GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BUKAN ASAL SEKOLAHAN



“Bagaimana dengan sekolah barumu Kak? Ada kesulitan nggak?” tanya Santi saat mereka bertiga makan malam di meja makan kecil hanya berisi 6 orang saja. Tak seperti meja makan di rumah lama yang besar dan muat untuk lebih dari 12 orang dan biasa hanya digunakan satu sudut saja karena terlalu besar.


Sudah satu minggu putrinya sekolah di yayasan yang sama dengan anak-anaknya Dinda tentu saja dia ada di kelas normal tidak di kelas akselerasi seperti Ghibran dan Ghifari mereka sama-sama umur 11 tahun, tapi Mischa sekarang di kelas 6 sedang Ghibran dan Ghifari ada di kelas 8 dan akan ujian SMP.


“Nyaman kok Mi. Nyaman nggak ada yang jahat atau nakal. Semua tidak memandang aku lemah. Mereka tahu aku dari sekolah biasa, bukan sekolah seperti mereka. Dan mereka banyak membantu. Terlebih karena hari-hari awal aku selalu ditemani Kak Biyya.


“Seharusnya kamu nggak manggil dia KAK,  kan dia itu baru umur berapa 8 tahun, walaupun dia sudah kelas 5 SD,” ujar Santi.


“Nggak apa, semua juga di sekolah panggil dia Kak. Dan enggak ada yang berani nakalin aku karena aku ternyata diakui sebagai kakak sepupunya dia.” ucap Mischa.


“Semua takut sama kak Biyya. Rupanya keahlian Kak Biyya itu lebih tinggi daripada keahlian Fari dan Iban.”


“Anak Papi ini aneh ya. Panggil Fari dan Iban nggak pakai abang atau kakak atau mas, tapi panggil Biyya pakai kak. Padahal Biyya jauh lebih muda usianya di bandingin Fari dan Iban,” Ajat ikut nimbrung dalam obrolan hangat itu.


“Sudah Pi, pokoknya nggak usah protes. Aku nyaman panggil dia Kak,” kata Mischa sambil menambah perkedel tahu dalam piringnya.


“Terus bagaimana les tambahanmu?” tanya Ajat. Suatu kemajuan sikap dari lelaki itu. Dulu boro-boro dia tahu soal sekolah anak-anaknya.


“Alhamdulillah lancar koq Pi,” balas Mischa.


“Guru-guru membantu dengan pelan sesuai dengan kemampuanku menangkap materi. Mereka tidak memaksakan kehendak jadi kalau aku bisa cepat menyesuaikan diri aku akan lebih cepat maju ke materi selanjutnya. Tidak ada tekanan sama sekali. Pokoknya sekolahnya enak banget. Coba dari dulu Papi masukin aku ke sekolah seperti itu. Bukan sekolah yang enin daftarkan dulu.”


Mama Ajat berprinsip yang penting sekolah dekat rumah. Tak peduli itu sekolah bagus atau tidak. Yang penting anak-anaknya sekolah. Masih bagus ada yang perhatikan. Begitu prinsip eninnya. Jauh perhatian yang diberikan neneknya atau ibunda Santi, yang memang sangat memperhatikan cucunya, walaupun bukan cucu kandung.


Orang tua Ajat sayang, tapi tidak gemati kalau kata orang Jawa. Tidak memperhatikan, yang penting tidak membenci atau memarahi, itu saja.


‘Untung saja aku bertemu Santi, sehingga anakku masih bisa tertolong, walau hanya tinggal satu yang tersisa dari masa laluku. Yang penting karena anak-anak lah aku bisa bertemu dengan Santi,’ batin Ajat sambil membersihkan duri ikan lalu dia letakkan di piring Santi yang di terima dengan senyuman.


“Kakak ikannya mau tambah?” tanya Ajat.


“Enggak Pi, aku sudah ikannya. Aku mau tambah bakso saja,” jawab Mischa.


“Ya sudah sekarang ada PR atau enggak Kak?” tanya Santi.


“Mami lupa ya di sekolah itu kan nggak ada PR sama sekali Mi. Tidak boleh ada PR. Kami benar-benar hanya belajar di sekolah saja. Paling teacher atau miss dan mister bilang kita ulangi pelajaran di rumah. Tetapi tidak ada PR. Kita hanya diminta mempelajari yang tadi diberikan oleh miss atau mister lalu mempelajari juga bab berikutnya agar besok saat diterangkan kita tidak terlalu nol besar. Kita sudah bisa membayangkan apa yang akan diberikan oleh teacher.”


“Aduh Mami masih kuno ya. Mami lupa sekolah kamu itu nggak boleh ada PR. Nggak boleh membebani anak-anak dengan pekerjaan rumah. Maaf ya Mami belum terbiasa. Tapi kalau kamu ada kesulitan di sekolah kamu tanya Mami dan Papi juga tanya dengan teacher. Jangan cari sendiri nanti malah tidak tahu apa yang kamu inginkan.”


Santi sudah mengatur sedemikian rupa agar yang bisa di search anak-anak di laptopnya hanya situs-situs tertentu. Dia juga memberikan YouTube kids untuk Mischa sehingga tidak bisa melihat hal-hal buruk dari internet.