GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
LIBURAN SEKALIAN KULAKAN



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



 “Mengerti ya kesalahan kalian?” tanya Dinda.



“Ya Bu, saya kurang teliti di sini,” kata seorang staf baru yang memang sedang dididik oleh Sindhu dengan pengawasan ketat Dinda. Sekarang manager HRD dan manajer keuangan di awasi Dinda dan Shindu karena dua manager sudah sejak Dinda koma dulu memanfaatkan peluang mencuri sedikit demi sedikit dan semua sudah Dinda serahkan laporan ke team audit independent.



Bodohnya Utoro dan Rizaldy saat ketahuan tahun lalu mereka tak berubah karena Dinda langsung kabur akibat kasus Merrydian.



Keduanya tak berpikir Dinda akan kembali dan sekarang tak ada ampun dari Dinda.



Eddy bahkan Adit saja tak percaya dua orang yang sangat loyal berubah saat Dinda koma dan tak ada harapan hidup. Rupanya semua hanya takut pada Dinda bukan Eddy.



“Kamu kesalahannya di mana?” tanya Dinda pada yang lain.



“Kayaknya saya enggak salah Bu, tapi kenapa hasil akhirnya beda ya? Ini sedang saya teliti Bu.”



“Kamu terlalu lama kalau seperti itu. Kamu harus tajamkan intuisi, harus tetap langsung kelihatan.”



“Baik bu.”



Ada lima kandidat yang sedang di godog oleh Dinda dan mereka harus perempuan yang kuat dan kalau laki-laki juga harus benar-benar bisa memimpin. Dinda sendiri yang seleksi sejak terima berkas, test hingga pelatihan. Tak ada seleksi via HRD.



Sejak awal Shindu sudah memberitahu bagaimana karakter Dinda yang lurus dan keras tanpa kompromi.



Shindu juga memberi pagar batasan, jangan pernah usik Pak Adit kalau enggak kepengen dihajar Dinda. Dinda tidak cemburuan tapi dia selalu bertindak secara logika karena nanti bukan Adit atau perempuan itu yang terkena dampaknya semua akan terkena.



Dua kali kantor ditinggal Dinda gara-gara perempuan enggak benar. Shindu juga memberi info sekilas tentang bagaimana Shalimah anak angkat yang akhirnya dipenjara oleh Pak Eddy serta Merrydian yang terpuruk dan dibuang oleh keluarganya.



Shindu memberitahu bahwa pak Adit walau anak pak Eddy tapi tak punya harta jadi enggak usah iseng menggoda dengan berharap dapat lelaki tajir. Shindu juga memberitahu bu Dinda akan menyerahkan pak Adit sebagai suami, tapi dia mempertahankan pak Adit sebagai ayah anak-anaknya dan itu jangan main-main karena sebuah yayasan sudah berhasil Dinda hancurkan.



Jadi anak-anak baru ini walaupun masih gadis tidak akan berani macam-macam.



“Ingat kalian tidak boleh menggoda siapa pun yang punya suami di kantor ini, bukan hanya Pak Adit. Siapa pun yang punya suami atau pasangan di kantor ini tidak boleh kalian dekati. Kalau kalian tidak ingin masuk kubur.”




“Bagas besok Velove bisa bantu saya nggak?” tanya Dinda di lobby saat akan makan siang.



“Ada apa Bu?”



“Barusan saya dapat berita dari Bekasi barang dari Australia sudah ada yang datang karena baru tiga yang datang satunya belum sampai. Mungkin siang ini atau sore ini atau besok pagi. Saya mau unboxing, juga saya mau Velove ambil duluan. Dia kan pangsa pasarnya high class. Kali aja barang-barang branded itu lebih cepat laku,” Dinda menjelaskan mengapa dia ingin istri Bagas datang ke ruko miliknya.



“Wah Ibu di sana bukan hanya liburan tapi juga kulakan?” kata Bagas tak percaya otak bisnis boss nya ini.



“Ya iyalah, otak bisnisnya terus jalan. Liburan ke sana, sekalian belanja kan bagus.”



“Wah hebaaaat,” kata Bagas. Dia melihat foto-foto Adit dan Dinda saat bulan madu kedua. Juga foto Adit, Dinda dan anak-anak serta Pak Eddy.



Satu kantor sudah tahu bahwa satu keluarga pemilik perusahaan habis berlibur di Sydney karena si kembar ulang tahun. Jadi tak ada pesta atau apa pun. Hanya jalan-jalan satu keluarga untuk merayakan ulang tahun tersebut. Karena pesta buat anak-anak juga tidak ada artinya mereka belum ngerti.



“Baik Bu, mau jam berapa?” Tanya Bagas.



“Saya berangkat jam 8-an deh dari rumah, kan besok anak-anak libur sekolah jadi anak-anak saya bawa.”



“Baik Bu Kalau jam 8 dari rumah, sekitar jam 10.00 gitu ketemuannya?”



“Iya jam 10.00 aja. Bilang kalau saya minta dia datang jam 10.00.”



“Kenapa Ibu enggak telepon langsung?” tanya Bagas.



“Biar kamu ngobrol sama istrimu,” jawab Dinda dengan tersenyum usil.



“Beritahu dia secara langsung, jangan beritahu lewat pesan.”



“Baik Bu,” kata Bagas. Istrinya Bagas memang menjadi agen dari toko grosirnya Dinda.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER yok.