
“Kalian serius?” tanya orang tua Santi.
“Serius Bu, Yah. Besok kami semuanya pindah,” jawab Santi.
Di rumahnya semua pembantu sudah tahu bahwa besok mereka semua akan pindah. Besok hari Senin, jadi hari ini semua pembantu membereskan barang-barang pribadi mereka dan pembantu juga sudah diberitahu tidak ada barang rumah lama yang dibawa. Semua sudah ada di rumah baru. Nanti kalau kurang baru akan diambil sedikit sari rumah lama atau ya beli baru.
Barang dari rumah lama hanya diambil foto-foto yang ada di kamar anak-anak maupun di ruang tamu. Selebihnya semua akan ditinggalkan. Akan dijual per-part atau dijual keseluruhan. Sisanya nanti dijual sekalian dengan rumahnya.
“Terus bagaimana dengan barang Ibu dan ayah di sana?” tanya ibunya Santi.
“Barang pribadi Ibu dan Ayah belum kami pindahkan. Nanti Ibu dan Ayah Mischa nyusul. Setelah kami pindah, kan rumah itu juga belum dijual kok. Rumah itu masih utuh, jadi nanti kita janjian ambil barang Ibu dan Ayah untuk kita bawa ke rumah baru. Pindah ke kamar Ibu dan Ayah di sana,” kata Santi.
“Kalau begitu nanti Ibu dan Ayah janjian saja dengan mama papanya Ajat biar nggak dua kali angkat barang. Biar satu kali saja.”
“Bagus kalau begitu. Tadi kami juga sudah pamit sama mama dan papa kok, kalau besok kami akan pindah rumah. Jadi kalau papa, mama dan Ibu serta Ayah kalau mau datang ya ke rumah baru. Karena lusa kami sudah menetap di rumah baru,” jawab Ajat.
“Apa alasan kalian pindah rumah?” tanya ayahnya Santi.
“Pertama pasti mengurangi kenangan akan Farouq. Tapi banyak alasan lainnya,” jawab Santi.
“Seharusnya sejak menikah aku keluar dari rumah itu. Atau tepatnya tak masuk ke rumah itu. Karena itu rumah bekas istrinya Kang Ajat dari istri pertama sampai istri kedua. Selama ini aku memang diam karena aku berpikir aku dan kang Ajat itu menikah hanya sekadar formalitas, karena anak-anak.” Santi menatap wajah suaminya yang terluka dengan kata-katanya.
“Sebaliknya dia pun tadinya belum dicintai Ajat waktu menikah. Tapi Ajat yang jungkir balik. Ajat menikahi dirinya dengan penuh cinta tapi tak berani mengatakan pada Santi.
“Sekolah Mischa juga akan pindah Bu.”
“Kenapa?” tanya ayahnya lagi.
“Di sekolah lamanya kan ada omanya, aku baru tahu juga saat 6 bulan terakhir lah. Aku nggak tahu kalau dari dulu itu Mischa tertekan karena omanya tak pernah sama sekali menegur Mischa. Padahal dia adalah cucu kandungnya. Tak seperti Farouq yang bukan cucu omanya tersebut.”
“Tiap hari Mischa melihat bagaimana omanya sayang pada kakak sepupunya, tapi tidak pada dirinya. Aku benar-benar enggak tahu dan Ibu sama Ayah tahu sendiri kan saat itu kang Ajat tenang saja. Nggak peduli soal anak-anak. Begitu aku tahu, aku mulai cari sekolah yang bagus. Eh terus ada kasusnya Farouq, ya sudah ter-pending lah. Tapi sekarang Mischa sudah aku pindahkan ke sekolah yang tak jauh dari rumah dan kebetulan itu juga sekolah anak-anaknya Bu Dinda. Biar nanti aku banyak belajar dari Bu Dinda di lingkungan tersebut.”
“Ya ampun, Ibu baru tahu ada omanya Mischa di situ. Selama ini kalau Ibu jemput, Ibu nggak tahu,” kata ibunya Santi.
“Iya Bu, itulah yang aku bikin benci setengah mati. Oma kandung kok kayak gitu,” kata Santi.
“Tidak semua oma kandung atau ibu kandung itu cinta ke cucu atau anaknya. Banyak kok kejadian ibu kandung menyakiti anaknya, bahkan Ibu juga pernah tahu ada nenek yang tega pada cucunya sampai cucunya tinggal di rumahnya saja bayar kost! Jadi sudah nggak aneh.”
“Perempuan seperti mereka memang tak punya hati seperti kita,” kata ibunya Santi dengan geram. Dia tahu masalah-masalah seperti itu dan tak bisa kita menutup mata. Banyak kejadian tersebut di lingkungan kita.