GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
AMARAH SEORANG IBU YANG TERLUKA



“Kok tumben lama Mas?” tanya Dinda. Karena Adit datang menjelang makan siang. Sejak tadi Dinda memang tidak menghubungi Adit baik melalui pesan maupun melalui sambungan telepon. Dia tahu suaminya pasti sedang sibuk pengurus putra mereka.


“Mohon maaf kalau kamu tidak suka dengan apa yang Mas kerjakan barusan,” Adit tak menjawab inti pertanyaan Dinda, dia malah meminta maaf terhadap istrinya bila perbuatannya melukai sang istri.


“Memang Mas ngapain?” tanya Dinda was was.


“Mas melaporkan papinya Charles ke polisi. Tembusannya Mas  kirim ke lembaga perlindungan anak,” jelas Adit.


“Ada urusan apa?” tanya Dinda kaget. Dinda sampai tak percaya suaminya bertindak sedemikian rupa. Padahal suaminya adalah orang yang cukup sabar kalau menghadapi orang lain. Tak seperti dirinya.


“Papinya Charles memaki-maki Iban dengan kata-kata yang tak pantas. Dia bilang Iban anak yang tak dididik dan dia bibit kriminal. Kalau tak ada Ayah mungkin Iban sudah dia pukuli,” kata Adit.


“Mas juga sangat terluka melihat rekaman CCTV yang terjadi kemarin. Mas jadi tahu apa yang membuat Iban marah.” desah Adit berupaya menahan amarah yang teramat sangat.


“Ada apa  dengan kejadian kemarin Mas?” tanya Dinda.


“Mas tak bisa bercerita, kamu lihat ini saja,” Adit menyerahkan ponselnya pada Dinda.


Dinda menjerit pelan sambil menutup mulutnya. Dia tak percaya anaknya mengalami pelecehan seperti itu. Dan pelakunya adalah anak umur 12 tahun.


“Aku sebagai ibunya enggak rela banget, aku akan viralkan orang tua anak ini. Ini sudah terlalu kelewatan,” kata Dinda.


“Sabar,” bujuk Adit, dia tahu istrinya tak bisa tak marah melihat Biyya diperlakukan seperti itu.


Dinda tentu terusik kalau bicara soal anak-anak. terlebih sampai anaknya dibilang bibit kriminal dan tak pernah dididik oleh orang tuanya!


Tanpa menunda waktu  Dinda mencari jati diri papinya Charles dari data yang didapat di sekolah. Karena sekolah memberikan nama lengkap serta alamat kantornya.


Dindah sengaja mencari celah siapa yang bisa ditag atau dimension di kantor tersebut. Dinda  mencari satu  atau dua orang karyawan yang mencantumkan pekerjaannya di kantor yang sama dengan kantor papinya Charles. Orang satu kantor yang bisa membuat seisi kantor melihat postingan dia.


Kalau sudah seperti ini Adit sama sekali tak bisa menghentikan langkah Dinda. Dinda membuat fake account. Dinda memang sengaja menutup wajah Biyya, Charles dan Iban agar anak-anak jati dirinya aman.


Tapi nama papinya Charles juga alamat kantornya sengaja Dinda tulis jelas-jelas dengan huruf kapital. Dinda sangat marah anaknya dibilang bibit kriminal dan tidak berpendidikan sama sekali.


“Siapa yang tidak berpendidikan? Seorang kakak yang membela adiknya dari pelecehan, atau seorang anak 12 tahun yang melakukan pelecehan terhadap anak balita?” tulis Dinda dengan tag nama papinya Charles dan nama perusahaan serta nama dua orang pegawai dari PT tersebut yang kebetulan mencantumkan jati diri di media sosial.


Dinda menggugah dua video itu. Jelas kalau Lucas marah-marah pada seorang anak kecil padahal anaknya yang berbuat pelecehan.


Dinda juga mau mention lembaga perlindungan anak di postingan tersebut karena kalau hanya lewat email tentu akan lama proses respon lembaga perlindungan anak.


Biasanya lembaga perlindungan anak itu merespon kalau beritanya sudah viral kalau hanya lewat email tentu tak akan digubris karena tak membawa keuntungan apa pun.


Dinda dan Adit tak takut mereka di teror karena Dinda menggunakan fake account dan ponsel yang digunakan ponsel kuno bekas monitor CCTV kasus Meliana dulu. Bukan pakai ponsel Dinda mau pun Adit.