GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SAAT INI CUMA INGIN NONGKRONG



“Terima kasih ya Sayang. Kamu sudah merubah semuanya,” Ajat mendekap erat penuh cinta istrinya yang sekarang sering tak percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang sangat bulat.


“Itu tugas aku kan sebagai istrimu? Istri itu bukan hanya untuk suaminya. Tapi juga untuk anak-anaknya. Mungkin itu yang tidak dimiliki oleh dua istrimu sebelumnya. Yang penting kita ke depannya terus selalu bersama. Jangan sampai aku bilang A lalu Akang bilang B di depan anak! Itu tidak baik buat anak-anak. Apa pun yang Akang tidak setujui bicarakan di belakang anak-anak. Begitu pun nanti dengan Dede. Jangan biarkan dia terombang-ambing.”


“Iya Mi.  Papi mengerti. Ajari Papi ya. Papi masih banyak salah langkah seperti tadi. Papi sangat terluka waktu Mischa bilang kenapa dulu di sekolahin asal aja. bukan di sekolah yang baik. Papi boro-boro mikirin sekolah dengan mutu yang baik. Mikirin dia sekolah aja enggak. Papi terlalu benci sama Mischa dan Farouq. Papi sangat berdosa sama anak-anak. Karena itu Papi akan menebusnya. Baik pada Mischa maupun pada adik-adiknya kelak,” sesal Ajat.


“Alhamdulillah, kalau Papi mau berubah. Karena hanya itu yang bisa kita lakukan,” kata Santi. Dia memeluk erat suaminya dan berupaya untuk tidur. Tapi dia resah sendiri.


“Pi. Kita keluar yuk?” ajak Santi tiba-tiba.


“Keluar? Mau ngapain malam-malam gini?” tanya Ajat.


“Pengen jalan ke ujung tempat nongkrong banyak kuliner itu lho Pi,” jelas Santi.


“Dedek mau makan?” tanya Ajat sambil mengusap perut istrinya. Sejak hamil memang Santi pemakan segala dan dalam jumlah banyak.


“Sebenarnya nggak kepengen makan juga, tapi pengen nongkrong aja. Boleh nggak?”


“Boleh. Buat Dedek apa aja boleh. Tapi pakai jaket ya keluarnya.” Ajat tentu tak mengizinkan istrinya kedinginan. Udara malam memang tak baik terlebih untuk ibu hamil. Tapi kalau Santi ngidam, mau diapain? Dan alhamdulillah selama ngidam ini semua bisa Ajat penuhi.


“Bener mau jalan kaki?” tanya Ajat.


“Iya mau jalan kaki aja. Kalau nggak kuat ya sudah balik lagi. Tapi kayaknya kuat koq,” balas Santi mengambil jaket dan pashmina untuk dia gunakan malam ini.


“Gimana kalau naik motor aja? Kan ada motor,” saran Ajat.


“Ya sudah kalau seperti itu. Ayo,” kata Ajat.


“Pi jangan lupa bawa uang cash. Papi kebiasaan deh nanti ke mana-mana bawanya kartu. Kamu pikir tukang kuliner gerobak itu bisa bayar pakai kartu?” kata Santi mengingatkan. Dia tak mau bawa dompet. Hanya bawa HP di sakunya.


Ajat terbahak. Dia memang beberapa kali makan di warung lupa bawa cash yang mencukupi.


“Mami mau ke mana?” tanya Mischa yang kebetulan keluar kamar.


“Anak Mami ngapain keluar lagi? Ada sesuatu yang ingin dicari lapar atau mau minum?” Santi tak menjawab, malah balik bertanya.


“Pengen ambil air putih aja. Aku lupa air putih di kamarku habis.  Kalau enggak bawa, nanti aku binging kalau malam-malam ingin minum. Aku harus bawa, aku nggak perlu keluar kalau sudah bawa air ‘kan?”


“Mami mau ke mana? Tadi belum jawab pertanyaan aku,” ulang Mischa.


“Dedek pengen nongkrong di tempat kuliner di ujung gang. Kakak mau ikut?” tanya Santi.


“Apa boleh?” tanya Mischa ragu. Dia tak langsung menyuarakan keinginannya.


“Kalau Mami nawarin, berarti boleh kan? Terserah kakak mau ikut atau enggak,” jawab Santi dengan tersenyum manis pada putrinya yang telah ABG.


“Mau dong. Aku mau banget. Apa dedek pengen makan sesuatu?” tanya Mischa yang tahu kalau Santi sering minta sesuatu secara mendadak yang orang bilang ngidam. Mischa tahu kalau mamonya sudah minta, papinya langsung berupaya memenuhi jam berapa pun itu. Dia melihat papinya sangat antusias bila maminya ingin sesuatu.


“Enggak Kak. Dedek cuma pengen suasana nongkrong sambil lihat orang makan. Tapi nanti pasti di sana makan sih. Entah apa yang dedek lihat di sana yang diinginkan. Saat ini cuma kepengen nongkrong aja,” kata Santi.