persiapan. Dia malah nanti syok,”  Adit pun memberi masukan pada Ajat.


“Aku setuju sama pak Shindu dan pak Adit,” Ilham ikut memberi pemikirannya.


“Baiklah, habis ini aku langsung bilang sama Santi, soal bundanya Farouq,” kata Ajat plong.


“Seperti saran Pak Shindu tadi, langsung bilang saja silakan kita langsung bertemu di pengadilan! Begitu, kita buktikan saja nggak akan mungkin dia menang,” kata Ilham. Walau sudah akrab dalam kehidupan di luar kantor, tetap saja dia menyebut PAK bagi Shindu dan Adit.


“Iya Bang terima kasih sarannya aku benar-benar terjerumus di keluarga yang hangat ini. Nggak nyangka saja bertemu dan nyemplung di keluarga kalian. Keluarga ALKAVTA PRIMA MAJU ( perusahaan keluarga Alkav ). Hubungan sesama pegawai di sini lebih akrab dari hubungan dengan saudara kandung,” ucap Ajat penuh syukur.


“Eh kalian nggak usah ngomong soal hubungan saudara kandung deh sama-sama anak tunggal saja belagu kata Shindu sambil terkekeh. Ajat dan Ilham serta Adit adalah anak tunggal. Shindu empat bersaudara.


“Kok ke sini Pi?” tanya Santi pada Ajat ketika suaminya membelokkan mobil ke arah sebuah rumah makan.


“Oke. Mami mau telepon anak-anak dulu biar dia mereka makan duluan. Mau bilang sama bibik,” kata Santi ambil langsung mengambil ponsel miliknya.


‘Ya Allah kamu tuh bener-bener ibu idaman. Aku bersyukur anak-anak punya ibu seperti kamu. Bahkan kamu mau makan aja ingat anak-anak dulu. Ibu kandung mereka mana pernah berpikir seperti itu,’ batin Ajat sambil mematikan mesin mobil karena telah tiba di ruang parkir resto.


Santi langsung menghubungi nomor rumah dan menginstruksikan dua pembantunya di sana untuk memberi makan Mischa dan Farouq lebih dulu karena dia akan pulang terlambat.


Farouq tentu saja protes mendengar maminya tidak makan malam bersama dia.


“Sebentar ya Sayang. Ini Mami baru mau keluar dari rumah sakit. ‘Kan tadi Mami bilang habis nengok Dede Baim,” kata Santi. Baim adalah panggilan untuk Ibrahim anaknya Shindu dan Ajeng.


“Oh gitu. Jadi Mami baru keluar dari rumah sakit?” kata Farouq memastikan.


“Iya Sayang. Mami baru keluar, jadi nanti daripada Abang Farouq kelaparan Mami suruh bibik siapin Abang makan duluan. Jangan tungguin Mami takutnya jalanan macet ya,” bujuk Santi yang mulai memanggil Farouq dengan sebutan ABANG.


“Iya Mi, jawab Farouq. Begitu diberi pengertian oleh maminya anak lelaki tersebut tentu saja menurut. Farouq sekarang sudah berumur hampir 8 tahun karena waktu kenal dengan Santi umurnya 6 tahun. Sekarang Farouq sudah di kelas 3 SD.


Ajat memperhatikan interaksi istrinya dengan putra kandungnya. Tak perlu di ragukan cinta kasih keduanya yang terjalin sangat erat.