GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
KEJUTAN UNTUK EDDY



“Ayo Bu, ini yang terakhir. Semoga ada kejutan.” kata dokter sambil tersenyum. Dokter sudah tahu sejak lama jenis kelamin tiga janin dalam perut Dinda. Tapi karena Adit dan Dinda tak mau maka dia juga tak memberi tahu jenis kelamin ketiga anak Adit dan Dinda tersebut.


TIGA?


Ya tiga. Kehamilan ketiga ini juga ternyata 3 bayi. Itu rahasia Adit dan Dinda pada Eddy.


“Bismillah ya Bu. kita berjuang lagi.”


“Satu.”


“Dua.”


“Ya Bu. Tiga, ayo kita keluarkan si kecil terakhir,” pandu dokter. Dia tahu pasiennya sudah lelah tak bertenaga. Dokter sudah menyarankan kelahiran dengan operasi caesar saja. Tapi Dinda bersikeras ingin normal walau semua peralatan untuk operasi sudah di siapkan mengantisipasi bila terjadi kegagalan di persalinan normal.


Adit mengazani ketiga bayi yang baru lahir. Ayah 6anak itu berulang kali mengucap syukur ketiga bayinya sehat tak kekurangan apa pun. Anggota tubuhnya lengkap semua dan semuanya sekarang berada di inkubator.


Untuk 3 bayi kembar tentu berat mereka sangat besar, walau semuanya di bawah 2 kg tapi untuk ukuran bayi kembar tentu itu sangat besar. Berat bayi single dibawah 2000 gram tentu kecil. Tapi untuk bayi kembar ya biasa.


Dinda telah selesai menjalani perlakuan sehabis melahirkan. Dia sudah mendapatkan jahitan dan sudah berada di brankar untuk pasien biasa. bukan di brankar untuk melahirkan. Karena brankar melahirkan berbeda, ada tempat untuk menaruh kaki dan juga langsung penampungan darah dari yang keluar dari rahim.


Diluar Eddy tak percaya mendengar Adit kalau tiga cucu barunya telah lahir dengan selamat.


Eddy meneteskan air mata dan melakukan sujud syukur atas kejutan yang Dinda dan Adit berikan untuknya kali ini.


“Kita mulai IMD ya Bu,” kata dokter. Memang bayi yang baru lahir akan diberi perlakuan IMD atau apa ya inisiasi menyusui dini. Bayi ditidurkan di dada sang ibu dan dibiarkan mencari sendiri pu-ting su5u ibu.


Dinda pun melakukan IMD untuk ketiga bayinya secara bergantian karena kalau langsung tiganya di atas ditaruh di atas dadanya tidak akan tertampung.


Adit meneteskan air mata melihat bagaimana anaknya melakukan IMD. Tak terbayang dia yang sudah divonis tidak subur malah menjadi seperti sekarang. Super subur karena pengaruh obat yang diminum juga di di suntikan berkala pada dirinya.


“Bapak, ini ari-arinya,” kata suster sambil menyerahkan tiga kendil dari tanah liat yang dipakai untuk menyimpan ari-ari ketiga bayi milik Adinda.


“Oh iya Suster. Terima kasih,” jawab Adit menerima 3 kresek dari Suster. Berbeda dengan kelahiran Fari dan Iban yang hanya satu ari-ari. ternyata 3 bayi ini punya 3 ari-ari.


Selesai melakukan IMD, Dinda mulai ditempatkan ke ruang rawatnya. Baby semuanya masih di inkubator.


“Selamat ya Din, kamu sudah berhasil melahirkan mereka,” kata Eddy pada menantunya.


“Terima kasih doanya Pa,” jawab Dinda.


Saat ini sudah masuk waktu Isya, rupanya Dinda tadi melahirkan saat maghrib. Bayi pertama keluar saat adzan maghrib.”


“Nanti titip ari-ari ya Pa. Kalau Papa enggak bisa biar Bu Marni yang urus.” Pinta Adit.


“Bisalah Papa. Buktinya dulu 3 bayimu semuanya Papa yang urus kok,” kata Eddy. Dia tak akan membuang kesempatan itu.


“Tadi anak-anak sudah rewel minta ke sini,” lapor Eddy pada Adit.


“Sekarang biar aku video call sama mereka Pa,” jawab Dinda sambil minta ponsel dari Adit.