
Adit dan Dinda sudah mulai menyiapkan materi untuk membuat perusahaan baru mereka tidak membuat satu persatu tapi membuat 5 sekaligus.
Lima anak perusahaan yang nantinya akan langsung dipegang oleh five little star di bawah pengawasan Dinda tentunya. Sebenarnya itu hanya kantor cabang kecil tapi mumpung anak-anak masih SD itu harus dirintis sejak dini. Jadi sekarang Dinda dan Adit memiliki satu kantor pusat dan 5 kantor cabang.
“Saya rasanya belum pantas memimpin cabang Bu,” tampik Fahrul. Hari ini semua diundang meeting di ruang Dinda yang kedap suara.
“Saya mempersiapkan kalian dari nol untuk tugas ini. Kalau sekarang kamu bilang belum siap, lalu saya harus rekrut siapa lagi? Saya harus mulai dari nol lagi?” tanya Dinda tersenyum kecil. Dia tahu Fahrul hanya tak percaya diri saja.
“Seharusnya jangan pernah bilang tidak bisa sebelum mencoba,” kata Eddy memberi semangat.
“Benar Pak. Saya siap,” kata Ajeng.
“Tuh harus seperti itu anaknya Bu Dinda. Ibunya siap anaknya juga semua siap. Kalian enggak sendirian kok. Kalian tetap di bawah saya dan pak Shindu juga Pak Adit. Sehingga kalian masih bisa tetap diskusi dengan kami.” tegas Dinda.
“Setiap satu bulan sekali kita akan tetap meeting membahas semua kinerja kalian di kantor cabang.”
“Ajeng siap ya pisan sama Pak Shindu?” tanya Dinda.
“Siap Bu, kalau cuma bisa kantor sih,” jawab Shindu lebih dulu dari Ajeng.
“Asal jangan pisah di hati Bu,” timpal Ajeng melengkapi kata-kata tunangannya.
“Ciee … ciee,” goda yang lainnya.
Shindu memberikan satu map kepada Dinda. Tak ada yang tahu isi map itu, termasuk Ajeng. Itu semua godogan Adit, Eddy, Shindu dan Dinda.
“Saya akan bagikan SK kalian. Sudah ada nama dan cabang yang kalian pimpin. Kalian akan mulai merekrut pegawai inti dulu. Ingat perekrutan kamu urus sendiri, jangan memberikan pada orang lain dulu agar bisa melihat siapa yang bisa kerja dibawah kamu.”
“Kalian bisa bawa orang sini, bisa bawa yang lainnya dari iklan lowongan kerja atau dari saudara sendiri. Tapi Fahrul kamu jangan bawa marketing pacar kamu itu, agar kamu kerja benar-benar fokus buat membuka cabang.”
“Baik Bu.”
“Kalian pernah dengar istilah Jawa. MBABAT ALAS atau menebangi pohon untuk membuka hutan. Jadi tugas kalian memang mengawali dari nol.”
“Kalian lah yang meletakkan batu pertama di kantor cabang nanti. Sekarang setiap kantor cabang baru ada office boy dan satpam saja. Semuanya nanti kalian yang bentuk. Kalau sarana sudah lengkap,” kata Adit.
“Baik Pak Adit, kami mengerti.”
“Ingat ya, komando di tangan Bu Dinda bukan di tangan saya atau di tangan Pak Eddy. Saya dan Pak Eddy hanya membantu Bu Dinda. Semua keputusan dan semua kebijakan ada di tangan Bu Dinda. Kita tidak boleh dua kapten,” kata Adit lagi.
“Baik Pak, saya mengerti.”
“Besok hari Jumat dan Sabtu saya akan buka lowongan agar pelamar datang hari Senin. Nanti semua kepala cabang merekrut sendiri pegawai yang hendak di pilih. Upayakan yang domisili dekat dengan kantor cabang,” Shindu memberi arahan.
“Saya sudah memberi pengumuman pada semua kepala divisi untuk menawarkan karyawan yang hendak mutasi ke kantor cabang. Besok Jumat data yang minta mutasi agar dekat dengan rumah tinggal mereka sudah ada di masing-masing calon kepala cabang. Sehingga hari Senin kalian tinggal cari sisa kekurangan pegawai saja.”
“Baik pak Shindu,” jawab ke 5 calon kepala cabang itu.
Eddy bahagia Dinda mulai merintis usaha bagi ke enam cucunya. % kantor cabang itu nanti milik 5 cucu lelakinya dan Biya cucu perempuan yang akan pegang kantor yang sekarang dipimpin Dinda.