GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SUAMIKU KENAPA?



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


“Kok ke bagian penyakit dalam Mas?” tanya Dinda melihat Adir mengarah ke poli penyakit dalam.


“Maunya ke mana? Kebagian syaraf?” jawab Adit singkat. Sejak di rumah memang dia sudah daftar online di poli penyakit dalam.


“Mas kenapa sih dari tadi diem aja sepanjang perjalanan ke sini. Sekarang aku tanya jawabannya ketus gitu,” protes Dinda.


“Mas tuh tanya kamu Yank,” kata Adik pelan dan lembut.


“Kamu maunya kebagian syaraf karena kepalamu sakit atau bagaimana? Mas enggak apa-apa kok,” lanjut Adit yang sebenarnya sedang sangat ketakutan menghadapi kemungkinan terburuk tentang penyakit istrinya.


“Ke dokter umum aja lah, ngapain ke dokter syaraf segala?”


“Eggak gitu juga dong Yank, bagusnya lagi itu kalau ke dokter ahli kandungan aja karena kan kamu sedang memberi ASI nanti obatnya biar tidak mempengaruhi bayi,” ucap Adit.


“Masa sakit kepala ke dokter kandungan? Dokter umum juga bisa kok kasih obat buat ibu yang menyusui,” kilah Dinda.


“Ya sudah, biar langsung ke dokter penyakit dalam aja, biar lebih cepat mengetahui apa penyebab kamu enggak enak badan hari ini dan nanti jangan lupa kita kasih tahu kamu masih menyusui anak umur 1 tahun,” balas Adit lembut tak mau membikin Dinda semakin marah. Adit tak mau momen-momen manisnya hilang oleh pertengkaraan. Adit tak mau momen manisnya hilang oleh kemarahan.


“Ya sudah kita ke dokter umum aja yuk Mas,” pinta Dinda.


“Enggak sayang, ini sudah daftar dari tadi sebelum kita berangkat. disini aja ya,” bujuk Adit lembut. Akhirnya Dinda menurut.


“Ibu kita timbang dan ukur suhu dulu ya,” kata perawat diluar ruang periksa ketika M=menerima nomor antrian Dinda.


“Baik suster,” jawab Dinda. Dinda pun diukur tekanan darahnya, suhu, serta berat badan.


“Keluhannya apa Ibu?” tanya suster.


“Saya enggak tahu keluhannya tuh bagaimana, pokoknya kepala saya enggak enak aja. Dibilang pusing juga enggak mengerti deh. Saya enggak bisa menjabarkanya secara spesifik suster.” jawab Dinda.


“Baik Ibu keluhannya kepala tidak enak ya,” jawab suster. Dia juga sering mendapat pasien yang memang tidak bisa merinci apa yang dirasakan. Suster sangat sabar menerima keluhan-keluhan seperti itu.


“Baik Ibu sudah kami catat tensinya bagus, suhu juga normal, begitu pun berat badan. Tunggu giliran nomor antrian ibu ya. Nanti akan kami panggil,” suster mempersilakan Dinda duduk di ruang tunggu poli penyakit dalam itu.


“Terima kasih suster,” jawab Dinda yang segera berjalan menuju tempat Adit duduk. Dia melihat wajah kuyu suaminya.


Dinda sungguh tak mengerti mengapa sejak dia bangun tidur tadi Adit hanya diam tak bicara bila tak ditanya. Padahal biasanya tak seperti itu. Dinda juga melihat mata Adit sembab tapi tak mau menceritakan apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu.


“Sudah,” jawab Dinda. Adit memegangi tangan Dinda. Kadang dia kecup jemari istri nya dengan lembut.


‘Mas Adit kenapa sih dari tadi kok mencurigakan banget. Sudah diem aja sepanjang jalan, matanya bengkak lalu ini kenapa lagi dari tadi tangan aku diciumi? Aku kan cuma ngeluh pusing kenapa dia jadi kayak gitu?’ Pikir Dinda.


“Juice Bu, juice?” seorang penjaja menawarkan Adit dalam botol-botol kecil


“Ada juice apa aja Bu?” tanya Dinda.


“Yang masih ada melon, mangga, belimbing, jeruk, dan jambu, Bu,” jawab sang penjual sambil melihat tas berisi dagangannya.


“Enggak ada strawberry? Alpukatnya sudah habis?” tanya Dinda dengan pertanyaan beruntun.


“Keduanya habis Bu. sudah sore begini saya bikinnya enggak terlalu banyak dan ini baru bikin kok,” penjual menjawab alpokat dan strawberry saat itu sudah tak ada.


“Pakai gulanya asli?”


“Iya Bu kalau pakai gula biang memang harganya jadi lebih murah, tapi banyak yang tidak kuat. Banyak yang alergi, saya pakai gula asli memang harganya jadi lebih mahal sesuai bahan baku,” penjual rupanya tahu mengapa ditanya tentang gula karena dia sering dengar pelanggan tak kuat dengan sacharine.


“Mas mau yang apa?” tanya Dinda.


“Yang belimbing sama jambu,” Adit menjawab pertanyaan Dinda dengan menyebut dua jenis buah yang dia inginkan dari yang tersedia saat ini. Jujur sebenarnya dia ingin juice sirsak bukan semua yang tersedia itu.


“Mbak belimbingnya satu, jambunya dua, mangganya dua ya,” pinta Dinda.


“Melonnya enggak Bu?” tanya penjualnya menawarkan agar Dinda membeli lebih banyak lagi.


“Mas mau melon juga?” tanya Dinda.


“Enggak Yang, sudah itu aja tadi, belimbing sama jambu,” Adit tak mau juice melon yang ditawarkan Dinda.


“Juice melonnya enggak Mbak. Melonnya nanti lain kali aja ya,” jawab Dinda, dia lalu membayar semua yang dia beli.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok.