GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
CARI PERHATIAN MAMI



“Tunggu sampai mamimu bangun ya. Papi makan dulu. Kamu mau makan sesuatu?” tanya Ajat pada Mischa.


“Di kulkas ada su5u atau Yakult atau juga ada buah, ada salad juga sih kalau kamu mau,” ucap Ajat.


“Atau itu juga ada roti.” Mischa tak tertarik semua yang ditawari Ajat.


“Eh ini ada french fries. Mau french fries? Tadi Papi minta mang Udin belikan kamu french fries sama ayam goreng,” kata Ajat. Dia tahu putrinya sudah kehilangan maminya tiga hari. Kehilangan kasih sayang dan perhatian Santi.


“Aku mau deh french friesnya,” jawab Mischa. Dia pun mengambil french fries dan memotong sambal sachetnya, tentu dia tak mau saos tomat karena dia suka pedas.


Ajat pun makan nasi padang yang dia pesan. Tadi dia sudah minta sama Udin nasinya sedikit saja, karena memang dia kurang suka makan nasi banyak.


Ajat menghabiskan menu yang dia pesan. Dia tadi pesan menunya menggunakan ayam bakar juga sambel ijo dan lalapan serta paru goreng.


Untuk makan siang nanti Mischa juga sudah dia belikan nasi dengan ayam geprek tapi untuk saat ini memang dia belikan Mischa ayam goreng tepung dan french fries.


“Kalau seperti ini, mami bangunnya lama Pi?” tanya Mischa.


“Lamalah. ‘Kan disuntik. Tidurnya bukan karena kemauan mami, tapi karena pengaruh obat. Habis itu dia akan makan terus-terusan karena juga pengaruh obat perangsang untuk selalu makan. Kalau tidak seperti itu mamimu tidak akan pernah tidur. Juga tidak makan apa pun. Dia hanya menangis memikirkan adik Farouq,” kata Ajat kepada Mischa.


“Nanti kalau mami bangun, kamu jangan nangis atau jangan merengek ya. Kamu tahu kan mami lagi bingung mikirin adikmu. Jangan tanya Farouq atau cerita tentang Farouq juga.”


“Iya Pi. Semua orang juga bilang aku nggak boleh nangis di depan mami. Aku harus tunjukin kalau aku itu kuat, biar mami tidak tambah sedih,” kata Mischa. Enin, neneknya mau pun tadi mang Udin juga sudah bilang dia tidak boleh menangis di depan Santi. Walau kalau di rumah dia selalu menangis tak anti-henti memikirkan Farouq dan Santi.


Sehabis makan Ajat langsung tidur dia juga harus memanfaatkan waktunya untuk istirahat memang dia sangat kurang istirahat memikirkan Farouq.


“Mi, Mami sudah bangun?” kata Mischa ketika melihat Santi membuka mata. Mischa langsung menghampiri dan mencium tangan maminya. Dia naik ke tempat tidur dan menciumi pipi Santi.


“Kok Kakak nggak sekolah?” tanya Santi heran.


“Kakak kangen Mami,” jawab Mischa sambil memeluk Santi. Dia berupaya untuk tidak menangis walau itu akan sangat sulit. Tapi dia tak mau membuat Santi semakin sedih.


“Mami mau minum atau makan?” tanya Mischa berupaya terlihat ceria.


“Ini Mi, minum dulu susunya,” kata Mischa sambil memberikan satu botol kecil su5u kemasan.


“Bilang papi dulu suruh betulkan kemiringan tempat tidur, agar Mami bisa makan sendiri,” kata Santi. Rupanya Ajat masih tertidur. Dia terlalu lelah.


“Sebentar ya Mi. Aku bangunin papi dulu,” ucap Mischa. Dia pun lalu turun dan menuju bed penunggu pasien di rumah sakit tersebut.


“Pi, mami sudah bangun. Dia minta tempat tidurnya dibetulkan agar bisa makan salad sendiri. Mami nggak mau disuapin,” kata Mischa padahal papinya belum melek. Tapi anak kecil itu udah langsung bicara tanpa rem.


“Pi, bangun,” ucap Mischa sambil menggoyang lengan papinya.


“Kenapa?” tanya Ajat.


“Mami sudah bangun. Papi suruh betulin ranjangnya karena mami mau makan sendiri,” jawab Mischa.


“Oh mami sudah bangun. Ya ampun Papi ketiduran ya,” Ajat langsung melompat. Dia ingin merawat Santi dengan baik.


“Kenapa Mam? Apa yang mau dibetulin?” tanya Ajat lembut.


“Aku mau duduknya agak dibetulin Pi. Biar bisa makan salad sendiri,” jawab Santi.


“Sudah seperti biasa saja. Papi suapin ya,” kata Ajat dengan lembut.


Santi pun tak menolak, dia menerima apa yang disuapi oleh Ajat.


“Mi aku punya french fries loh. Mami mau?” kata Mischa.


“Ini aja belum abis Kak,” jawab Ajat.


“Sini, Kakak suapin Mami satu kentang pakai sambal,” jawab Santi. Dia tahu Mischa sedang cari perhatian darinya.


Ajat sadar telah salah jawab ketika Santi memberi kode dengan pandangan tajam padanya.