GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
KENAPA SAYA DIPERKARAKAN?



Adit berbalik badan. “Anda tidak ingat barusan memaki-maki anak saya. Mengatakan anak saya kurang didikan, anak saya calon kriminal. Apa Anda tidak berpikir dampak psikologis buat jiwa anak saya? Sebenarnya siapa yang anaknya kurang didik melihat rekaman CCTV? Apa wajar anak 12 tahun terlibat perundungan?”


“Kata-kata Anda itu sangat melukai jiwa anak saya. Saya tidak terima itu dan bukti anda memaki-maki tentu saja ada di rekaman CCTV ruangan ini.  Itu akan menjadi bukti ke KPAI dan polisi.  Bila Yayasan mengganti atau menghapus CCTV itu akan saya perkarakan juga bahwa Yayasan sengaja melindungi Anda.” Kata Adit.


“Oke Ibu, Bapak. Selamat pagi,” Adit pun keluar membawa Iban dan Biyya.


“Kalian belajar yang benar ya. Dan ingat Abang kalau ada apa-apa jangan langsung main pukul dulu. Biarkan adik-adikmu membela diri. Kalau mereka tidak mampu baru Abang bela karena itu memang kewajiban Abang sebagai kakak,” kata Adit.


“Ingat ,jangan mendahului karena itu akan jadi kelemahan kita. Di mana pun kita tidak boleh mendahului,” pasan Adit pada kedua anaknya.


“Iya Yah,” jawab Iban dan Biyya.


“Biyya masuk kelas ya?” kata Adit. Dia pun mengantar Biyya ke kelasnya. Karena tadi yang lebih dulu dilewati memang kelas Iban. Iban dan Fari tidak satu kelas. Begitu pun Gathbiyya, Ghazanfar, Ghaylan tak ada yang satu kelas. Adit memang minta agar mereka semua beda kelas agar masing-masing punya lingkungan teman yang berbeda.


“Bagaimana ini Ibu?” kata papinya Charles masih di ruang BP.


“Maksud Bapak bagaimana apanya?” kata ibu guru BP tenang.


“Kenapa jadi saya harus diperkarakan?” keluh papinya Charles tak segarang tadi sebelum mengetahui Adit akan melaporkannya.


“Kan tadi Bapak belum apa-apa sudah memaki-maki Iban. Mungkin kalau tidak melihat ada orang tuanya Iban, Bapak sudah menempeleng atau memukul Iban kan? Jadi ya terima aaja Pak konsekuensi emosi Bapak yang tidak terkontrol.”


“Charles yang memang pembohong kan dan lagi perilakunya dia sudah tidak normal buat anak umur 12 tahun Pak. Masa dia sudah belajar mencium siswa perempuan. Apa Bapak tidak berpikir kejiwaan Charles itu seperti apa? Dia lihat di mana Pak? Harusnya Bapak berpikir kejiwaan Charles yang sudah sangat saya anggap sedikit rusak ya Pak.”


“Anak dua 12 tahun sudah berupaya mencium lawan jenis. Mohon maaf kalau tidak di perhatikan lebih jauh bisa aja terjadi kasus yang lebih buruk. Bukan hanya mencoba mencium tapi mungkin dia ke arah yang lebih menjurus lagi Pak.” kata bu guru BP. Dia bebas bicara seperti itu karena Charles sudah dia suruh kembali ke kelasnya. Ibu guru itu ingin bicara dengan papinya Charles lebih lama.


Seharusnya jaringan hanya boleh YouTube Kids tetapi dia membiarkan saja  semuanya. Tontonan di dunia maya itu sudah sangat tak pantas untuk tingkat anak-anak seusia Charles.


“Mohon maaf ya, Bapak saya kasih tahu saja. Iban itu level karatenya masih jauh di bawah Biyya yang umurnya baru 5 tahun. Biyya sudah juara tingkat daerah buat karateka umur di bawah 8 tahun. kalau Biyya mau, Charles lebih babak belur,” kata ibu guru BP.


“Untung anak Bapak baru dihajar Iban. Karena saya tahu Biyya pernah mewakili sekolah untuk menjadi peserta karateka dan yayasan kami menjadi juara umum berkat Biyya yang mendapat medali emas saat itu.”


Papinya Charles langsung pucat pasi mengetahui siapa anak kecil perempuan berusia 5 tahun yang dijadikan sasaran perlakuan buruk oleh Charles.


Tentu saja papinya Charles langsung akan memarahi istrinya yang hanya sibuk bersosialita tak pernah memperhatikan perkembangan anaknya. Padahal urusan anak bukan hanya ditangan ibu, tapi ditangan ayah dan ibunya.


“Kalau tidak salah Charles anak tunggal ya Pak. Seharusnya perhatian Bapak dan ibu masih full tidak seperti Iban dan adik-adiknya. Mereka enam bersaudara tetapi orang tuanya full memperhatikan mereka. Kedua orang tuanya sangat berperan aktif dalam diskusi pendidikan anak-anak di sekolah.”


“Sudah beberapa kali saya panggil orang tua Charles, tapi belum pernah ada yang datang. Baru datang sekali ini karena wajah Charles sudah babak belur. Mungkin kalau wajah Charles tidak babak belur Bapak tidak hadir lagi. Saya ingat ini sudah panggilan ke 4 ya Pak,” kata ibu guru BP.


Tentu saja papinya Charles kaget karena baru satu kali ini dia diminta istrinya untuk datang ke sekolahan mengurus kasusnya Charles.


“Maaf saya baru satu kali ini tahu ada panggilan. 3 panggilan sebelumnya saya tidak diberitahu oleh istri saya,” jawab papinya Charles kelu.


“Itu masalah Bapak. Ini peringatan terakhir dari saya sebagai guru BP bahwa perilaku Charles itu sudah sangat meresahkan. Jadi sebelum dibuat surat tertulis, saya beritahu kalau kelakuan Charles masih seperti itu juga dengan terpaksa dia akan di DO dari sekolah ini.”


Papinya Charles tentu saja kaget mengetahui kondisi anaknya.