GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SANGAT BODOH BILA MEMBUANG DIA



“Nggak kerasa ya hari ini sudah jadwalnya kita pulang. Besok saat sarapan di rumah kita ceritakan kesan acara liburan ini ya. Jangan lupa kalian juga harus beritahu saran kegiatan kita berikutnya agar liburan kita makin seru,” ucap Adit saat ‘menutup’ sesion liburan kali ini.


Adit dan Dinda memang hanya ambil liburan dua hari saja mereka memang tidak pergi ke-mana-mana. Hanya di rumah atau villa. Benar-benar hanya untuk family time, jadi bukan buat kunjungan ke mana-mana.


Santi tidak pernah menghubungi Ajat sejak suaminya berangkat ke bandara sehabis salat subuh.  Santi tidak mau mengganggu suaminya dia biarkan saja semuanya seperti itu.


Di media sosial Ajat masih memberi like atau respon entah di komennya Santi maupun di postingan Santi. Tapi suaminya sama sekali tak menghubungi melalui telepon atau pesan. Sama sekali Ajat tak melakukannya.


Santi tak berani komplain atau apa pun. Kalau memang Ajat mau berpaling dia juga tak bisa marah karena mungkin itu sudah karakter suaminya. Lebih baik dia mengalah untuk anak-anak saja. Tak ada ambisi Santi untuk memiliki Ajat sama sekali. Terlebih karakter Ajat sejak dulu seperti itu. Bila sudah ada masalah dengan istrinya dia akan cari perempuan lain. Yang Santi tahu dari ibunya juga pengakuan dari Ajat, selama ini dalam pernikahan Ajat tak pernah selingkuh. Ajat tak pernah main perempuan. Itu saja yang Santi pegang. Jadi walau sejak kemarin Ajat tak menghubungi, Santi pun tak mau marah. Dia berupaya membangun dugaan positif saja bahwa suaminya benar-benar sibuk.


“Kamu di mana Mi? tanya Ajat yang tiba-tiba menghubungi Santi sore ini. Saat Santi sedang memikirkan keberadaaan suaminya.


“Ini lagi perjalanan pulang Pi. Bagaimana meeting mu?” tanya Santi.


“Baik Mi, semua berjalan baik,” balas Ajat.


“Mami sudah sampai mana?” tanya Ajat lagi untuk mengetahui posisi istrinya secara tepat.


“Sudah dekat rumah, ini mau masuk parkiran supermarket. Karena susunya Farouq habis,” jawab Santi.


“Ya sudah take care ya Mi,” ucap Ajat.


“Ya Pi, Papi juga ya hati-hati,” jawab Santi. Dia cukup bahagia ternyata Ajat masih menghubunginya sore ini. Padahal sejak kemarin pagi Ajat sama sekali tak menghubunginya. Kemarin Ajat berangkat jam 05.00 pagi.


“Biar saya bawakan Bu,” kata seorang laki-laki sambil mengambil alih trolly yang dipegang oleh Santi. Tentu saja Santi mempertahankan trolliy-nya. Baru saja dia hendak memaki-maki laki-laki tersebut dia terpana karena yang ada di depannya adalah suaminya sendiri.


“Lho Papi kok udah sampai sini? Memangnya berapa lama perjalanan dari Tomohon ke sini? Papi nginep di mana?” tanya Santi. Seharusnya kalau kemarin pagi berangkat siang baru sampai sana lalu meeting. Tiba-tiba sekarang sore sudah di depan matanya lagi kan aneh.


“Ceritanya nanti ya di rumah aja,” Ajat berbisik, dia mencium sekelas pipi istrinya. Tentu saja Santi bahagia. Mereka pun akhirnya belanja kebutuhan anak-anak.


“Perlengkapan pribadi Papi juga habis lho Mi,” lapor Ajat.


‘Ya Allah maafin aku, perempuan sebaik ini malah aku bohongin,’ kata Ajat dengan penuh penyesalan.


‘Bahkan ditinggal pun tanpa aku lapor kebutuhanku, dia sudah membelikan semua. Bukan hanya kebutuhannya tapi juga kebutuhan anak-anak,’ tentu saja Ajat makin menyesal bila membohongi perempuan sebaik Santi.


“Kebutuhan dapur stoknya cukup Mi? Kebutuhan pribadi Mami masih ada?” tanya Ajat dengan rasa serba salah. Dia malah kurang memperhatikan kebutuhan istrinya. Tanpa uang tambahan, istrinya membelikan kebutuhan pribadi untuknya. Padahal selama ini Ajat hanya memberi uang mingguan jatah dapur saja pada Santi. Tak ada uang untuk kebutuhan pribadi Santi.


Dan Santi pun tak pernah merengek minta uang untuk keperluannya belanja rutin apalagi belanja fasion. Tak pernah.


‘Bodohnya aku. Dua kali punya istri sebelumnya, mengapa aku tak sadar tak pernah membeli jatah dia sebagai perempuan? Aku hanya memberi jatah untuk rumah saja? Bahkan aku belum pernah membelikan dia sandal jepit!’ keluh Ajat. Beda dengan dua istri sebelumnya yang tiap minggu minta uang make up, tas, sepatu, baju bahkan untuk lingerie!


“Semuanya sudah kemarin Pi. Mami sudah beli kemarin. Kebutuhan bahan baku dapur juga sudah. Sekarang Mami mau beli bahan kue aja deh,” jawab Santi.


“Buat apa lagi bahan-bahan kue?” tanya Ajat.


“Mami pengin bikin puding lumut sama puding busa buat ibu. Besok Mami mau ke rumah ibu. Mami sudah janji sama anak-anak mau bawa mereka ke tempat ENIN nya. Enin artinya nenek.


“Kok nggak bilang Papi mau ke sana?” tanya Ajat.


“Mami pikir Papi belum pulang, jadi ya Mami mau ke sana sendiri sama anak-anak aja,” jawab Santi.


“Kan harusnya Papi pulangnya besok. Hari ketiga,  Mami nggak tahu besok itu besok pagi, besok sore atau besok malam atau lusanya baru sampai rumah. Ya daripada bengong Mami mau bawa anak-anak aja ke rumah enin saja.”


Ajat hanya diam, kembali Santi menunjukkan siapa dia sebenarnya. Dengan cinta tulusnya tetap saja selalu menghormati ibunda Ajat. Tak ada kepura-puraan. Tak seperti kedua istrinya yang malah diajak ke rumah ibunya saja sulit. Santi malah mau berangkat tanpa di suruh. Jangan bilang Ajat selalu membanding-bandingkan istrinya. Karena memang itu kenyataannya.


‘Dia memang perempuan yang sangat baik. Sangat bodoh bila aku membuangnya,’ kata Ajat.


Ajat pun menemani Santi belanja semua keperluan bahan untuk bikin puding yang dimaksud oleh Santi tadi.