
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Adit dan Dinda membaringkan anak-anak langsung di kamar, mereka tidur kelelahan.
“Papa langsung ke kamar Papa ya. Papa mau istirahat,” kata Eddy, dia tahu Dinda dan Adit butuh waktu bicara.
“Tidur sini aja Pa,” tawar Dinda pada mertuanya.
“Enggak lah, Papa tidur di kamar Papa aja,” jawab Eddy sambil bersiaap meninggalkan kamar itu.
Sepeninggal Eddy, Dinda langsung minta waktu untuk bicara dengan Adit.
“Memangnya aku pernah melarang kamu bicara?” tanya Adit dengan serius.
“Aku mau bicara serius Mas, jadi enggak usah ngomong seperti itu,” kilah Dinda.
“Kamu serius atau enggak, aku enggak pernah ngelarang kan? Kenapa kamu pakai ngomong minta waktu seakan aku pernah ngelarang kamu bicara,” jawab Adit lagi.
“Mas, aku sudah berpikir ulang. Bagaimana kalau kita langsung menikah lagi?” ungkap Dinda lirih. Antara malu dan tak percaya diri dia mengatakan hal itu pada Adit.
“Kamu enggak usah main-main, lebih-lebih main terhadap perasaan saya dan anak-anak. Tujuan kamu pergi ke sini aja, niatnya mau memisahkan saya dan anak-anak. Lalu hanya karena kejadian tadi kamu tiba-tiba langsung ingin minta nikah?”
“Cuma karena saya menyelamatkan kamu seperti itu? Kayanya niatmu menikah itu bukan karena keinginan hatimu.” Kata Adit sedih.
Walau Adit sangat menginginkan pernikahan kembali dengan Dinda, tapi kalau alasannya tidak logis tentu dia juga tak mau. Bukan sombong dia memang sangat membutuhkan Dinda, tapi kalau alasan pernikahan terpaksa hanya karena balas budi, Adit tidak ingin menerimanya. Kalau alasan menikah demi kebahagiaan anak-anak, itu lebih logis.
“Enggak Mas aku sadar, aku salah selama ini menjauh dari kamu. Tujuan aku ingin kembali menikah sama kamu itu bukan karena kamu tadi telah menolong aku. Tapi karena Allah telah menunjukkan bahwa ikatan batin kita terlalu kuat.”
“Saat aku akan celaka aja kamu punya feeling aku sedang tidak baik-baik saja. Feeling itu tidak akan terjadi pada teman atau sahabat atau orang yang sayangnya tidak dari hati. Kamu memiliki feeling itu. Jadi aku yakin itu adalah kehendak Allah menunjukkan bahwa aku itu memang jodohmu,” kata Dinda panjang lebar.
“Kalau itu alasanmu, Mas bisa terima. Alhamdulillah. Terima kasih kamu masih mau menjadi istriku lagi. Bagaimana kalau kita sekarang ke KUA di KBRI?” usul Adit.
“Ya enggak mungkin lah Mas, kan surat-suratnya enggak bawa dan banyak syarat yang kita enggak bawa,” tolak Dinda.
“Nanti Mas akan bilang bahwa kita adalah suami yang karena ada persoalan kita bercerai, tapi kita sekarang bersatu dan tidak ingin zina sehingga kita minta dinikahkan aja. Nanti urusan surat menyurat dan segala hal lainnya akan menyusul yang penting kita telah nikah lagi,” jelas Adit.
“Kamu serius?” tanya Eddy tak percaya saat Adit meminta Eddy menjaga anak-anak karena dia akan ke KUA untuk menikah kembali dengan Dinda.
“Gimana bisa soal serius seperti ini main-main Pa? Pernikahan bukan soal main-main kan?” jawab Adit.
“Lagian kan aku perginya sama Dinda, Papa lihat aja dia perginya terpaksa atau enggak,” jawab Adit.
“Ya sudah ayo ke kamar Dinda sebelum dia kembali berubah pikiran. Kamu pakai baju apa buat akad? Walau hanya berdua kan pasti ada yang bisa dimintain bikin foto?” kata Eddy penuh semangat.
“Nanti aku cari kemeja putih dan aku ke sini niatnya kan liburan, cuma bawa kaos dan enggak ada kemeja sama sekali. Dinda juga pasti enggak bawa baju resmi apalagi kebaya. Nanti kami mampir ke butik dulu,” jawab Adit sambil mengemasi semua barangnya untuk sekalian pindah kamar.
“Tunggu aku belum bisa search butik terdekat sini,” kata Adit sambil memperhatikan ponselnya.
“Yang di bawah aja, kalau cuma kemeja putih kan banyak. Lalu nanti pecinya pinjem di KBRI pasti banyak. Aku juga akan cari pakaian yang mirip-mirip kebaya kalau pasmina polos pasti banyak di sini,” kata Dinda
“Pamit ya Pa,” Kata Adit.
“Iya hati-hati semoga niat baik kalian diridhoi Allah subhanahu wa ta'ala,” balas Eddy sat menerima salim kedua calon mempelai itu.
“Aamiiin,” jawab Dinda dan Adit bersamaan.
“Ini bagus enggak Mas?” Dinda meminta penilaian Adit.
“Buatmu semua bagus kok,” jawab Adit yang baru selesai ganti kemeja.
“Aku serius,” rajuk Dinda.
“Mas lebih serius lah, kamu enggak tahu ya saat ini rasanya aku super deg-degan,” jawab Adit gugup.
“Kayak ABG mau nikah pertama kali aja,” goda Dinda, padahal dia juga mengalami hal itu hanya tak dia ungkapkan.
“Enggak kebayang aja tiba-tiba bisa akan nikah lagi dengan kamu,” jawab Adit. Dia terpana melihat Dinda mengenakan kebaya brokat berwarna broken white yang dia temukan di butik hotel ini.
“Alhamdulillah.” Adit dan Dinda akhirnya telah resmi menikah kembali. Mereka mengantongi surat keterangan bahwa telah melakukan Nikah Siri di KUA KBRI. Nanti surat tersebut akan digunakan buat mencatatkan pernikahan di KUA Kecamatan tempat mereka tinggal di Jakarta.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok.