
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Kok Papa belum tidur?” tanya Dinda pada Eddy yang masih duduk di ruang tengah.
“Bagaimana Papa bisa tidur kalian belum sampai rumah? Papa mau dengar hasil lengkap periksaanmu tadi,” kilah Eddy.
“Aku bawa mie goreng, Papa mau kita makan mie goreng bareng?” tanya Dinda.
“Eggak Papa cukup kenyang,” tolak Eddy.
“Kalau begitu aku siapin bakso pangsit aja ya Pa, kita paroan,” jawab Dinda.
“Nanti kita makan di sini aja sambil ngobrol,” Dinda berupaya mengulur waktu dulu.”
Dinda menyiapkan 2 mangkok bakso pangsit yang kuahnya dipisah karena dia dan Eddy sama-sama tak suka kuah di pangsit rebus mereka. Nanti akan diberi sedikit untuk campuran saus saja.
“Mas mau ikut makan bakso pangsit?” tanya Dinda pada Adit ketika suaminya menyusul ke dapur.
“Enggak yang Mas mau bersih-bersih badan dan ganti baju dulu aja. kamu siapin itu, nanti biar Mas yang bawa. Habis itu kamu ganti baju juga jadi kamu udah santai saat bicara dengan papa. Mas tahu kamu berat bicara kan?” Kata Adit lalu dia pun langsung ke kamar tidur mereka.
Selain bakso pangsit yang kuahnya sedang dipanaskan, Dinda juga menyiapkan teh panas untuk mereka bertiga, teh dengan madu diberi sedikit perasan jeruk nipis sehingga segar.
Sesudah itu Dinda segera ke kamar untuk membersihkan diri dan ganti baju, Adit membawa keluar semua yang telah disiapkan Dinda.
“Jadi bagaimana tanya Eddy?” sambil mengaduk sedikit saus sambal dalam mangkok untuk dia makan dengan bakso pangsit.
“Aku bingung mau cerita, tapi jujur aku minta Papa support aku karena tanpa Papa aku enggak kuat Pa,” kata Dinda.
“Aku enggak pernah campakin Dinda Pa,” protes Adit pelan.
“Haalaaah, pokoknya kenyataannya seperti itu. Kamu lebih mikir jalan-jalan dengan Shalimah dan anak bohonganmu tanpa mikirin istri kamu di rumah,” balas Eddy ketus. Dia paling marah kalau ingat hal itu.
“Sudah Pa, enggak usah bahas itu. Aku sangat malu kalau ingat itu. peristiwa itu kesalahanku yang paling kelam. Aku sudah paham. Mohon jangan bahas itu lagi. Aku tahu itu kesalahanku, enggak bisa aku hapus tapi jangan di baca terus,” ucap Adit penuh penyesalan.
“Ya Pa, aku setuju dengan mas Adit. Sudahlah, aku juga sangat kesal kalau ingat itu. Tapi mau diapain itu sudah terjadi.” kata Dinda.
Dinda setuju dengan pendapat Adit. Masa lalu itu sudah tertulis tak bisa dihapus, tapi tak perlu dibaca ulang berkali-kali karena hanya akan menikam kalbu.
“Kita kembali ke hasil pemeriksaan aja ya Pa,” Kata Adit.
“Seperti yang tadi Dinda bilang, kami semua minta support Papa karena support Papa itu yang paling penting bagi kami.”
“Sebagai pemilik rumah dan sebagai majikan dari semua pegawai di sini kami juga minta Papa memberi perintah langsung agar semua pegawai mensupport Dinda. Kalau kami yang bilang enggak enak kami di sini hanya anak dari pemilik rumah. Walau tanpa dibilang atau disuruh aku yakin semua pekerja akan mensupport Dinda begitu mengetahui kondisi Dinda yang sebenarnya. Tapi tetaplah formalitas itu penting.”
“Kalau support pegawai kantor atau usaha Dinda nanti kami akan bicara face to face dengan orang yang berkaitan dengan kami secara langsung di kantor. Orang yang biasa bersinggungan misalnya kayak five little star, Shindu, Bagas,lalu mungkin juga Puspa, Velove dan sebagainya itu akan kami beri face to face aja.”
“Ya sudah nggak usah panjang lebar, sekarang apa support yang harus Papa kasih dan apa hasil pemeriksaannya. Itu aja kasih tahu. Papa sudah enggak sabar,” kata Eddy yang jadi lancar bicara karena kepedesan.
Ya sudah kakek Eddy, minum teh madu plus jeruk nipisnya aja sama eyang yuk sambil nungguin Mbak Dinda nya ngabisin bakso pangsit yang dia makan.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok.