GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
PERTAMA ATAU KETIGA



“Tidak salah kan Dok?” kata Ajat dengan mata berbinar


“Dari hasil tes yang Bapak dan Ibu lakukan mandiri juga barusan Bapak dan Ibu lihat sendiri kan di layar monitor tentu saja ini tidak salah,” kata dokter. Dia melihat pasangan yang di depannya dengan mata berbinar-binar bahagia.


“Apa ini anak pertama?” tanya dokter karena dia penasaran sang suami sangat bahagia sekali.


"Iya Dok,” jawab Ajat.


“Tidak Dok ini, anak ketiga,” jawab Santi berbarengan dengan Ajat.


Dokter hanya bingung dia melihat wajah Ajat lalu melihat wajah Santi balik lagi ke Ajat begitu terus-menerus.


“Ini anak pertama dari istri saya ini Dok. Dua anak sebelumnya bukan anak dia tapi memang anak kami,” kata Ajat meralat ucapannya.


“Oh saya mengerti. Saya pikir tadi ini anak ketiga Ibu, tapi anak pertamanya Bapak. Ternyata terbalik ya.”


“Ya Dok. Ini anak pertama istri saya. Tapi dia memang seperti itu. Dua anak sebelumnya dia rasa adalah anak dia.”


“Itulah bedanya seorang ibu dan seorang ayah. Walau tidak semua ayah itu mudah melupakan anaknya. Tapi seorang Ibu walaupun anak kandungnya sekali pun bukan anak kandungnya, semua anak adalah anaknya,” kata dokter sambil tersenyum ramah. Padahal di dalam hatinya dia menangis. Dia sendiri mengambil spesialisasi kebidanan karena tak akan pernah bisa punya anak kandung.


Dan sedihnya dua orang istrinya hamil padahal dia tak mungkin punya anak. Pengkhiatan yang menyakitkan.


“Dulu Papi sama sekali nggak pernah nganterin mamanya Mischa dan bundanya Farouq waktu mereka periksa hamil?” tanya Santi


“Enggak. Enggak pernah tahu. Nggak pernah tanya umur kandungan berapa. Dan enggak antar waktu mau melahirkan!” jawab Ajat tanpa penyesalan atau rasa bersalah. Dia masih benci kedua wanita itu. Bukan benci pada anak-anaknya. Dulu dia benci Mischa dan Farouq. Tapi kini tidak lagi. Dengan Santi dia berubah. Dia memiliki cinta bagi kedua anaknya itu.


“Papi nggak pernah usap perut istri waktu lagi hamil?”


“Nggak pernah. Walau pernah satu kali mamanya Farouq minta, tapi Papi nggak mau, karena males Ajat lihatnya,” jawab Ajat.


“Kalau Papi melakukan itu pada Mami. Lebih baik nggak usah punya anak,” kata Santi.


“Ya enggaklah Mi.  Kan sudah Papi bilang, Papi ingin banget ngerasain punya istri hamil. Masa Papi nggak lakuin itu. Inget ya dia anak kita,” kata Ajat sambil mengelus-elus perut istrinya yang masih datar. Mereka sedang menunggu obat. Barusan Ajat menaruh resep di tempat penerimaan resep di apotek.


Ternyata sejak di family gathering cabangnya Wika kemarin, Santi sudah hamil. Dokter sudah menyarankan hari itu Santi tak boleh ikut berkegiatan apa pun sampai dapat kepastian dari dokter kandungan. Waktu itu dokter bilang melihat tanda-tanda dari denyut nadinya memang Santi hamil. Tapi tak ada test pack maupun alat lain sehingga dokter menyarankan pasangan itu memastikan ke obgyn. Itu sebabnya hari ini Santi ke ginekolog bersama suaminya untuk mendapat kepastian.


Sejak keluar dari ruang periksa memang tangan Ajat tak anti hentinya ada di perut Santi. Dia sangat bahagia padahal ini sudah anak ketiga buatnya. Benar-benar kehamilan Santi membawa perubahan sangat besar buat Ajat. Dia langsung menghubungi orang tuanya juga orang tua Santi. Dia yang sangat bahagia akan kehamilan istrinya.


Tentu saja Ibunya Ajat sangat bahagia terlebih dia baru tahu kabar itu langsung dari Ajat. Dulu Ajat tak pernah seperti ini dia mengabarkan kehamilan karena harus menikah tapi tak ada rona bahagia di suara maupun di wajah putranya itu.